Tarian Serigala

Sebagian bintang terpanas yang juga bintang-bintang terbesar di alam semesta, adalah bintang Wolf-Rayet. Seperti Serigala Jahat Besar dalam dongeng, bintang-bintang ini juga mengehembuskan nafas berat mengandung gas panas yang sangat kencang.

Sepasang bintang ganda Wolf-Rayet dan awan debu berbentuk kincir spiral. Kredit: ESO/Callingham et al.
Sepasang bintang ganda Wolf-Rayet dan awan debu berbentuk kincir spiral. Kredit: ESO/Callingham et al.

Ketika dua bintang Wolf-Rayet bersama-sama, mereka menghasilkan angin yang sangat kencang dan terciptalah badai super. Badai ini jauh lebih kuat dari badai manapun yang ada di Bumi. Akibat badai, terbentuklah awan debu raksasa.

Awan debu memang umum kita temui di alam semesta. Tapi, awan debu berbentuk kincir spiral belum pernah ada sebelumnya. Awan debu seperti ini terbentuk ketika dua bintang Wolf-Rayet saling mengorbit satu sama lainnya.

Saat kedua bintang berdansa, salah satu bintang bergerak jauh lebih cepat dari pasangannya. Karena terlalu cepat, bintang ini hampir mengoyak dirinya sendiri! Ini menarik karena pada tahap akhir kehidupannya, bintang Wolf-Rayet akan meledak dalam ledakan supernova yang sangat dasyat.

Ketika bintang berotasi cepat saat meledak, kematiannya akan menjadi ledakan energetik paling dasyat di alam semesta. Ledakan seperti itu kita kenal sebagai Ledakan Sinar Gamma.

Ledakan sinar gamma adalah ledakan berenergi yang paling terang di alam semesta. Jika ada ledakan seperti itu dekat Bumi, dalam waktu sangat singkat planet kita sudah hangus terpanggang.

Untungnya, ledakan sinar Gamma yang sudah kita amati sampai saat ini berada di galaksi jauh. Meskipun berada di galaksi jauh, ledakan sinar gamma tersebut cukup terang untuk bisa diamati dari Bumi. Kita juga bisa melihat ledakan sinar gamma di galaksi kita ketika pasangan Wolf-Rayet rotasi cepat yang baru ditemukan ini menghasilkan ledakan sinar gamma pertama di Bima Sakti!

Fakta Keren:

Di dalam awan yang berputar di sekeliling kedua bintang Wolf-Rayet, kecepatan anginnya 12 juta kilometer per jam. Itu 40.000 kali lebih cepat dari kecepatan angin topan terkuat di Bumi.

[divider_line]
Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...