Cakrawala Baru dari New Horizons

Ketika akan mengunjungi daerah baru atau bepergian ke kota lain, apa yang kamu siapkan? Di antara semua barang tentunya ada peta yang dibawa untuk mempermudah perjalanan. Tanpa peta yang menjadi petunjuk arah kita tentunya akan kesulitan, apalagi jika daerah baru tersebut memiliki bahasa yang berbeda. Tentu sulit berkomunikasi.

Tapi seandainya suatu hari kelak kamu bisa mengunjungi Pluto yang jelas tidak berpenghuni. Bagaimana kamu bisa tahu di mana kamu mendarat atau ke mana kamu harus menjelajah? Terima kasih pada New Horizons, akhirnya untuk pertama kali kita bisa memetakan dunia baru yang beku di tepi Tata Surya!

Pluto & Charon. Kredit: JHUAPL / SwRI
Pluto & Charon. Kredit: JHUAPL / SwRI

Peta inilah yang akan menjadi tuntunan seandainya suatu hari kelak bisa menjelajah ke Pluto. Itu harapan dan mimpi. Tapi peta ini akan sangat berguna bari para astronom dan geolog yang mempelajari Pluto. Permukaan Pluto yang memiliki perbedaan komposisi, ada juga area yang masih baru terbentuk (dalam orde kurang dari seratus juta tahun) dan ada yang sudah terbentuk miliaran tahun. Ada gunung, lembah, cekungan, kawah dan dataran es yang sangat mulus. Tentunya untuk mempelajarinya kita juga harus memberikan identifikasi sebagai tanda pengenal.

Untuk memudahkan kita mengenali setiap fitur yang ada di Pluto, maka diabadikanlah nama ilmuwan, misi luar angkasa sampai makhluk mitologi dunia bawah tanah. Tak hanya Pluto. Charon, satelit Pluto juga diberi nama dengan nama-nama dari dunia sains fiksi yang tidak asing bagi para penggemarnya. Nama-nama tersebut masih bersifat informal sampai disetujui oleh IAU sebagai organisasi yang memiliki otoritas dalam penamaan obyek langit.

Jadi, sebelum kita bertualang ke Pluto dan Charon, mari kita kenali dulu wilayahnya.

Peta Pluto

Peta Pluto yang dibuat dari hasil terbang lintas New Horizons. Kredit: JHUAPL / SwRI
Peta Pluto yang dibuat dari hasil terbang lintas New Horizons. Kredit: JHUAPL / SwRI

Seperti halnya di Bumi, di Pluto ada kawah, gunung, bukit, dataran, lembah yang harus diberi nama agar mudah dikenali. Nama-nama yang dipilih pun unik dan masing-masing punya cerita sendiri. Setiap fitur di Pluto diabadikan dengan nama penjelajah bersejarah, nama-nama misi luar angkasa dan wahana antariksa, nama ilmuwan dan insinyur serta nama-nama mitologi dari dunia bawah. Setiap kategori nama didedikasikan untuk satu fitur tertentu.

Yang paling pertama dinamai adalah fitur area berbentuk hati yang berukuran 1590 km di Pluto. Wilayah hati yang juga merupakan waduk es di Pluto tersebut diberi nama sesuai nama penemu Pluto, Clyde Tombaugh.  Di setiap penamaan hanya digunakan satu nama dan diakhiri dengan bahasa latin dari fitur tersebut. Untuk wilayah hati di Pluto dinamai Tombaugh Regio atau Wilayah Tombaugh.

Sputnik Planum, dataran es yang diduga baru terbentuk kurang dari 100 juta tahun. Kredit: JHUAPL / SwRI
Sputnik Planum, dataran es yang diduga baru terbentuk kurang dari 100 juta tahun. Kredit: JHUAPL / SwRI

Selain nama Clyde Tombaugh sebagai penemu Pluto, nama Venetia Burney, Jan Oort, maupun Percival Lowell yang diabadikan sebagai nama kawah di Pluto.

Setiap kategori didedikasikan pada satu jenis fitur. Misalnya nama para ilmuwan dan insinyur untuk wilayah terang di Pluto sedangkan nama para penjelajah bersejarah diabadikan sebagai nama gunung.

Penamaan fitur Misi Luar Angkasa dan Wahana Antariksa dibagi atas 3 kategori yakni: (1)  Wahana yang mengorbit Bumi diabadikan pada nama dataran (planum) dan bukit (colles), (2) Wahana antariksa ke Bulan untuk fitur daerah yang memanjang (linea), dan (3) Wahana Antariksa antar planet untuk dataran luas (terra). Salah satu yang paling terkenal yang juga memperlihatkan kehadiran gletser es adalah dataran es yang diberi nama Sputnik Planum di Tombaugh Regio. Nama misi lainnya seperti Hayabusa, Viking, Venera, Voyager, dan Pioneer juga diabadikan namanya di Pluto.

Nama para ilmuwan dan insinyur diabadikan untuk wilayah terang (regio) dan kawah, seperti halnya pada wilayah hati yang terang. Untuk gunung (montes), tebing (rupes) dan lembah (vallis), tim New Horizons mengabadikan nama para penjelajah bersejarah di sana. Di antaranya adalah Norgay Montes dan Hillary Montes yang berasal dari nama dua pendaki yang pertama kali mencapai puncak Gunung Everest di Bumi.  Nama kawah terbesar di Pluto, kawah Burney, diambil dari nama  Venetia Burney yang mengusulkan penggunaan nama Pluto untuk obyek yang ditemukan oleh Clyde Tombaugh di tahun 1930.

Nama-nama dari mitologi dunia bawah tanah juga diabadikan di Pluto. Untuk wilayah gelap (dark regio) dan bintik gelap (macula) diberi nama makhluk dari dunia bawah tanah sedangkan untuk lajur punggung gunung (dorsa) dan cekungan (cavus) diberi nama dari dunia bawah tanah. Para penjelajah dunia bawah tanah juga diabadikan sebagai nama cekungan sempit (fossa).

Ada nama-nama yang tentunya tak asing buat kita, di antaranya adalah Morgoth yang diabadikan sebagai nama bintik gelap di Pluto. Kalau masih ingat, bagi penggemar karya J.R.R Tolkien, Morgoth adalah nama tokoh antagonis dalam novel The Silmarillion yang juga disebutkan di LOTR. Selain Morgoth, ada si kera sakti Sun Wukong yang diabadikan sebagai nama cekungan sempit.

Dan yang mungkin cukup mudah kita kenali adalah nama Zheng He Montes aka Gunung Zheng He yang berasal dari nama Laksamana Zheng He atau Laksamana Cheng Ho, pelaut dan penjelajah samudera dari negeri Tiongkok yang melakukan penjelajahan antara tahun 1405 hingga 1433. Di Indonesia, beberapa tempat yang menjadi saksi keberadaan Zheng He adalah Mesjid Zheng He di Surabaya dan Patung serta Klenteng Zheng He di Semarang.

Peta Charon
Untuk Charon, tim New Horizons memilih nama-nama dari dunia sains fiksi yang pastinya banyak dikenal orang. Sama seperti Pluto, setiap fitur diabadikan dengan nama dari kategori tertentu.

Peta Charon yang dibuat dari hasil terbang lintas New Horizons. Kredit: JHUAPL / SwRI
Peta Charon yang dibuat dari hasil terbang lintas New Horizons. Kredit: JHUAPL / SwRI

Untuk wilayah gelap / terang (regio), bintik gelap (macula) dan dataran (planum) di Charon, dipilihlah nama lokasi asal atau tujuan khayalan dan rekaan dari dunia sains fiksi. Nama pertama yang muncul dalam penamaan Charon adalah Mordor dari wilayah yang diperintah oleh Sauron dalam trilogi Lord Of The Ring. Dalam bahasa Sindarin (bahasa fiksi yang dibuat oleh J.R.R. Tolkien untuk kisah Dunia Tengah dalam LOTR), Mordor diartikan sebagai Tanah Gelap. Sesuai namanya, Mordor diabadikan sebagai nama wilayah kutub yang gelap di Charon. Planet asal Mr. Spock dari Star Trek juga ada disini sebagai Vulkan Planum, si bintik gelap di Charon.

Para penjelajah dalam dunia sains fiksi aka dunia khayalan juga diabadikan sebagai nama kawah. Di antaranya adalah kawah Alice dari kisah Alice’s in Wonderland, Kaguya Hime, putri yang ditemukan di dalam batang bambu dan berasal dari Bulan dalam cerita rakyat Jepang. Ada juga tokoh Star Trek dan Star Wars pada nama – nama kawah seperti Kapten Kirk, Mr. Spock, Lt. Sulu, dan Lt. Nyota Uhura dari Starship Enterprise. Dari film Star Wars ada Putri Leia Organa,  Luke Skywalker dan Darth Vader. Tak ketinggalan Ellen Ripley dari film Alien tahun 1979 dan  Kapten Nemo dari novel Twenty Thousand Leagues Under The Sea dan The Mysterious Island karya Jules Verne.

Untuk nama – nama ngarai (chasma), digunakan nama dari kapal di kisah sains fiksi seperti Nostromo dari film Alien tahun 1979 yang disutradarai oleh Ridley Scott, Serenity dari serial Firefly, dan Tardis dari Doctor Who.

Yang terakhir, nama-nama gunung (mons) di Charon diabadikan dari nama para penulis, artis dan sutradara sainsi fiksi. Di antaranya ada penulis novel 2001: Space Odyssey, Arthur C. Clarke dan sutradara dari film yang mengadaptasi novel tersebut, Stanley Kubrick. Film 2001: Space Odyssey adalah film fiksi sains dari novel yang sama yang dibuat pada tahun 1968 tentang perjalanan ke Jupiter.  Octavia E. Butler, penulis trilogi Xenogenesis juga diabadikan namanya sebagai gunung di Charon. Ketiganya akan dikenal sebagai Clarke Mons, Kubrick Mons dan Octavia Mons.

Itulah peta Pluto dan Charon! Untuk para penjelajah masa depan maupun para peneliti, peta inilah yang akan menjadi penuntun anda untuk mengenal Pluto dan Charon! Dan yang pasti, namanya mudah diingat bukan?

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.