Hujan Meteor Geminid 2016 di Balik Cahaya Purnama Perigee

Mari kita akhiri tahun 2016 dengan pengamatan hujan meteor Geminid. Puncak hujan meteornya terjadi tanggal 13 – 14 Desember 2016.

Tulisan ini memang agak terlambat karena ada gangguan di situs langitselatan sejak seminggu yang lalu. Tapi, masih ada kesempatan untuk menikmati puncak hujan meteor Geminid malam ini, 14 Desember 2016 dan dilanjutkan dengan Geminid setelah melewati malam puncak sampai tanggal 16 Desember 2016. Mungkin tidak banyak yang tampak setelah malam puncak, tapi bukan berarti tidak ada.

Hujan Meteor Geminid yang tampak pada tanggal 14 Desember 2016 pukul 20:36 WIB. Kredit: Star Walk
Hujan Meteor Geminid yang tampak pada tanggal 14 Desember 2016 pukul 20:36 WIB. Kredit: Star Walk

Jadi jangan lewatkan, meskipun Bulan Purnama Perigee akan jadi faktor utama polusi cahaya di langit malam. Kalau tidak beruntung melihat hujan meteor Geminid karena cahaya Bulan yang terlalu terang, kamu masih bisa menikmati kehadiran Bulan Purnama.

Seperti halnya hujan meteor tahunan lainnya, hujan meteor Geminid juga tetap setia berpapasan dengan Bumi setiap tanggal 4 – 17 Desember. Di malam puncak, hujan meteor Geminid bisa memberi pertunjukkan sampai 120 meteor per jam dengan kecepatan 35 km/detik.  Hujan meteor Geminid berasal dari sisa pecahan 3200 Phaethon yang diperkirakan merupakan sebuah asteroid yang sudah punah. Bumi yang melintas dalam aliran puing-puing 3200 Phaethon setiap tahun pada pertengahan Desember akan menyebabkan puing-puing itu terbang dari rasi Gemini. Tepatnya di dekat bintang terang Castor dan Pollux.

Meteor Geminid pertama kali terlihat pada akhir abad ke-19, tak lama setelah perang sipil di Amerika berakhir. Pada saat pertama muncul, hujan meteornya masih lemah dan tidak terlalu menarik perhatian. Pada saat itu debu yang masuk atmosfer Bumi itu hanya bergerak dengan kecepatan 130000 km/jam. Di masa itu, sama sekali tak nampak kalau hujan meteor ini akan berlangsung setiap tahun. Yang menarik, saat ini hujan meteor Geminid merupakan salah satu hujan meteor yang cukup kuat dan menarik perhatian para pengamat. Bahkan ia semakin kuat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh gravitasi Jupiter yang berlaku pada aliran puing-puing Phaethon dan menyebabkan mereka bergeser mendekati orbit Bumi. Meteor Geminid sendiri masih tergolong meteor dengan kecepatan menengah pada kisaran 35 km / detik, sehingga akan mudah dikenali di bentangan langit malam.

Bagaimana menemukan hujan meteor ini?

Seperti namanya, kamu bisa menemukan hujan meteor Geminid muncul dari rasi kembar Gemini. Rasi Gemini sudah bisa diamati di ufuk timur sejak pukul 19:00 WIB saat ia terbit di timur. Sepanjang malam, rasi Gemini akan tampak melintasi langit dari timur ke barat. Hujan meteor bisa disaksikan mulai dari terbitnya Gemini sampai rasi kembar ini terbenam di ufuk barat.

Tapi, ada masalah lain. Selain musim hujan di sebagian wilayah Indonesia yang jadi tantangan untuk berburu meteor, Bulan yang mencapai fase purnama juga jadi catatan tersendiri. Cahaya yang dipantulkan Bulan saat purnama menjadi polusi cahaya alami di malam hari yang menghalangi kita melihat obyek-obyek redup.

Selain sedang berada dalam fase purnama, Bulan juga baru saja meninggalkan jarak terdekatnya dengan Bumi. Dengan kata lain, Bulan purnama Desember merupakan Bulan Purnama Perigee dan akan tampak lebih terang dan lebih besar dari biasanya. Jika dibandingkan dengan bulan purnama saat bulan berada pada jarak terjauh dari Bumi (apogee), Bulan Purnama Perigee akan tampak 14% lebih besar dan 30% lebih terang. Tapi, jika dibandingkan dengan Bulan Purnama di bulan November, maka Bulan Purnama 14 Desember 2016 akan tampak 0,82% lebih kecil. Bisakah kita melihat perbedaannya?

Lagi-lagi jawabannya tidak.

Jadi mari kita nikmati kehadiran Hujan Meteor Geminid dan Bulan Purnama Perigee di penghujung tahun 2016. Selain berburu meteor di lokasi yang jauh dari polusi cahaya lampu kota, pengamat juga bisa menikmati kehadiran planet Mars, Venus, Jupiter.

Saat Matahari terbenam, di ufuk barat, pengamat bisa menemukan Venus dan Mars. Kedua planet akan terbenam pukul 21:09 WIB dan 22:17 WIB.

Di timur, ada Bulan yang baru terbit pukul 18:23 WIB di rasi Orion si pemburu. Dan disusul oleh rasi Geminid yang jadi arah datang hujan meteor Geminid.  Lewat tengah malam, atau pukul 01:26 WIB, planet terbesar di Tata Surya, Jupiter akan terbit di ufuk timur dan bisa diamati sampai jelang fajar.

Clear Skies!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...