Khatulistiwa 2010: Kilasan Pekan Antariksa Bersama Himastron

Setiap tahunnya bagi para astronom, bulan oktober senantiasa diawali dengan perayaan World Space Week atau Pekan Antariksa Dunia yang sekaligus memperingati momen pertama ketika manusia berhasil meluncurkan satelitnya yakni Sputnik pada tanggal 4 Oktober 1957.

Foto bersama panitia Khatulistiwa 2010 dengan siswa kelas 5 dari sbeuah rumah belajar. kredit : langitselatan

Demikian juga dengan tahun 2010. Pekan Antariksa Dunia yang dimulai tanggal 4-10 Oktober dirayakan oleh berbagai komunitas yang ada di Indonesia. Di antaranya adalah Himpunan Mahasiswa Astronomi ITB (HIMASTRON) yang mengadakan perayaan pekan antariksa sekaligus juga memperingati keberadaan HIMASTRON selama 45 tahun pada tanggal 19 Oktober.  Dengan tujuan memasyarakatkan ilmu astronomi serta membuka mata masyarakat pada semesta yang tak tertera batasnya, Himastron ITB mengadakan rangkaian acara Khatulistiwa 2010 dimulai dari tanggal 2 – 7 Oktober 2010, diantaranya adalah lomba esai astronomi, lomba lukisan astronomi, lomba fotografi astronomi serta pelaksanaan pameran astronomi.

Khatulistiwa 2010 dimulai pada tanggal 2 Oktober 2010 dengan mengusung tema Astronomi Indonesia : Dulu, Kini dan Esok. Berbagai acara diskusi pun diselenggarakan untuk memperkenalkan astronomi di Indonesia pada masyarakat, dimulai dengan Talk Show Grand Design Astronomi yang bercerita tentang keberadaan Astronomi di Indonesia semenjak dahulu kala sampai hari ini.

Narasumber dalam talk show Grand Design Astronomi Indonesia. kredit : langitselatan

Menarik, karena disinilah tampak kekayaan Indonesia yang juga sudah menggunakan astronomi dalam kehidupan sehari-hari semenjak jaman dahulu. Diskusi yang dilaksanakan di Aula Timur ITB dengan Widya Sawitar (Planetarium Jakarta), Dr. Hakim L. Malasan (Observatorium Bosscha) dan Avivah Yamani (langitselatan) sebagai nara sumber membawa para peserta berkelana dari masa ketika obyek langit digunakan sebagai penuntun dalam kehidupan sampai dengan perjalanan dan kontribusi astronomi amatir dan profesional di Indonesia yang penuh dinamika. Kontribusi yang sesungguhnya sudah dimulai sebelum institusi resmi seperti Observatorium berdiri di Indonesia. Juga bagaimana kelahiran Observatorium Bosscha dan Astronomi di Indonesia yang juga memberi kiprah pentingnya bagi astronomi secara internasional.

Dalam diskusi ini, peran astronom amatir bagi perkembangan astronomi di Indonesia juga diberikan ruang untuk dibahas. Karena bagaimanapun para astronom amatir inilah yang lebih sering berinteraksi dengan masyarakat untuk memperkenalkan astronomi. Di Indonesia sendiri terhitung sudah lebih dari 10 komunitas astronomi yang terbentuk mulai dari Aceh sampai Makassar. Dan tak hanya itu perkembangan komunitas astronomi di dunia maya juga semakin pesat bertumbuh dan membawa para pecinta astronomi ini untuk berkarya membuat bebagai alat sederhana yang dapat digunakan untuk memenuhi hobi mereka tersebut.  Selain hobi, pendidikan astronomi pun sudah mulai diterapkan di sekolah-sekolah terkait olimpiade astronomi maupun untuk mengumpulkan para pecinta astronomi dalam sebuah kegiatan extrakurikuler dan KIR.

Berbagai pertanyaan dari para peserta pun bergulir mempertanyakan apa pentingnya astronomi bagi manusia, juga mengenai keterkaitan budaya namun yang paling sering dipertanyakan justru peran dan kontribusi Observatorium Bosscha bagi masyarakat Indonesia. Tak hanya itu, keingintahuan mengapa masyarakat lebih percaya mitos atau perkataan orang-orang yang ditokohkan terkait isu astronomi juga dipertanyakan. Semua pertanyaan ini justru membawa kita untuk melihat betapa pentingnya informasi astronomi yang benar bagi masyarakat dan betapa hausnya masyarakat akan informasi yang benar.

Salah satu peserta yang mengajukan pertanyaan. Kredit : langitselatan

Diskusi yang terkait topik-topik astronomi juga dilaksanakan, di antaranya adalah diskusi mengenai isu Global Warming dan Global Cooling bersama Dr. Dhani Herdiwijaya (Astronomi ITB), yang tentu saja menari perhatian banyak orang. Bagaimana tidak, kondisi alam yang tak menentu saat ini tentu membangun pertanyaan dalam diri masyarakat. Pertanyaan yang membutukan jawaban apakah gejala alam ini karena alam? Ataukah ini adalah ulah manusia? Dan disinilah peran astronomi untuk memberi informasi yang benar kepada masyarakat untuk setiap isu yang berkembang.

Dari isu global warming, diskusi lainnya yang tak kalah menarik juga diselenggarakan dalam rangkaian acara Khatulistiwa 2010 ini. Diskusi dengan nara sumber Dr. Moedji Raharto (Astronomi ITB) ini membahas tentang Mitologi Konstelasi. Kisah yang sudah ada sejak berabad-abad lampau diangkat dalam diskusi menarik untuk memperkenalkan lebih dalam tentang keterkaitan astronomi dalam kehidupan masyarakat pada masa lalu juga pengaruhnya.

Diskusi Extrasolar Planet and Life bersama Dr. Taufiq Hidayat. Kredit : langitselatan

Dan rangkaian diskusi Khatulistiwa 2010 diakhir pada tanggal 4 Oktober 2010 dengan topik yang sedang hangat saat ini yakni Extrasolar Planet and Life yang dibawakan oleh Dr. Taufiq Hidayat (Astronomi ITB). Pembicaraan yang menarik mengenai extrasolar planet tentunya tak lepas dari mimpi manusia untuk menggapai kehidupan lain di alam semesta ini. Pertanyaan apakah kita sendiri di alam semesta membawa manusia pada berbagai penemuan planet baru. Dalam diskusi yang berlangsung dengan sangat menarik ini, berbagai pertanyaan yang diajukan justru bermuara pada satu pertanyaan. Seandainya Bumi ini hancur, apakah manusia bisa berpindah ke planet baru yang ditemukan? Juga seperti apakah kehidupan lain yang dicari itu. Kriteria kehidupan yang dicari tentunya mengacu pada kehidupan yang dikenal di Bumi. Nah bagaimana seandainya kehidupan itu berbeda? Pertanyaan lain yang tak kalah menarik adalah apakah mungkin gamma ray burst mencapai Bumi dan menghancurkan kehidupan di Bumi ini?

Menurut Taufiq, kehidupan di Bumi ini penuh dinamika dan pernah mengalami gempuran berkali-kali yang menghancurkan kehidupan yang ada pada masanya namun kemudian kehidupan kembali tumbuh dan berkembang. Jadi kesemuanya itu bisa dikatakan merupakan suatu hal yang sesungguhnya tidak aneh dan asing untuk kembali terjadi di Bumi. Tapi bagaimana dan kapan? tak ada yang bisa menjawab. Pertanyaan yang terkait ketakutan akan isu 2012 juga dimunculkan.

Tak hanya berisi diskusi, rangkaian acara Khatulistiwa 2010 juga mengajak masyarakat untuk menikmati indahnya langit di siang hari maupun malam hari melalui observasi Matahari dan observasi malam. Acara ini tidak hanya menarik minat masyarakat sekitar Bandung namun membawa sebagian peminat astronomi dari Jawa Barat dan Jakarta untuk ikut menikmati indahnya langit.  Peserta yang hadir pun beragam dari siswa SD sampai dengan mahasiswa dan umum. Beberapa sekolah bahkan khusus datang ke acara Pekan Antariksa ini untuk mendapatkan ilmu astronomi. Tak hanya berlangsung di ITB, Khatulistiwa 2010 juga bekerja sama dengan UNAWE untuk memberikan informasi dan membangun kesadaran astronomi bagi anak-anak di beberapa lokasi.

Astronomi memang ilmu yang tampak mengawang-awang namun sesungguhnya memberi kontribusi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yang tidak lagi disadari oleh masyarakat modern.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.