Berburu Hujan Meteor Lyrid 2018

Akan ada hujan meteor Lyrid yang bisa menemanimu menghabiskan malam minggumu pekan ini. Hujan meteor Lyrid merupakan salah satu hujan meteor tahunan yang bisa kamu amati setiap tanggal 14 April sampai 30 April. Pada tahun 2018, menurut Organisasi Meteor Internasional, puncak hujan meteor Lyrid akan terjadi tanggal 22 April 2018 pukul 18:00 UT atau tanggal 23 April 2018 pukul 01:00 WIB dini hari.

Hujan meteor Lyrid tanggal 22 April pukul 00:00 WIB. Hujan meteor ini bisa diamati sampai jelang fajar. Kredit: Star Walk
Hujan meteor Lyrid tanggal 22 April pukul 00:00 WIB. Hujan meteor ini bisa diamati sampai jelang fajar. Kredit: Star Walk

Meskipun demikian, puncak hujan meteor Lyrid sudah bisa diamati sejak tanggal 22 April dini hari dan bisa dilanjutkan tanggal 23 April dini hari. Atraksi lintasan bintang jatuh yang menghiasi langit malam jika cerah itu akan tampak datang dari rasi bintang Lyra, konstelasi berbentuk alat musik petik. Arah datang hujan meteor Lyrid jika diamati di langit malam akan tampak berada di arah timur rasi Herkules, tidak jauh dari bintang terang Vega atau alpha Lyra.

Para pengamat di Indonesia juga bisa mengamati hujan meteor Lyrid yang bergerak dengan kecepatan 49 km/detik. Untuk yang ingin berburu meteor Lyrid, waktu terbaik untuk mengamati adalah tengah malam sampai jelang fajar.  Rasi Lyra terbit pukul 22:09 WIB dan bisa diamati di arah timur laut.

Untuk bisa menemukan hujan meteor Lyrid, arahkan pandangan ke langit, tepatnya ke arah timur laut dan carilah segitiga musim panas (Vega, Deneb & Altair). Deneb adalah bintang paling cerlang pada rasi Cygnus, Altair pada rasi Aquila dan pusatkan perhatian Vega, bintang paling terang pada rasi Lyra. Dari arah rasi Lyra inilah akan tampak berkas sinar berseliweran dengan cepat. Itulah hujan meteor Lyrid.

Tunggulah sampai tengah malam saat rasi Lyra yang jadi arah datang hujan meteor Lyrid sudah cukup tinggi (~30º) di langit malam dan bisa diamati dengan lebih mudah. Pengamatan bisa dilakukan sampai saat fajar menyingsing dan saat itu rasi Lyra sudah berada tinggi di arah utara.

Keuntungan lainnya, Bulan sedang memasuki fase perbani awal dan terbenam tengah malam. Karena itu, pengamatan hujan meteor Lyrid akan bebas dari cahaya Bulan. Apalagi hujan meteor Lyrid memiliki kemungkinan untuk menghasilkan bola api atau meteor yang sangat terang seperti Bulan Purnama. Selain hujan meteor Lyrid, pengamat juga bisa mengamati Saturnus dan Mars yang terbit pukul 22:14 WIB dan 22:59 WIB sampai fajar menyingsing.

Asal usul Hujan Meteor Lyrid

Hujan meteor Lyrid merupakan partikel komet C/1861 G1 (Thatcher), komet periode panjang yang mengelilingi Matahari setiap 415 tahun. Komet Thatcher terakhir kali berpapasan dengan Bumi pada tanggal 5 Mei 1861 saat menuju perihelion. Komet ini berada pada jarak terdekat dengan Matahari terakhir kali pada tanggal 3 Juni 1861.

Hujan meteor Lyrid pertama kali dicatat saat Zuo Zhuan dari China melakukan pengamatan pada tanggal 22 Mei 687 SM. Menurut Zuo Zhuan, “di hari xin mao bulan ke-4 di musim panas (pada tahun ke-7 Raja Zhuang dari Lu), di malam hari bintang tidak tampak, dan di tengah malam bintang jatuh laksana hujan”. Zuo Zhuan memberi julukan “Stars feels like rain” untuk hujan meteor Lyrid.

Meskipun saat ini laju hujan meteor Lyrid semakin semakin menurun dan yang bisa dilihat hanya berkisar 10-20 meteor per jam saat puncak, ledakan laju hujan meteor Lyrid pernah terjadi pada tahun 1803, 1862, 1922, dan 1982. Pada tanggal 21 April 1922, laju hujan meteor Lyrid yang dicatat H. N. Russell (Yunani) mencapai 96 meteor per jam. Intensitas laju meteor yang cukup besar kembali terjadi 22 April 1945 saat  Koziro Komaki (Nippon Meteor Society, Jepang) melihat 112 meteor dalam 67 menit dan  beberapa pengamat di Florida dan Colorado mencatat laju 90-100 tanggal 22 April 1982. Diperkirakan ledakan laju hujan meteor Lyrid berikutnya akan terjadi pada kisaran tahun 2042 saat Bumi melintas sisa debu komet Thatcher.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.