Perayaan Tahun Emas Himastron

Ada yang spesial di bulan Oktober tahun 2015 ini khususnya bagi mereka yang sedang dan pernah mencicipi berkuliah di pendidikan tinggi Astronomi di Kampus Ganesha.  Himpunan Mahasiswa Astronomi ITB atau yang lebih dikenal dengan sebutan Himastron akan merayakan tahun emasnya, tepatnya pada tanggal 19 Oktober 2015. Sebagai himpunan dengan kuantitas mahasiswa yang relatif lebih sedikit dari himpunan lain di ITB, perayaan tahun emas menjadi momentum spesial untuk semakin membenahi diri menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Tujuannya tentu supaya Himastron tetap eksis dan mampu memberikan kontribusinya dalam keastronomian di Indonesia khususnya, dan dunia pada umumnya. Selain tentunya memberikan ruang bagi anggota di dalamnya untuk mengembangkan diri.

Tonggak Pendirian Himastron.
Himastron plainTak mudah melacak sejarah pendirian Himastron. Penelusuran sejarah itu sendiri pernah penulis lakukan bersama Achmad Setio Adinugroho dan Muhammad Yusuf, yang merupakan ketua Himastron periode tahun 2000-an. Hasilnya adalah sebuah buku versi digital dan cetak yang berisi tulisan-tulisan para anggota Himastron mulai era tahun 69-an sampai 2000-an. Dari buku perjalanan Himastron yang dibuat 10 tahun yang lalu tersebut, terungkap fakta bahwa sejarah Himastron bermula di Observatorium Bosscha, Lembang.

Kala itu beberapa mahasiswa Astronomi berkumpul di Ruang Baca Observatoirum untuk membahas pembentukan organisasi kemahasiswaan yang berbasis ilmu astronomi. Pertemuan yang dihadiri oleh Prof The Pik Sin ini awalnya bernama HIMASTRO. Nama ini tidak berlangsung lama karena pada era Bpk. Winardi Sutantyo, nama ini diganti menjadi HIMASTRON. Nama ini dipilih karena terdengar lebih ilmiah, mirip seperti halnya nama elektron, proton, maupun neutron.

Sebagai organisasi mahasiswa belia pada era 60-an tersebut, keberadaan AD/ART organisasi dirasa belum diperlukan. Hal itu karena aktivitas kemahasiswaan di ITB lebih tersentralisasi di organisasi pusat yang bernama Dewan mahasiswa (Dema). Proses pemilihan ketua cukup berbeda dengan proses pemilihan yang kita kenal selama ini yaitu melalui proses pemilu dengan banyak kandidat. Era tersebut, kuantitas mahasiswa masih sangat minim sehingga ketua dipilih dengan cara ditunjuk langsung oleh ketua sebelumnya seperti pada era Bpk. Moedji Raharto. Barulah saat mendekati tahun 80-an, AD/ART Himastron dibuat yaitu tepatnya tanggal 16 Oktober 1978. Jika kita membaca sejarah kemahasiswaan, tahun 1978 adalah tahun kelam di ITB karena disitulah titik di mana pemerintah melakukan tekanan kepada organisasi mahasiswa sehingga diberlakukanlah Normalisasi Kehidupan Kampus atau yang dikenal NKK/BKK. Akibatnya, seluruh organisasi mahasiswa dibekukan oleh pemerintah.  Bagi Himastron, tahun 1978 justru merupakan era “kelahiran” organisasi karena di tahun 78-lah AD/ART organisasi disahkan. Namun, era de facto di tahun 1965 disepakati oleh anggota Himastron sebagai acuan organisasi Himastron ini mulai eksis. Perayaan tahun emas Himastron di tahun 2015 ini pun menjadikan acuan 1965 sebagai titik nol Himastron mulai berdiri.

Kiprah Himastron dari Masa ke Masa
Sebagai Himpunan Mahasiswa yang memiliki keanggotaan mengalir, Himastron tentunya mengalami pasang surut dan pasang naik tergantung dengan anggota yang mengisi di dalamnya. Tentunya ada sisi positif dan negatifnya. Dalam tri dharma perguruan tinggi yang terdiri dari pendidikan, penelitian, maupun pengabdian masyarakat, keberadaan Himastron masih sangat diperlukan. Tengoklah tiap awal bulan Ramadhan maupun Syawal, para anggota H* dapat menjadi duta untuk memahamkan masyarakat tentang permasalahan hilal. Pun ikut serta pula dalam tim hilal yang beberapa tahun lalu selalu eksis disebar ke penjuru Indonesia untuk memantau hilal menggunakan teleskop. Tak lupa saat momen-momen angkasa terjadi baik berupa transit, gerhana matahari, gerhana bulan maupun meteor shower menjadi ajang sosialisasi keilmuan astronomi. Anggota Himastron tentunya baru bisa memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat jika mahasiswanya sendiri rajin mengikuti perkuliahan di kampus.  Hal ini berarti antara organisasi dan kuliah di bukanlah sesuatu yang harus dibenturkan. Keduanya saling melengkapi.

Kiprah Himastron sendiri berdasarkan manuskrip yang berhasil dihimpun oleh penulis baik di organisasi itu sendiri maupun di masyarakat antara lain:

  • Era 70-an: melakukan kunjungan rutin ke Planetarium Jakarta sebagai bagian dari kaderisasi, turut membantu jurusan dalam International School for Young Astronomers (ISYA) tahun 1972, mendirikan Himpunan Astronomi Amatir Indonesia (HAAI) yang waktu itu anggotanya mencapai 300 orang, aktif di di organisasi pusat ITB sampai dibekukan oleh pemerintah di tahun 78.
  • Era  80-an: kegiatan lebih kepada internal organisasi seperti perayaan dies dengan menerbangkan balon udara, penerbitan Buletin Himastron sebagai sarana merangsang minat menulis anggota, open house astronomi saat perayaan dies himastron XXIII yang berisi pameran, ceramah, dan pemutaran film Cosmos pada public.
  • Era 90-an: kegiatan yang bersifat astronomi di dalam organisasi masih relatif minim di awal 90-an karena ketiadaan teleskop, pengaktifan kembali majalah astronomi “Asteroid”, pembuatan buletin Matahari Sore,  mengadakan Lomba Karya Tulis Astronomi (LKTA) tingkat SLTA se-Indonesia tahun 1996, mengadakan ekspedisi Gerhana Matahari Total (GMT) tahun 1995 di Talaud, aktif dalam keolahragaan kampus antara lain dalam turnamen bola Liga ITB, Amisca Cup, dan membuat turnamen FMIPA Cup tahun 1997, turnamen bola voli HMS Cup untuk tim putri, mengadakan ekspedisi Gerhana Matahari Cincin (GMC) tahun 98 ke Dumai-Riau, penerbitan buku “Perjalanan Mengenal Astronomi”
  • Era 2000-an: konsolidasi internal dalam bentuk revisi AD/ART 2001; pelaksanaan even-even seminar tahunan secara rutin dengantema beragam antara lain blackhole, asteroid NT7, planet, dsb; pelatihan penggunaan teleskop kepada anggota; pengaktifan kembali buletin Matahari Sore Reformasi, mulai aktif merayakan Pekan Antariksa dalam bentuk serangkaian kegiatan yang bersifat populerisasi Astronomi yang dimulai tahun 2003, ekspedisi Gerhana Matahari Cincin tahun 2009 di Lampung
  • Era 2010-an: aktif melakukan kegiatan Pekan Antariksa tahunan namun dengan nama yang berbeda. Tahun 2010, kegiatan Pekan Antariksa diberi nama Khatulistiwa 2010. Mulai tahun 2013 hingga kini, perayaan Pekan Antariksa yang dilakukan oleh Himastron diberi nama Astara Ganesha. Hal lainnya adalah sebagian anggota himastron aktif dalam kepanitiaan olimpade astronomi sehingga di tahun 2015 ini sebagai bagian dari perayaan tahun emasnya, Himastron mengadakan Olimpade Astronomi tingkat SMA se-Jawa Barat dan pameran karya mahasiswa Astronomi ITB.

Warna-warni kegiatan Himastron itu sendiri tentunya dibuat oleh anggotanya sendiri pada eranya masing-masing.Dan untuk merayakan tahun emas Himastron, anggota aktif Himstron saat ini mempertemukan kembali seluruh alumni dalam temu alumni Himastron yang akan dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2015 di Aula Barat ITB.

Sebagai penutup dari tulisan ini, penulis ingin mengutip pesan salah seorang anggota Himastron yang kini berkiprah di Universitas Chili, Santiago sebagai peneliti, Hanindyo Kuntjoroyakti. Tulisan ini menarik untuk menjadi renungan, “…ia (baca: Himastron) adalah rumah kami, tempat kami belajar, menempa diri, dan berkarya. Tempat kami mulai memberanikan diri menyelami rahasia angkasa mahaluas. Dan sebagai konsekuensinya, kami pun bertanggungjawab untuk menyampaikan rahasia yang telah terkuak, ilmu pengetahuan , kepada khalayak ramai. Mencerna keprofesian astronomi menjadi sesuatu yang diabadikan kepada masyarakat, merupakan cita-cita luhur H* (baca: Himastron) yang akan selalu membekas pada jiwa setiap anggotanya dari epoch ke epoch.

Selamat ulang tahun emas Himastron dan Selamat berkumpul kembali pada para anggotanya!

Ditulis oleh

Aldino Adry Baskoro

Aldino Adry Baskoro

alumnus astronomi ITB yang saat ini berprofesi sebagai pendidik di sekolahalam Minangkabau dan penulis di langitselatan.