fbpx
langitselatan
Beranda » Gerhana Matahari Hibrid di Penghujung Tahun 2013

Gerhana Matahari Hibrid di Penghujung Tahun 2013

Di tengah hiruk pikuk euforia Komet ISON menuju titik perihelion pada tanggal 28 November nanti, di awal bulan ini justru terdapat satu fenomena astronomis yang cukup jarang terjadi. Fenomena tersebut adalah Gerhana Matahari Hibrid yang akan terjadi pada Minggu, 3 November 2013.

Sayangnya fenomena ini tidak dapat diamati dari wilayah Indonesia. Gerhana kali ini hanya akan dapat dilihat mulai dari Amerika Utara bagian Timur, Amerika Selatan bagian Utara, Eropa Selatan, Timur Tengah dan Afrika. Bahkan jalur fase total dari gerhana ini hanya meliputi daerah Samudera Atlantik bagian utara hingga menuju Afrika bagian khatulistiwa.

Alur Gerhana Matahari Hibrid 3 November 2013.
Alur Gerhana Matahari Hibrid 3 November 2013. Kredit: NASA

Jalur dari bayangan bulan akan dimulai dari Atlantik utara, sekitar 1000 km dari garis pantai Jacksonville, Florida. Dari titik ini, area sepanjang 4 km akan dilewati oleh bayangan antumbral bulan dan menjadikannya terlihat sebagai Gerhana Matahari Cincin dan akan terjadi selama 4 detik saja pada pukul 11.05 GMT. Pada 15 detik berikutnya, gerhana matahari cincin akan berubah menjadi gerhana matahari total. Menuju ke arah tenggara, ujung kerujut bayangan bumi akan semakin “menusuk” lebih dalam dan membuat daerah sepanjang 15 km berikutnya mengalami durasi  gerhana total selama 16 detik pada pukul 11.10 GMT. Delapan menit berikutnya, bayangan bulan akan semakin bergeser ke arah tenggara dan dari daerah ini, durasi gerhana total bertambah mencapai 30 detik.

Pada pukul 12.00 GMT, bayangan bulan akan melewati sebuah area sekitar 500 km dari garis pantai Cape Verde. Area sepanjang 56 km akan dilewati dan membuat durasi gerhana total mencapai 1 menit 18 detik. Durasi Gerhana Total terlama akan terjadi pada pukul 12.47 GMT dan berada di Samudera Atlantik , sekitar 330 km arah barat daya Liberia. Durasi gerhana total akan mencapai 1 menit 39 detik melawati area sepanjang 57 km.

Perlahan melengkung ke timur, bayangan bulan akan melewati daerah Sao Tome dan Principe kemudian melewati pantai Gabon, sebelah utara pelabuhan Gentil di Wonga Wongue Reserve dan durasi gerhana total akan berkurang menjadi 1 menit 7 detik pada pukul 13.51 GMT. Sembilan menit berikutnya bayangan bulan akan meninggalkan daerah Gabon dan melewati Republik Kongo 7 menit setelahnya. Area sepanjang 36 km akan dilewati dan durasi gerhana total menjadi 48 detik.

Bayangan bulan akan semakin melengkung ke timur laut, mempersempit area gerhana dan durasi total menjadi turun drastis. Saat bayangan bulan menyentuh perbatasan Uganda pada pukul 14.22 GMT, durasi gerhana menjadi 23 detik saja. Berlanjut ke arah utara Kenya, durasi gerhana total menjadi hanya 14 detik saja pada pukul 14.25 GMT.

Pada 2 setengah menit akhir gerhana, bayangan bulan akan melewati selatan Ethiopia sebelum meninggalkan permukaan bumi di daerah Somalia dimana durasi gerhana total hanya berlanjut selama 1 detik saja di saat matahari terbenam. Selama 3,3 Jam, bayangan bulan akan melakukan perjalanan sepanjang 13.600 km dan mencakup 0,09 % dari total luas permukaan bumi.

Baca juga:  Mengenal Astronomi dari Perangkat Sederhana

Kenapa disebut Hibrid?
Gerhana Matahari Hibrid adalah Gerhana Matahari yang memiliki dua macam gerhana yang berbeda, yaitu Gerhana Matahari Cincin dan Gerhana Matahari Total. Kedua gerhana tersebut terjadi dalam satu kali fenomena gerhana dan terjadi secara berurutan. Hal ini dapat terjadi karena bayangan umbra bulan harus melewati kelengkungan yang berbeda-beda pada daerah tertentu disebabkan bentuk bumi yang bulat. Sehingga ada kalanya ujung kerucut bayangan umbra bulan tergantung di atas permukaan bumi dan menyebabkan lokasi di bawahnya melihat hal tersebut sebagai gerhana matahari cincin, dan ada kalanya juga saat kerucut bayangan umbra bulan itu bergeser ke bagian lengkungan yang lebih tinggi, menyebabkan ujung kerucut bayangan umbra bulan “menusuk” permukaan bumi dan daerah yang dilewatinya melihat hal tersebut sebagai gerhana matahari total.

Gerhana Matahari Hibrid yang terjadi tanggal 3 November akan memiliki Gerhana Total dan Gerhana Cincin. Kredit: GLORIA
Gerhana Matahari Hibrid yang terjadi tanggal 3 November akan memiliki Gerhana Total dan Gerhana Cincin. Kredit: GLORIA

Tidak hanya unik, Gerhana Matahari Hibrid juga sangat jarang terjadi bila dibandingkan dengan gerhana matahari lainnya. Dalam radius 30 tahun dari tahun 2001 hingga 2030, terdapat 22 kali gerhana matahari cincin dan 19 kali gerhana matahari total, namun hanya terdapat 3 kali gerhana matahari hibrid. Terakhir terjadi pada tanggal 8 April 2005, dan setelah tanggal 3 November tahun ini, baru akan terjadi lagi pada tanggal 20 April 2023.

Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009. Kredit: Muhammad Rayhan
Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 dipotret dari Anyer oleh Muhammad Rayhan. Kredit: Rayhan
GMS
Gerhana Matahari Sebagian 15 Januari 2010 yang dipotret dari Planetarium Jakarta. Kredit: Muhammad Rayhan

Gerhana matahari hibrid kali ini merupakan gerhana edisi ke-23 dari total 72 kali edisi gerhana yang tergabung dalam keluarga Saros 143. Semua gerhana yang tergabung dalam keluarga Saros 143 memiliki karakteristik yang sama, yaitu gerhana terjadi saat simpul bulan sedang naik dan pergerakannya menuju titik selatan. Seri Saros 143 ini dimulai pada tanggal 7 Maret 1617 dan berakhir pada tanggal 23 April 2897. Total durasi seri Saros 143 adalah 1280,14 tahun.

Meskipun Gerhana Matahari Hibrid kali ini tidak dapat diamati dari Indonesia, namun berkat tekhnologi, kita dapat mengamatinya dari situs-situs Streaming yang menampilkan siaran langsung gerhana tersebut dari lokasi-lokasi yang dilewati oleh Gerhana, seperti situs www.slooh.com dan www.exploratorium.edu. Untuk menonton live streaming Gerhana Matahari Hibrid silahkan menunggu dan nikamti live streaming di akhir laman ini.

Sementara itu, untuk daerah Indonesia, Gerhana Matahari baru akan terjadi pada tanggal 9 maret 2016 dan merupakan gerhana matahari total. Peristiwa total tersebut akan melewati daerah Sumatera Selatan, Palembang, Bangka Belitung, Kalimantan Barat bagian Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur bagian selatan, Palu, Sulawesi tengah, Ternate dan Maluku Utara.

Avatar photo

M. Rayhan

Seorang astronom amatir tulen yang cinta mati dengan Astrofotografi dan membelenggu pendidikan resminya dengan rantai Filsafat. Sejak satu dekade terakhir aktif di Himpunan Astronomi Amatir Jakarta dan menjabat sebagai Ketua sejak 2011. Pada tahun yang sama memulai karir vokalnya dengan menjadi pendongeng bintang-bintang di Planetarium Jakarta sebagai staf penceramah pertunjukan. Sejak 2007 membangun klub astronomi ‘Astrokids!’ untuk anak-anak di sekolah High/Scope Indonesia, Bintaro. Selama tiga tahun terakhir juga menjadi fotografer amatir dengan job foto sana-sini. Kegiatan di waktu luang adalah mengunduh film dan mengoleksinya untuk di tonton di hari tua.

Tulis Komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini