Ledakan Sinar Gamma Di Galaksi Andromeda? Sayangnya Bukan!

Update: Pesan terbaru yang beredar dari tim Swift-XRT di sistem Gamma-ray Coordinates Network (GCN) milik NASA meminta agar para astronom tidak meyakini emisi yang diterima pada tanggal 28 mei dini hari (wib) sebagai ledakan. Menurut tim Swift, sumber pancaran telah disalahartikan sebagai ledakan baru dan intensitasnya mengalami peningkatan yang besar sebagai akibat dari kesalahan pengukuran. Dan emisi yang diterima oleh Swift merupakan sumber sinar-X yang sudah dikenali dan dikatalogkan sebelumnya. Sumber sinar-X tersebut diduga datang dari pasangan bintang neutron normal di gugus bola. 

Dan ini kisah datangnya emisi yang diduga sebagai ledakan sinar gamma tersebut.

Pagi ini atau tepatnya tanggal 28 Mei 2014 jam 04:24:27 wib atau At 21:24:27 UT, Teleskop Swift milik NASA mendeteksi emisi atau pancaran sinar gamma yang merupakan foton energi tinggi dari galaksi tetangga Bima Sakti, si Galaksi Andromeda aka M31.

Galaksi Andromeda, M31, dalam pandangan mata Teleskop Swift. Kredit: Swift/NASA
Galaksi Andromeda, M31, dalam pandangan mata Teleskop Swift. Kredit: Swift/NASA

Tabrakan kosmik yang langka ini sedang dalam proses “mengirimkan data” kepada para astronom yang berada di Bumi. Meskipun baru terjadi beberapa jam lalu, atau lebih tepatnya beritanya baru diterima oleh pengamat di Bumi beberapa jam lalu, namun kejadiannya sendiri sudah jutaan tahun lalu. Diketahui Gamma Ray Burst (GRBs) atau ledakan sinar gamma yang terjadi di galaksi Andromeda tersebut merupakan GRBs terdekat yang pernah dilihat oleh teleskop Swift.

Kapan tepatnya GRBs ini terjadi? Diperkirakan GRBs yang baru saja dilihat itu datang dari masa sekitar 2,5 juta tahun lalu mengingat jarak Galaksi Andromeda dari Bumi sendiri 2,5 juta tahun cahaya. Dengan demikian, GRBs atau ledakan yang baru diterima para astronom tersebut 40 kali lebih dekat dari GRBs terdekat yang pernah dideteksi oleh pengamat dari Bumi.

Ketika ledakan sinar gamma itu terjadi, Teleskop Swift yang memang bertugas sebagai mata-mata di langit segera mengarahkan pandangannya ke sumber pancaran tersebut. Teleskop Swift memang bisa dnegan cepat mendeteksi kehadiran GRBs karena ia dilengkapi dengan detektor sinar gamma meda lebar yang selalu siap mendeteksi ledakan sinar gamma di alam semesta.

Ledakan Sinar Gamma
Ledakan sinar gamma atau yang kita persingkat dengan GRB merupakan ledakan dasyat di alam semesta yang terjadi satu kali dalam sehari dan terjadi dengan sangat cepat dan singkat. Tapi cukup intens. Ledakan sinar gamma, sesuai namanya maka yang dipancarkan adalah radiasi sinar gamma yang datang dari semua arah. Lama berlangsungnya GRBs dimulai dari milidetik sampai beberapa ratus detik. Sangat singkat!

GRB masih menjadi misteri bagi para astronom. Apa penyebabnya belum benar-benar bisa diketahui. Ada beberapa dugaan terkait asal susul si GRBs. Agar terjadi ledakan seperti GRBs maka dibutuhkan keruntuhan gravitasi dan lubang hitam merupakan cara paling efisien untuk mengubah energi seperti ini menjadi ledakan yang sangat kuat. Dari hasil pengamatan. beberapa GRBs terdekat yang berhasil diamati terjadi bersamaan dengan ledakan bintang masif di akhir hidupnya aka supernova. Dan GRBs yang diamati selalu melibatkan bintang masif. Karena itu diperkirakan GRBs merupakan pemicu terjadinya lubang hitam lewat ledakan supernova.

Akan tetapi ada teori lainnya terkait terjadinya GRBs. Ledakan sinar gamma ini terjadi sebagai akibat dari tabrakan dua bintang neutron yang ultra padat atau bisa juga berasal dari bagian kecil erupsi magnetik pada bintang neutron di galaksi dekat. Video singkat terjadinya tabrakan bintang neutron yang menyebabkan GRBs bisa dilihat di laman ini

Ledakan sinar gamma terjadi dari tabrakan dua bintang netron. Kredit: NASA
Ledakan sinar gamma terjadi dari tabrakan dua bintang neutron. Kredit: NASA

Jika didasarkan pada pengamatan, ledakan sinar gamma memiliki dua tipe yakni ledakan sinar gamma jangka pendek tang berakhir hanya dalam 2 detik dan ledakan sinar gamma jangka panjang yang terjadi lebih dari dua detik. Secara teori, GRBs jangka pendek dan jangka panjang memiliki mekanisme yang berbeda. GRB jangka panjang terjadi ketika bintang masih meledak dalam ledakan supernova yang dasyat yang menyisakan lubang hitam. GRBs jangka pendek diyakini berasal dari dua bintang neutron dalam sistem bintang ganda yang merger aka menyatu atau lebih tepat lagi saling bertabrakan!

Ledakan di Galaksi Andromeda
Untuk ledakan sinar gamma yang terjadi pagi ini diperkirakan terjadi dari tabrakan dua bintang neutron ultra-padat. Jika memang prediksi ini benar, maka ledakan tersebut akan menghasilkan gelombang gravitasi – riak pada ruang waktu seperti yang diprediksi oleh Einstein – di alam semesta.

Sayang beribu sayang, “petugas aka alat” yang didedikasikan untuk bisa mendeteksi gelombang gravitasi seperti ini  Laser Interferometer Gravitational-wave Observatory (LIGO) sedang berada dalam tahap pembaruan sistem sehingga tidak aktif saat kejadian untuk bisa bertugas.

Mimpi buruk untuk LIGO, karena bisa jadi peristiwa hari ini membawanya untuk menerima sebuah penghargaan.  Akan tetapi, mimpi indah masih berlanjut bagi para astronom dan mata-mata langit yang menerima data dari ledakan tersebut.

Meskipun diduga ledakan tersebut merupakan GRB, akan tetapi menurut astrofisikawan Robert Rutledge dari Universitas McGill di Montreal, Quebec, Kanada, ledakan yang tampaknya berasal dari Gugus Bola di galaksi Andromeda tersebut juga memiliki kemungkinan sebagai “ultra-luminous x-ray source” / ULX atau sumber sinar-X yang ultra-terang.  Gugus Bola merupakan gugus bintang yang terdiri dari bintang-bintang tua, sehingga diperkirakan ledakan tersebut memang berasal dari tabrakan dua bintang neutron.

ULX merupakan kelas obyek yang sedikit lebih redup (tapi masih sangat cerlang) dari jantung galaksi, tapi jauh lebih terang dari bintang pada umumnya. Jika memang emisi yang diterima tersebut merupakan ULX, maka dalam beberapa hari ke depan, pancarannya masih akan bisa dinikmati oleh para astronom. Jika ledakan tersebut merupakan GRBs maka emisi yang diterima hanya bisa dilihat sekitar setengah hari. Dugaan lain, ledakan yang terjadi pagi ini merupakan ledakan bintang ganda sinar-x massa rendah (LMXB), dimana bintang neutron atau lubang hitam sedang melahap bintang pasangannya.

Tapi, apakah emisi tersebut merupakan ledakan sinar gamma aka GRBs jangka pendek dari gugus bola di galaksi andromeda ataukah merupakan sumber sinar-X yang ultra-terang aka ULX, kita tunggu kabar selanjutnya.

Bagi yang tertarik untuk menikmati galaksi Andromeda, maka galaksi tetangga kita itu bisa dilihat cukup rendah di timur laut saat terbit sekitar jam 3 dini hari Waktu Indonesia Barat.

Andromeda jelang fajar menyingsing. Kredit: StarWalk
Andromeda jelang fajar menyingsing. Kredit: StarWalk

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.