fbpx
langitselatan
Beranda ยป Pemandangan Warna Warni dari Kedalaman Alam Semesta

Pemandangan Warna Warni dari Kedalaman Alam Semesta

Alam semesta tak pernah berhenti membuat penghuni planet bernama Bumi ini untuk takjub. Dan untuk itu, kita pun harus berterimakasih pada mata-mata yang ada di angkasa. Tak hanya satu memang, dan masing-masing bercerita dengan gayanya sendiri dalam panjang gelombang yang sama ataupun berbeda-beda.

Foto galaksi-galaksi jauh oleh Teleskop Hubble. Kredit: HST/NASA/ESA
Foto galaksi-galaksi jauh oleh Teleskop Hubble. (Klik pada gambar untuk foto seluruh galaksi) Kredit: HST/NASA/ESA

Kali ini, cerita itu datang dari Teleskop Hubble yang menyingkap kisah di alam semesta yang memperlihatkan gaalam semesta yang sedang berevolusi lewat proyek Ultraviolet Coverage of the Hubble Ultra Deep Field (UVUDF).

Survei yang dilakukan oleh HUbble ini dimulai dari rasa ingin tahu para astronom. Sama seperti semua penelitian yang dilakukan para ilmuwan. Dimulai dari rasa ingin tahu untuk menyingkap rahasia dari obyek yang ditelitinya.

Selama ini para astronom sudah mengetahui dan memiliki informasi tentang pembentukan bintang yang terjadi di galaksi-galaksi dekat. Informasi tersebut bisa diperoleh dari pengamatan teleskop UV (ultra violet / ultra ungu) seperti Observatorium Galex yang beroperasi dari tahun 2003-2013. Teleskop Hubble sendiri melakukan pengamatan dalam panjang gelombang dekat-inframerah dan visual. Dengan kemampuannya inilah, para astronom bisa mempeoleh kesempatan untuk mempelajari kelahiran bintang pada galaksi-galaksi jauh. Bagaimana bisa? Hubble memperlihatkan galaksi-galaksi jauh yang masih primitif karena, memang cahayanya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa mencapai kita.

Tapi pada jarak 5 dan 10 milyar tahun dari kita, yakni masa ketika sebagian besra bintang di alam semesta dilahirkan, data untuk bisa memahami kondisi pada masa itu masih sangat kurang. Bintang-bintang muda yang sangat masif dan panas pada masa itu memancarkan cahayanya dalam panjang gelombang ultraungu. Bintang-bintang muda yang masif dan panas tersebut seringkali diabaikan sebagai target pengamatan langsung dan menyisakan celah dalam linimasa kosmik bagi pemahaman manusia.

Penambahan data ultra ungu dalam Hubble Ultra Deep Field yang menggunakan kamera medan lebar 3 pada Teleskop Hubble, memberi kesempatan pada para pengamat untuk melakukan pengamatan langsung ke area pembentukan bintang yang selama ini tak teramati tersebut. Data yang dihasilkan oleh pengamatan Hubble tersebut yang menjadi informasi penting bagi para astronom untuk memahami pembentukan bintang.

Pengamatan pada panjang gelombang ultraungu memberikan kesempatan untuk melihat langsung pada galaksi yang sedang membentuk bintang dan juga lokasi-lokasi dimana bintang terbentuk. Dari sini para astronom akan bisa memahami bagaimana galaksi seperti Bima Sakti bisa bertumbuh dari kumpulan kecil bintang – bintang panas menjadi sebuah galaksi dengan struktur masif seperti saat ini.

Dalam potongan foto terbaru yang diambil oleh Hubble, area tersebut sudah dipelajari sebelumnya oleh para astronom dari citra yang dihasilkan Hubble Ultra Deep Field dari tahun 2004 – 2009. Tapi dengan penambahan cahaya ultra-ungu, kombinasi seluruh pengamatan menghasilkan citra yang menyingkapkan lebih banyak cerita di area tersebut. Citra terbaru tersebut menggabungkan seluruh warna yang bisa diamati Hubble mulai dari sinar ultraungu sampai dengan cahaya dekat-inframerah.

Baca juga:  Kerajaan Bimasakti

Hasilnya, citra yang diambil di area Rasi Fornax tersebut memperlihatkan 10000 galaksi yang usinya beberapa ratus juta tahun setelah Big Bang. Artinya Hubble membawa manusia kembali ke masa lalu untuk melihat perjalanan alam semesta dan merangkainya menjadi lini masa kosmik yang utuh.

Dan perjalanan untuk melihat ke masa lalu belum selesai karena di masa depan akan ada James Webb Space Telescope (JWST) yang juga akan melihat dengan mata ultraungu untuk menyingkap lebih banyak misteri di masa lalu.

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

2 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini

  • Kerrrenn.. ๐Ÿ˜€ Suka berkhayal kalo liat langit malam yg bersih, penuh bintang.. Diluar sana ada kehidupan kyak disini gak ya?

  • Setuju keren abis, jadi pengen hidup lbh lama lg di dunia karya sang Illahi robi ini.