50 Tahun Himastron ITB: Jejak Pergerakan Mahasiswa Astronomi di Indonesia

Bulan Oktober 2015 ini merupakan bulan yang istimewa bagi mereka yang pernah menjadi mahasiswa dan terlibat dalam kegiatan Himpunan Mahasiswa Astronomi ITB (Himastron ITB, untuk kenyamanan selanjutnya akan ditulis Himastron saja). Tanggal 19 Oktober tahun ini, Himastron genap berusia 50 tahun, sebuah usia emas yang (semestinya) menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan organisasi. Artikel ini akan mengupas Himastron dalam konteksnya sebagai salah satu organisasi yang berbasis Astronomi di Indonesia.

Apa itu Himastron?

Himastron plain

Himpunan Mahasiswa Astronomi ITB, disingkat Himastron ITB, merupakan satu-satunya organisasi mahasiswa Astronomi di Asia Tenggara. Organisasi ini berdiri sebagai wahana berkumpul dan belajar bagi para mahasiswa jurusan Astronomi ITB, terutama untuk hal-hal yang mungkin tak akan didapat hanya dari kegiatan akademik di kampus.

Di kalangan peminat ilmu Astronomi di Indonesia, barangkali nama Himastron masih terdengar cukup asing. Memang ada banyak orang yang sudah mengenal/berinteraksi dengan Himastron secara organisasi ataupun individual (misalnya berteman dengan anggota Himastron), tapi jika melihat cakupan yang lebih luas, tampaknya jauh lebih banyak yang tidak tahu tentang Himastron. Tak perlu heran, bagaimanapun Himastron adalah organisasi “eksklusif” yang anggotanya hanyalah mahasiswa Program Studi Astronomi ITB. Jumlah mahasiswa Astronomi yang relatif sedikit membuat kegiatan Himastron lebih banyak terpusat di internal kampus, atau paling luas cakupannya adalah kota Bandung.

Walau demikian, jangan salah: anggota Himastron (baik anggota aktif maupun yang berstatus alumni) sangat banyak berkiprah di komunitas Astronomi di Indonesia. Para dosen dan guru besar Prodi Astronomi ITB dahulunya adalah anggota Himastron, bahkan beberapa pernah menjabat sebagai ketua. Sebut saja misalnya alm. Prof. Dr. Djoni N. Dawanas (ketua Himastron 1971), Prof. Dr. Suryadi Siregar (ketua Himastron 1975), Dr. Moedji Raharto (ketua Himastron 1976), dan Dr. Hakim L. Malasan (ketua Himastron 1983 dan 1984). Kepala LAPAN saat ini, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, merupakan alumni Himastron. Salah satu pembina HAAJ, Widya Sawitar, juga merupakan alumni Himastron. Pengelola dan kontributor laman LangitSelatan juga banyak dari kalangan alumni Himastron. Serta, pendiri laman Dunia Astronomi (DADC) serta grup diskusinya di Facebook juga adalah alumni Himastron, ditambah lagi beberapa anggota Himastron cukup aktif di grup diskusi tersebut. Juga terdapat alumni Himastron yang bekerja di luar negeri seperti Dr. Tri Laksmana Astraatmadja di MPIA Jerman, Dr. Hanindyo Kuncarayakti di Universitas Chile dan Dr. Puji Irawati di NARIT, Thailand.

Sebagai organisasi mahasiswa, Himastron memang menjadi semacam “balai latihan” bagi mereka yang menjalani pendidikan tinggi Astronomi. Kiprah di Himastron pada saat mahasiswa menjadi bekal untuk berkiprah di dunia yang lebih luas ketika si mahasiswa lulus dari kampus. Umumnya alumni Himastron mengakui hal ini: banyak di antara alumni merasa belajar banyak hal saat beraktivitas di Himastron, baik belajar hal-hal yang astronomis maupun hal lain yang lebih ke pengembangan pribadi dan interaksi sosial.

Sejarah

Himpunan ini didirikan tahun 1965 di bulan Oktober tanggal 19. Sayang, tak ada dokumentasi yang kuat bagaimana tepatnya Himastron ITB berdiri dan siapa saja pendirinya. Hal tersebut sebenarnya sangat dapat dimaklumi. Tahun 1965 tersebut, jumlah mahasiswa Astronomi sangatlah sedikit, totalnya tak sampai 10 orang, dan Himastron dibentuk dalam suasana yang tak begitu formal. Wajar jika dokumentasi dan arsipnya kurang, atau jikapun ada, tak ditemukan. Setidaknya masih terdapat sedikit informasi yang menyebutkan di antara pendiri Himastron adalah mendiang Prof. Dr. Winardi Sutantyo (saat itu, tentu saja, masih berstatus mahasiswa). Pendirian Himastron ITB tersebut dibantu oleh dosen Astronomi saat itu yakni Prof. Dr. The Pik Sin.

Sejak dibentuk hingga beberapa tahun sesudahnya, Himastron belum memiliki AD-ART. Keberadaan Himastron pun tampaknya tak diketahui banyak orang, bahkan di ITB sendiri. Dalam Buku Perjalanan Himastron, alm. Prof. Dr. Djoni N. Dawanas (Astronomi ’69) bercerita betapa dahulu beliau kesulitan, karena hanya sendirian saja mencari Himastron dalam kegiatan Malam Perkenalan Mahasiswa (Mapram) ITB tahun 1969. Beliau satu-satunya mahasiswa Astronomi di angkatannya.

Himastron setidaknya menunjukkan eksistensi pada tahun 1971 melalui bendera. Selama 6 tahun berdiri, Himastron tak mempunyai bendera. Di ITB, lazimnya himpunan mahasiswa jurusan di ITB itu memiliki atribut berupa bendera dan atribut yang dipakai anggota yakni jaket himpunan. Himastron yang belum lama berdiri belum memiliki itu. Namun bendera Himastron akhirnya ikut berkibar di setiap kegiatan mahasiswa di kampus atas prakarsa pengurus (saat itu ketuanya alm. Prof. Dr. Djoni N. Dawanas) yang menyadari perlunya menunjukkan keberadaan Himastron.

Sepanjang dekade 70an kegiatan Himastron tak banyak. Beberapa anggota Himastron ada yang terlibat di gerakan mahasiswa kampus yang pada dekade itu sedang panas karena represi rezim Orde Baru. Tampaknya hal itu berpengaruh pada kegiatan mahasiswa, sampai akhirnya Himastron “lahir kembali” ketika AD-ART disahkan tanggal 16 Oktober 1978.

Jumlah mahasiswa yang sangat sedikit juga menyulitkan kegiatan. Antara lain seperti diceritakan oleh Dr. Hakim L. Malasan (Astronomi ’81) dalam Buku Perjalanan Himastron, pada tahun 1981 Himastron kesulitan mendapatkan sekretariat di area kampus karena struktur organisasi yang tak solid dan anggota yang sedikit. Kala itu sekretariat Himastron adalah di salah satu bangunan di Observatorium Bosscha. Bangunan tersebut sampai pertengahan 2000an masih disebut “kantor mahasiswa”, hingga sekarang masih ada persis di sebelah bangunan teleskop GOTO. Sekretariat di Observatorium Bosscha ini menyulitkan kegiatan karena jauh dari kampus.

Tapi era yang dicirikan dengan “jumlah mahasiswa sedikit” itu perlahan hilang, dan bahkan penerimaan mahasiswa Astronomi tahun 1982 adalah sebanyak 25 orang. Jumlah yang fantastis mengingat sebelum-sebelumnya jumlah mahasiswa per angkatan tak pernah lebih dari 10 orang. Eksistensi Himastron terus naik, dan sejak pertengahan dekade 80an akhirnya Himastron mendapatkan sekretariat di dalam kampus, di area yang sekarang berdiri Labtek X atau dikenal dengan Labtek Biru. Adanya beberapa fenomena astronomi juga memacu kegiatan Himastron, antara lain Himastron ikut mengadakan ekspedisi gerhana Matahari total tahun 1983 dan 1988. Akhir 80an hingga awal 90an Himastron eksis di kampus melalui tim sepakbola yang kemampuannya tak kalah dengan tim dari himpunan besar. Kegiatan dengan skala cukup besar diadakan, misalnya Open House Astronomi yang acaranya antara lain pameran dan pemutaran film “Cosmos”. Himastron juga menerbitkan buletin astronomi yang salah satunya merupakan edisi khusus Dies Natalis tahun 1992.

Karena pembangunan gedung Labtek Biru sekitar pertengahan 90an, sekretariat Himastron kemudian dipindahkan ke atap (lantai 4) gedung Labtek III. Penempatan sekretariat baru ini, walau terpencil di atas atap gedung, sangat baik karena posisinya bersebelahan dengan kantor dan ruang perkuliahan jurusan Astronomi. Selain itu areanya juga luas.

Bangunan sekretariat Himastron di Labtek III lt. 4 ITB. Kredit foto: Himastron

Sekretariat di Labtek III ini barangkali yang paling banyak menyimpan kenangan milik anggota Himastron. Selain karena ditempati hingga 20 tahun, sekretariat dengan bentuk bangunan unik di lokasi terpencil tersebut membuatnya menjadi kebanggaan tersendiri. Sayang, sekarang sekretariat Himastron harus kembali dipindah sejak Juli 2015, karena kantor program studi Astronomi juga dipindahkan ke sebuah gedung yang baru dibangun.

Pasang surut jumlah anggota dari dekade 90an hingga sekarang tidak mematikan eksistensi Himastron, seperti halnya dulu di dekade 70an Himastron tetap terus berjalan walau anggotanya kala itu bisa dihitung dengan 10 jari tangan. Anggota Himastron 90an memang tetap tak bisa dibilang banyak, namun tetap bisa menghasilkan kegiatan penting. Bahkan, Himastron mampu menerbitkan buku astronomi populer dengan melibatkan Observatorium Bosscha dan jurusan Astronomi. Judulnya “Perjalanan Mengenal Astronomi”. Tahun 1995 juga terjadi gerhana Matahari total seperti tahun 1983, serta tahun 1998 terjadi gerhana Matahari cincin. Himastron ikut mengadakan ekspedisi, tahun 1995 ke Sangihe dan tahun 1998 ke Dumai.

Era sekarang jumlah mahasiswa sudah lebih banyak, dan anggota aktif juga bertambah dibandingkan sebelumnya. Kegiatan juga lebih banyak dan skalanya membesar, antara lain kegiatan dalam rangka meramaikan World Space Week tahun 2003 dan 2004 dan tahun-tahun sesudahnya. Bahkan sejak 2013 kegiatan besar Himastron dirutinkan dengan nama Astara Ganesa, terakhir dilaksanakan di paruh pertama Oktober 2015 lalu.

Kegiatan Himastron

Keunikan Himastron dibandingkan dengan komunitas Astronomi lainnya terletak pada anggotanya. Para anggota adalah mahasiswa Astronomi, yang jika didefinisikan secara bebas dapat berarti “insan-insan muda yang mempelajari Astronomi secara akademik”. Pengetahuan yang dimiliki anggotanya tentunya sedikit berbeda dengan di komunitas lain yang anggotanya belajar Astronomi secara otodidak. Ditambah dengan akses ke Observatorium Bosscha dan kesempatan mengikuti kegiatan akademis di dalam dan luar negeri, sesungguhnya anggota Himastron memiliki bekal yang tak sedikit dalam menyelenggarakan kegiatan.

Sebagai organisasi mahasiswa, tentu saja Himastron memiliki kegiatan yang berkaitan dengan bidang ilmu yang digeluti, yakni Astronomi. Ada banyak ragam kegiatan astronomi yang dilakukan. Jaman dahulu kegiatannya antara lain study tour ke Planetarium Jakarta. Seiring perkembangan organisasi, kegiatannya menjadi lebih beragam, mulai dari kegiatan pengamatan langit malam untuk publik di kampus ITB hingga acara berskala besar seperti seminar, pameran dan lomba untuk siswa sekolah dan umum. Bagi internal Himastron juga ada kegiatan rutin untuk pengembangan kemampuan anggota di bidang Astronomi, seperti pelatihan penggunaan instrumen pengamatan dan penelitian astronomi, diskusi astronomi dan tutorial mata kuliah tertentu.

Pada saat terjadi fenomena astronomi tertentu, Himastron tak ketinggalan untuk ikut melakukan pengamatan. Bahkan kalau perlu Himastron ikut melakukan ekspedisi. Pada fenomena gerhana Matahari total tahun 1983, 1988 dan 1995 serta gerhana Matahari cincin 1998 Himastron melaksanakan ekspedisi menyeberang sampai ke Sulawesi dan Sumatra. Himastron juga menyelenggarakan pengamatan fenomena langit yang kurang umum di masyarakat, misalnya oposisi Mars tahun 2003 dan transit Venus tahun 2004.

Himastron juga pernah mencoba membangun komunitas yang lebih luas dan bisa diikuti masyarakat, yakni Himpunan Astronomi Amatir Bandung (HAAB). Komunitas seperti ini diminati masyarakat dan kegiatannya juga banyak, namun sayangnya tak berkembang ketika “disapih” dari Himastron. Bagaimanapun, Himastron saat itu harus memisahkan diri dengan HAAB, organisasi yang dilahirkannya, demi sehatnya perjalanan Himastron itu sendiri.

Space Week tahun 2003 dan 2004 mungkin merupakan kegiatan terbesar yang pernah diselenggarakan Himastron. Acaranya beragam: kompetisi roket air, seminar untuk publik, pemutaran film, dan juga pameran. Untuk pameran dalam Space Week 2003 bahkan tak tanggung-tanggung: Himastron berani membuat sebuah panel panjang interaktif yang isinya rentetan (timeline) kisah penerbangan antariksa yang pernah dilakukan umat manusia. Panel itu sedemikian bagus dan informatifnya hingga di tahun-tahun berikutnya diikutkan juga dalam berbagai pameran lain yang diselenggarakan oleh jurusan Astronomi dan Observatorium Bosscha—bahkan juga ditunjukkan bagi publik internasional dalam Asia Pacific Regional – International Astronomical Union Meeting (APRIM) 2004 di Nusa Dua, Bali.

Ekspedisi gerhana, lomba karya tulis astronomi tingkat nasional dan rangkaian acara Space Week 2003 dan 2004 menunjukkan bahwa sungguh, walau dengan anggota yang sedikit, Himastron sanggup mengadakan acara yang bisa disejajarkan dengan acara milik himpunan mahasiswa yang jumlah anggotanya besar.

Hingga sekarang, Himastron masih aktif dalam acara meramaikan World Space Week. Terakhir, Himastron mengadakan rangkaian kegiatan yang diberi nama Astara Ganesha awal Oktober 2015 dengan kegiatan berupa pameran, seminar, lomba dan motivasi olimpiade astronomi serta Dies Natalis 50 Tahun Himastron ITB.

Masih sebagai organisasi mahasiswa, Himastron tentunya juga memiliki kegiatan lain yang tak terkait dengan Astronomi. Seperti umumnya himpunan mahasiswa jurusan di ITB, Himastron terlibat dalam gerakan politik mahasiswa melalui Dewan Mahasiswa/Dema ITB (era 70an) serta Forum Komunikasi Himpunan Jurusan (FKHJ) dan Keluarga Mahasiswa/KM ITB (era 80an hingga sekarang). Di antara kontribusi anggota Himastron dapat dilihat melalui lagu perjuangan mahasiswa ITB, berjudul “Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater”. Lagu tersebut diciptakan oleh alm. Faizal Riza (Astronomi ’97) dan Andi Sitti Maryam (Astronomi ’97).

Dan, namanya juga mahasiswa, Himastron tak luput mengadakan kegiatan yang sifatnya “bersenang-senang”. Dalam bentuk yang positif, tentunya. Himastron pernah memiliki event kompetisi olahraga internal yang disebut “Home Tournament Himastron”. Olahraganya mulai dari bulu tangkis sampai sepakbola, bahkan juga olahraga non-mainstream seperti main cak bur (galah panjang) dan bentengan. Himastron juga memiliki tim sepakbola, tim bola voli, tim futsal putra dan putri, tim basket putra dan putri yang aktif mengikuti kompetisi antar jurusan di ITB. Dengan anggotanya sedikit, prestasi bidang olahraga Himastron (walaupun naik turun) sangat layak dibanggakan—silakan bandingkan dengan himpunan jurusan lain di ITB yang anggota per angkatannya bisa mencapai ratusan orang. Suporter tim olahraga Himastron juga tak kalah seru. Jikapun kalah dalam pertandingan, Himastron selalu punya kalimat penghibur, misalnya “Yang penting gaya!”.

Di bidang seni, Himastron juga pernah memiliki grup band yang diberi nama Gurita Malam atau disingkat Gurilems. Gurilems pernah tampil di berbagai acara musik kampus dengan mengusung lagu-lagu klasik terutama karya Ismail Marzuki. Nama Gurita Malam sendiri merupakan plesetan dari Juwita Malam, salah satu judul lagu ciptaan Ismail Marzuki.

Apa kegiatan yang paling berkesan bagi anggota Himastron? Sebagian orang barangkali akan mengatakan: Ospek. Ospek di Himastron dulu dikenal dengan nama Garden Party—entah istilah tersebut masih digunakan atau tidak. Tujuan utama ospek ini tentu saja untuk memperkenalkan anggota baru dengan anggota lama, serta pengenalan kultur organisasi.

Beberapa kegiatan yang pernah dilakukan oleh Himastron sepanjang 50 tahun perjalanannya dapat juga dibaca di sini.

Masa Depan Himastron

Himastron ada untuk kesejahteraan anggotanya. Sejahtera bukan dalam bentuk kepemilikan materi, namun sejahtera dalam bentuk kebahagiaan saat berkumpul bersama, belajar bersama, dan juga saat bersama-sama menyampaikan keindahan dan keunikan Astronomi kepada publik. Hal ini haruslah terus dipertahankan, sebab inilah landasan berdirinya Himastron itu.

Selain itu, keluasan pandangan dan pikiran penting bagi Himastron. Bahwa Astronomi bukan sekedar mata kuliah, bukan sekedar kompetisi siswa sekolah, bukan sekedar langit malam, bukan sekedar hobi. Bahwa Himastron bukan sekedar tempat untuk mencari capaian-capaian pribadi. Bahwa apapun yang dilakukan oleh dan untuk Himastron harus menampakkan manfaatnya bagi lingkungan di sekitarnya.

Himastron memiliki bekal yang tak sedikit. Alumni, misalnya. Memang dari segi kuantitas, jumlah alumni Himastron sedikit: dari generasi awal hingga generasi terbaru sepertinya 500 orang pun tak sampai. Namun dari yang sedikit itu di antara mereka terdapat orang-orang hebat. Alumni yang saat ini menjabat sebagai pimpinan di LAPAN, Guru Besar di ITB, juga alumni yang saat ini merupakan staf dosen ITB, pegawai LAPAN, dan alumni yang bekerja di lembaga sains/astronomi swasta serta di komunitas swadaya masyarakat sebetulnya adalah modal besar bagi Himastron, terutama untuk kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan astronomi untuk kepentingan ilmiah (seminar/simposium dan sejenisnya) maupun kegiatan astronomi untuk publik. Belum lagi Himastron punya alumni yang bekerja atau mengenyam pendidikan astronomi di luar negeri seperti di Jerman, Jepang, Belanda, Chile dan Thailand. Sejauh ini, Himastron tampaknya belum banyak menggali potensi dari alumni-alumni tersebut.

Perlu juga dilihat fakta bahwa astronomi sekarang sudah lebih diminati. Klub-klub astronomi berkembang di sekolah-sekolah, komunitas peminat astronomi berkembang di berbagai kota. Sudah sepantasnya Himastron memperluas jejaring ke komunitas-komunitas ini, berkolaborasi bersama, menimba ilmu bersama.

Masa depan Himastron seperti masa depan alam semesta: tak pasti. Apakah kolaps, berada dalam keadaan tunak atau terus mengalami ekspansi. Ketiga hal itu memiliki faktor penyebabnya sendiri, dan anggota Himastron harus menyadari itu.

Penutup

Kita tak pernah bisa kembali ke masa lalu, dan kita tak tahu apa yang akan datang di masa depan. Tapi Himastron saat ini dapat mengulik kembali sejarah panjangnya untuk bersiap menghadapi perjalanan yang masih jauh. Sejarah Himastron memang bukan sejarah heroik nan hebat. Walau demikian, apapun bentuknya, sejarah selalu inspiratif. Karena itulah Himastron tak boleh lupa dengan sejarahnya. Bukan untuk berangan-angan mengulanginya, namun untuk menyerap semangatnya.

Anggota Himastron, debu-debu alam semesta itu, telah berkontraksi, menyusun bintang-bintang yang menebar cahayanya dalam gugus bintang yang bernama Himastron. Mereka taat berotasi, patuh menempuh jalur evolusinya. Dan pula mereka harus setia memelihara gravitasi agar gugus ini tidak rontok. Di bawah panji Himastron, menjadi bagian dari semesta masyarakat Astronomi di Indonesia.

Selamat ulang tahun, Himastron. Dirgahayu.

Vivat Himastron!

Ditulis oleh

Edwards Taufiqurrahman

Edwards Taufiqurrahman

Peminat Astronomi. Asal Bukittinggi, Sumatra Barat dan pernah kuliah di Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung. Saat ini tinggal di jakarta dan bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Iya, jauh sekali hubungan antara Oseanografi dan Astronomi, tapi tak masalah. Namanya juga cinta ?