fbpx
langitselatan
Beranda » Ekspedisi Kandidat Situs Observatorium Nasional di Kupang, NTT

Ekspedisi Kandidat Situs Observatorium Nasional di Kupang, NTT

Beberapa tahun silam, Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung telah menginisiasi pembangunan observatorium baru di wilayah Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Fatumonas, Kabupaten Kupang.

Pada tahun 2014, LAPAN bergabung dan turut serta dalam proses pembangunan observatorium nasional yang direncanakan akan memakan biaya sekitar 300 milyar. Observatorium di Kupang nantinya akan lebih besar daripada Observatorium Bosscha dan dilengkapi peralatan yang lebih canggih. Salah satu faktor pendorong pembangunan tersebut adalah ancaman polusi cahaya yang semakin marak di sekitar Observatorium Bosscha, akibat ledakan penduduk di daerah Lembang (Gambar 1). Lokasi Kupang dipilih karena penduduknya masih sedikit sehingga tidak banyak polusi cahaya, juga karena daerah Kupang tergolong kering sehingga memiliki potensi kecerahan langit yang lebih tinggi dibandingkan Bandung.

Gambar 1. Ancaman polusi cahaya yang semakin meningkat dari setiap tahunnya. Kredit: Observatorium Bosscha

Pada tanggal 9-14 Desember 2014 lalu, Tim Pusat Sains Antariksa LAPAN bersama Tim Universitas Cendana (Undana) menuju lokasi yang diusulkan menjadi situs observatorium, yang terletak di wilayah kecamatan Amfoang Tengah, Desa Fatumonas, Kabupaten Kupang. Perjalanan dilakukan melalui jalur darat dan ditempuh selama kurang lebih enam jam perjalanan. Tim diterima oleh Bapak Camat Amfoang Tengah, yaitu Bapak Apolos Natbais, SP, dan menginap di Kantor Kecamatan Amfoang Tengah selama kunjungan Adapun lokasi situs yang diusulkan memiliki koordinat 9º 35′ 49″ LS dan 123º 56′ 42″ BT.

Gambar 2. Kondisi jalan menuju lokasi kandidat observatorium pada saat musim hujan (banyak longsor).
Gambar 2. Kondisi jalan menuju lokasi kandidat observatorium pada saat musim hujan (banyak longsor). Kredit: LAPAN

Lokasi situs berada di wilayah lindung, sekitar 125 km dari kota Kupang, dengan akses jalan yang tidak terpelihara, menyebabkan perjalanan menggunakan kendaraan yang dirancang khusus untuk perjalanan off-road  memakan waktu cukup lama. Dari kantor kecamatan menuju lokasi situs, perjalanan menjadi lebih rumit karena ada beberapa titik jalan longsor (Gambar 2), sehingga tim berganti kendaraan menjadi menggunakan sepeda motor. Meskipun demikian, sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi pemandangan padang rumput yang indah (Gambar 3). Karena tidak memungkinkan untuk membawa peralatan teleskop dalam perjalanan tersebut, di lokasi hanya dilakukan peninjauan kondisi geografis, sedangkan pengamatan malam dilakukan di depan rumah Pak Camat. Pada kegiatan tersebut, pihak Undana melakukan pengukuran geomagnetik di lokasi situs.

Gambar 3. Hamparan padang rumput yang luas dengan kuda, rusa, sapi, dan hewan liar lain sepanjang perjalanan menuju lokasi. Kredit: LAPAN

Berdasarkan hasil peninjauan lokasi situs (Gambar 4), maka untuk kegiatan selanjutnya perlu dipertimbangkan transportasi cadangan seperti sepeda motor, terutama ketika musim hujan dan longsor. Untuk mengangkut alat berat, juga perlu dipikirkan transportasinya, seperti helikopter.

Gambar 4. Foto tim LAPAN, Undana, dan beberapa warga yang mengantarkan tim ke lokasi menggunakan motor. Kredit: LAPAN

Mengingat kondisi jalan yang hampir mustahil dilalui kendaraan berat, untuk merintis pengangkutan peralatan pertama yang dapat ditempatkan di lokasi, disarankan penggunaan kontainer yang telah dimodifikasi, berisi sumber daya listrik (baterai dan sel surya). Seperti yang telah disebutkan di atas, kontainer ini bisa diangkut oleh helikopter menuju lokasi observatorium nasional.  Komunikasi satelit menggunakan piringan satelit untuk kontrol peralatan dan transfer data serta peralatan pengamatan yang memiliki kemampuan untuk dikontrol secara jarak jauh (misalnya: meteor kamera).

Gambar 5. Kondisi lereng menuju puncak Gunung Timau yang penuh bebatuan dan berbahaya untuk dipijak. Kredit: LAPAN

Tim LAPAN telah meninjau puncak gunung Timau, dan diperoleh hasil bahwa jalan menuju puncak dan puncak gunungnya sendiri terdiri atas batu-batuan lepas dan lahannya sangat miring dan sempit serta dikelilingi jurang. (Gambar 4 dan 5).

Gambar 6. Tim LAPAN ditemani penduduk lokal di Puncak Timau. Kredit: LAPAN

Observasi di sekitar puncak gunung Timau menunjukkan luas lahan di puncak sangat terbatas untuk rencana pembangunan teleskop optik. Akses dari lokasi observatorium nasional hingga ke puncak gunung dapat menggunakan cable car. Selain itu, pembangunan sistem komunikasi di sana merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan, mengingat minimnya sinyal provider umum. Ke depannya, mungkin dapat dipertimbangkan pembangunan komunikasi radio dari LAPAN untuk kelancaran birokrasi.

Gambar 7. Rasi Orion dan kawan-kawan terbentang di langit malam dari depan rumah Pak Camat. (Diambil dengan kamera DSLR NIKON D70s dan fish eye lens.). Kredit: LAPAN

Pada rangkaian acara peninjauan tersebut, telah direncanakan kegiatan pengambilan data di langit Kupang (Gambar 6) antara lain pengukuran kualitas langit, fotometri, dan astrofotografi beberapa objek langit, meteor Geminid, dan komet Lovejoy, serta pengamatan benda jatuh antariksa. Oleh karena itu, untuk mendukung kegiatan itu, dibawa seperangkat teleskop, beberapa detektor, beserta aksesoris lainnya. Namun, karena keterbatasan listrik, teleskop hanya mampu digunakan sebentar dengan daya baterai. Berikut adalah beberapa hasil pengamatan yang diambil di langit Kupang yang masih bersih, di depan rumah Pak Camat.

Gambar 7. Astrofotografi Nebula Orion. (M42). Kredit: LAPAN
Gambar 8. Astrofotografi Gugus Bintang  Pleiades (M45). Kredit: LAPAN
[divider_line]

Tulisan ini sudah dimuat di Buletin Cuaca Antariksa Vol. 4/ No. 3 – Juli – September 2015

Avatar photo

Farahhati Mumtahana

lulusan astronomi yang bekerja sebagai peneliti di LAPAN.

Avatar photo

Emanuel Sungging

jebolan magister astronomi ITB, astronom yang nyambi jadi jurnalis & penulis. Punya hobi dari fotografi sampe bikin komik, pokoknya semua yang berhubungan dengan warna, sampai-sampai pekerjaan utamanya adalah seperti dokter bedah forensik, tapi alih-alih ngevisum korban, yang di visum adalah cahaya, seperti juga cahaya matahari bisa diurai jadi warna cahaya pelangi. Maka oleh nggieng, cahaya bintang (termasuk matahari), bisa dibeleh2 dan dipelajari isinya.

Tulis Komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini