Rosetta Jadi Saksi Perubahan Permukaan Komet

Tak terasa setahun sudah Rosetta menyertai komet 67P/Churyumov-Gerasimenko menuju perihelion dan kemudian ikut menjauhi Matahari. Perjalanan satu tahun tersebut tentunya penuh cerita  menarik. Rosetta menjadi saksi kunci dari apa yang terjadi selama perjalanan menuju perihelion pada tanggal 13 Agustus 2015 lalu.

Setiap perubahan akan menjadi informasi berharga bagi para ilmuwan. Ketika mendekati perihelion atau titik terdekatnya dengan Matahari, debu dan gas akan mengalami pemanasan dan membentuk ekor komet.

Akan tetapi seperti apakah perubahan yang terjadi jelang perihelion?

Dua bulan sebelum mencapai titik terdekat dengan Matahari, Rosetta menyaksikan peningkatan aktivitas komet karena disinari oleh Matahari. Semakin dekat dengan perihelion, maka semakin banyak pula sinar Matahari yang diterima oleh komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. Yang dilihat Rosetta adalah peningkatan aliran gas dan debu yang diselingi kemunculan semburan dan letupan yang sangat cepat.

Perubahan itu bisa diketahui dari foto-foto yang diambil kamera OSIRIS. Perubahan di permukaan komet dimulai pada bulan Juni 2015. Sementara pemantauan dari Agustus 2014 – Mei 2015  tidak memperlihatkan adanya perubahan yang signifikan meskipun itu hanya dalam skala sepersepuluh meter. Perubahan yang dipotret Rosetta itu terjadi di area Imhotep, daerah dengan permukaan halus yang diselimuti materi halus maupun batu – batu besar.

Tapi.. di suatu pagi, permukaan Imhotep mulai berubah!

Pola yang terbentuk dan mengembang dalam waktu singkat jelang perihelion. Kredit: ESA/Rosetta/MPS for OSIRIS Team MPS/UPD/LAM/IAA/SSO/INTA/UPM/DASP/IDA
Pola yang terbentuk dan mengembang dalam waktu singkat jelang perihelion. Kredit: ESA/Rosetta/MPS for OSIRIS Team MPS/UPD/LAM/IAA/SSO/INTA/UPM/DASP/IDA

Perubahan yang terjadi di Imhotep dimulai dari munculnya pola berbentuk lingkaran pada tanggal 3 Juni. Pola lingkaran tersebut tidak statis melainkan bertumbuh semakin besar dan kemudian muncullah pola lingkaran kedua. Dalam waktu sebulan, kedua lingkaran diketahui memiliki diameter 220 meter dan 140 meter. Setelah itu, muncul juga pola ketiga yang kemudian bergabung dengan kedua pola yang sudah ada pada tanggal 11 Juli.  Ketiganya membentuk sebuah area besar dan muncullah 2 pola baru lainnya.

Perubahan tersebut terjadi dalam hitungan waktu relatif cepat dengan tepi pola terus mengalami perluasan atau pemuaian beberapa puluh centimeter setiap jam. Artinya ada proses yang cukup kompleks yang terjadi di komet tersebut.

Apa yang terjadi?

Foto berwarna dari pemrukaan komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. Kredit: ESA/Rosetta/MPS for OSIRIS Team MPS/UPD/LAM/IAA/SSO/INTA/UPM/DASP/IDA
Foto berwarna dari pemrukaan komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. Kredit: ESA/Rosetta/MPS for OSIRIS Team MPS/UPD/LAM/IAA/SSO/INTA/UPM/DASP/IDA

Foto yang dikirim Rosetta mengungkap tanda dari es yang terekspos pada tepi pola yang baru terbentuk. Hal ini memberi indikasi adanya sublimasi spesies asiri yang mudah menguap ikut berperan penting. Akan tetapi, hasil pemodelah menunjukkan kalau laju pemuaian yang demikian cepat membutuhkan faktor lain selain sublimasi oleh sinar Matahari. Hasil pemodelan sublimasi yang disebabkan oleh sinar Matahari memperlihatkan kalau laju erosi hanya bisa terjadi beberapa centimeter per jam.

Kemungkinan lain adalah materi di permukaan komet sangat lemah sehingga erosi yang sangat cepat bisa terjadi. Tapi itupun hanya dimungkinkan jika kristalisasi es ataupun destabilisasi klatrat menyebabkan pembebasan energi yang menyebabkan pemuaian pola semakin dipercepat.  Erosi yang terjadi juga disertai peningkatan laju aliran gas seperti H2O, CO2, atau CO. Yang menarik, tidak ada bukti yang memperlihatkan peningkatan debu di Imhotep.

Meskipun partikel debu kecil (berukuran mikron) tidak lazim dilepaskan dalam jumlah banyak saat pola terbentuk dan mengembang, bisa saja massa dalam jumlah yang sama dilepaskan dalam bentuk partikel kecil (ukuran milimeter) yang tidak banyak memantulkan cahaya sehingga lebih sulit dideteksi oleh OSIRIS

Meskipun pada awalnya para ilmuwan cukup terkejut melihat perubahan yang terjadi tapi Imhotep sendiri berada dekat dengan ekuator komet. Dengan demikian area ini akan menerima sinar Matahari yang lebih banyak. Akan tetapi mengapa pola tersebut terbentuk masih harus ditelaah lebih lanjut.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...