Hujan Meteor Quadrantid 2018

Hujan meteor Quadrantid kembali membuka rangkaian hujan meteor tahunan yang akan menyemarakan tahun 2018. Puncak hujan meteor Quadrantid terjadi tanggal 4 Januari dini hari dan tentu saja bisa diamati dari Indonesia.

Hujan meteor Quadrantid 4 Januari 2018 pukul 04:00 WIB. Kredit: Star Walk
Hujan meteor Quadrantid 4 Januari 2018 pukul 04:00 WIB. Kredit: Star Walk

Quadrantid termasuk hujan meteor yang bisa menghasilkan setidaknya 100 – 120 meteor per jam. Akan tetapi untuk tahun 2018, diperkirakan saat puncak hujan meteor pengamat hanya bisa melihat ~40 meteor per jam yang bergerak dengan kecepatan 42,2 km/detik. Penyebabnya, tentu saja cahaya Bulan yang menjadi polusi cahaya alami bagi pengamatan. Bulan baru melewati fase Purnama tanggal 2 Januari dan tentu saja Bulan masih dalam keadaan cembung besar sehingga cahaya yang dipantulkan pun masih dominan atau sekitar 99%.

Pengamatan Hujan Meteor Quadrantid

Puncak hujan meteor Quadrantid berlangsung tanggal 4 Januari 2018 pukul 04:00 WIB dini hari. Meskipun demikian, hujan meteor yang satu ini sudah berlangsung sejak 22 Desember dan baru akan berakhir 17 Januari. Quadrantid akan tampak muncul dari rasi Bootes yang terbit pukul 03:00 WIB di arah timur laut. Matahari terbit sekitar pukul 05:30 WIB. Karena itu pengamat hanya punya rentang waktu yang pendek untuk berburu Quadrantid. Tapi bukan tidak mungkin.

Hujan meteor Quadrantid bisa dinikmati pengamat di area tropis di selatan ekuator meskipun tidak sebaik pengamat di Utara dan banyaknya meteor yang bisa diamati juga lebih sedikit.
Berbeda dengan hujan meteor lainnya, puncak hujan meteor Quadrantid hanya terjadi beberapa jam (~ 8 jam) dan hujan meteor yang satu ini tergolong redup sehingga dibutuhkan kondisi yang sangat sangat baik bagi pengamat untuk bisa menikmatinya.

Jadi kita punya beberapa kendala.

Polusi cahaya dari Bulan cembung besar, rasi Bootes yang masih rendah di horison, meteor yang redup, dan Matahari yang akan segera terbit!

Untuk berburu hujan meteor Quadrantid sebaiknya dilakukan dari area yang bebas polusi cahaya artifisial dan area ufuknya tidak banyak penghalang seperti gedung. Jika sudah menemukan lokasi yang tepat, sekarang giliran mencari arah datang Quadrantid. Dalam peta bintang modern, Quadrantid akan tampak di area pertemuan rasi Bootes, Hercules dan Draco atau tak jauh dari asterisme Gayung Besar.

Selain Quadrantid, pengamat juga akan disuguhi kehadiran Mars dan Jupiter yang terbit beriringan sejak pukul 01:42 WIB dan 01:48 WIB.

Sekilas Asal Usul Quadrantid

Hujan meteor Quadrantid mulai diamati pada tanggal 2 Januari 1825 oleh Antonio Brucalassi (Italia). Selain Antonio, kehadiran hujan meteor Quadrantid juga dilaporkan oleh Louis Francois Wartmann (Swiss) tanggal 2 Januari 1835 dan M. Reynier (Swiss) pada tanggal 2 Januari 1838. Akan tetapi, baru di tahun 1839, hujan meteor Quadrantid dipastikan sebagai hujan meteor tahunan saat  Adolphe Quetelet (Brussels Observatory, Belgia) dan Edward C. Herrick (Connecticut) melakukan pengamatan.

Setelah itu, hujan meteor yang mengawali tahun masehi ini pun dinamai Quadrantid. Agak aneh karena hujan meteor ini tampak datang dari rasi bootes.  Nama Quadrantid digunakan karena saat pertama kali diamati, hujan meteor ini tampak datang dari rasi kuno Quadrans Muralis. Rasi bintang ini bisa ditemukan di atlas bintang awal abad ke-19 di antara rasi Draco, Hercules dan Bootes.

Rasi Quadrans Muralis kemudian ditiadakan dari peta bintang, bersama dengan beberapa konstelasi lainnya di tahun 1922 saat International Astronomical Union (IAU) mengadopsi 88 rasi untuk dimasukan dalam peta bintang modern.  Quadrantid kemudian “direlokasi” ke konstelasi Bootes setelah Quadrans Muralis tiada. Akan tetapi nama Quadrantid tetap dipertahankan karena  ada hujan meteor lainnya di bulan Januari yang diberi nama hujan meteor Bootids.

Pada tahun 1864, Alexander Stewart Herschel dari Inggris melakukan pengamatan Hujan Meteor Quadrantid dan berhasil melihat hujan meteor tersebut dengan laju yang cukup tinggi yakni 60 meteor.

Sampai dengan tahun 2003, belum diketahui dengan pasti asal usul meteor Quadrantid. Pada tahun yang sama, Peter Jenniskens dari NASA menemukan bukti kalau meteor Quadrantid ini berasal dari 2003 EH1, asteroid yang hancur sekitar 500 tahun lalu. Orbit Bumi berpotongan tegak lurus dengan orbit 2003 EH 1, yang artinya Bumi akan bergerak cepat melewati puing-puingnya. Akibatnya hujan meteornya menjadi sangat singkat. Selain 2003 EH1, komet 96P/Machholtz juga diduga memiliki keterkaitan dengan hujan meteor Quadrantid.

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

1 thought on “Hujan Meteor Quadrantid 2018

Tulis komentar dan diskusi...