Inaugurasi ALMA, Teleskop Radio di Gurun Atacama

Tanggal 13 Maret 2013 menjadi hari yang bersejarah bagi dunia sains. ALMA (Atacama Large Millimeter / submillimeter Array) teleskop radio raksasa di pegunungan Chile diresmikan. Meski gempita itu terjadi di area yang sangat jauh di fasilitas ESO di Chili, namun seluruh dunia bisa menikmatinya lewat siaran langsung di dunia maya. Betapa dunia bisa dijangkau tanpa harus meninggalkan kediaman anda bukan? Ini juga yang menjadi harapan dari kehadiran ALMA….cahaya yang tak dapat dideteksi sebelumnya dari seluruh semesta akan dapat diterima dan dianalisa untuk bisa menyingkap asal muasal alam semesta.

ALMA. Kredit: Clem & Adri Bacri-Normier (wingsforscience.com)/ ESO
ALMA. Kredit: Clem & Adri Bacri-Normier (wingsforscience.com)/ ESO

Inaugurasi teleskop radio di gurun Atacama, Chili, menandai selesainya sistem utama teleskop raksasa tersebut sekaligus menandai peralihan secara resmi dari tahap konstruksi masuk dalam babak baru sebagai sebuah observatorium.

ALMA bukan sebuah pembangunan instan yang begitu ada dana dilakukan. Tapi sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari mimpi yang diwujudkan. Mimpi dimulai dengan 3 proyek berbeda di Eropa, Amerika dan Jepang di era tahun 80-an dan kemudian ketiganya menjadi satu kemitraan di tahun 1990-an.  Pembangunan baru dimulai tahun 2003 dengan total perkiraan biaya US$ 1,4 milyar. Tapi kehadiran ALMA tidak saja menandai babak baru pengamatan dengan teleskop radio tapi juga babak baru kerjasama sains antar negara. ALMA, sebagaimana beberapa teleskop raksasa lain yang sudah, sedang dan akan dibangun merupakan hasil kerjasama antar negara antar benua yang akan bersama-sama berkontribusi bagi perkembangan sains dan teknologi masyarakat dunia.

ALMA dalam Kemitraan
ALMA hadir dari kemitraan antara Eropa, Amerika Utara dan Asia Timur yang bekerjasama dengan Chile. Dan di acara peresmiannya, ALMA menyambut lebih dari 500 tamu yang ikut bergabung dalam kegembiraan mengawali langkah saintifiknya dalam dunia astronomi di Gurun Atacama, Chili. Hadir juga sang tamu kehormatan Presiden Chili, Sebastián Piñera.

Di antara para tamu, hadir juga Karlheinz Töchterle, Menteri Sains dan Riset (Austria), Petr Fiala, Menteri Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Republik Ceko), Nuno Crato, Menteri Pendidikan dan Sains (Portugal), Roger Genet, Direktur Jendral Riset dan Inovasi (Perancis), Nora van der Wenden, Direktur Kebijakan Riset dan Sains ((Belanda), Bruno Moor, Kepala Divisi Kerjasama Internasional Inovasi dan Riset (Swiss), Beatriz Barbuy mewakili Brazil, Anne Glover, Kepala Penasehat Ilmiah untuk Presiden Komisi Uni Eropa, dan Duta Besar Chili dari  Austria, Belgia, Republik Ceko, Perancis, Italia, Jerman, Jepang, Belanda, Portugal, Swedia, Swiss, Inggris and Amerika Serikat.

Dalam upacara pembukaan yang disiarkan secara langsung di dunia maya, perwakilan kemitraan internasional ALMA juga ikut hadir yakni : Direktur ESO Tim de Zeew, Direktur National Science Foundation Amerika Subra Suresh , dan Wakil Menteri Senior untuk Pendidikan, Budaya, Olahraga, Sains dan Teknologi untuk Uni Eropa Teru Fukui. Hadir juga Thijs de Graauw, Direktur ALMA beserta eksekutif ALMA, dan perwakilan komunitas astronomi dll.

Presiden Chili saat meninjau fasilitas ALMA. Kredit: ESO/ALMA
Presiden Chili saat meninjau fasilitas ALMA. Kredit: ESO/ALMA

Presiden  Chili, Sebastián Piñera dalam pidato pembukaannya mengatakan: “Salah satu sumber daya alam Chili adalah langit malam yang spektakuler. Dan saya percaya kalau sains merupakan kontributor yang sangat penting bagi Chili saat ini. Saya juga bangga dengan kolaborasi internasional dalam astronomi, dimana ALMA menjadi bagian dari kerjasama terkini, terbaru dan terbesar.”

Thijs de Graauw, dalam sambutannya juga menyatakan harapan dan ungkapan terimakasihnya pada seluruh tim yang sudah bekerja keras baik para ilmuwan maupun teknisi ALMA di seluruh dunia. Menurut Thijs de Graauw, “ALMA telah menunjukkan kalau ia merupakan teleskop milimeter/submilimeter paling canggih yang ada saat ini, menjadikan semua yang dimiliki sebelumnya jadi tampak kecil, Dan kami berharap para astronom akan dapat memanfaatkan kemampuan ALMA secara maksimal.”

Menurut Tim de Zeew, “Kerjasama yang menghadirkan ALMA merupakan contoh yang dimungkinkan terjadi ketika lembaga dan negara menggabungkan upaya mereka, yang juga menjadi strategi dari seluruh program ESO. Dan dengan menerapkan ini dalam skala global, kami memberi kesempatan pada seluruh negara dalam jejaring ESO untuk bisa melakukan riset yang unik dan istimewa yang hanya bisa dilakukan oleh ALMA.”

ALMA
Sehari setelah peresmiannya atau tepatnya 14 Maret 2013, para tamu terpilih akan memperoleh kesempatan untuk mengunjungi teleskop radio tersebut di Situs Operasinya yang berada 5000 meter di atas permukaan laut.  Perakitan antena ALMA baru saja diselesaikan dengan total 66 antena dan akan mulai memasuki masa pelayanannya. Yang menarik, bahkan sebelum seluruh antena selesai, ALMA sudah memberikan hasil spektakuler dengan hanya sebagian antena yang bekerja.

ALMA bekerja dengan mendeteksi cahaya yang tidak tampak di mata manusia sehingga ia bisa mengeksplorasi alam semesta dan menemukan apa yang sebelumnya tidak dapat dilihat oleh teleskop pada cahaya tampak. ALMA akan dapat memperlihatkan detil kelahiran bintang, bayi galaksi di alam semesta dini, dan planet yang sedang membentuk di bintang-bintang jauh. ALMA juga akan dapat menemukan dan mengukur distribusi molekul di alam semesta yang terbentuk di ruang antar bintang. Sebagian besar molekul-molekul tersebut sangat penting untuk kehidupan.

Teleskop-teleskop ALMA memiliki 54 antena berdiameter 12 meter dan 12 antena dengan diameter 7 meter, yang akan bersama-sama bekerja sebagai sebuah teleskop tunggal. Setiap antena akan mengumpulkan radiasi dari angkasa dan memfokuskannya ke penerima. Sinyal kemudian dikumpulkan dan diproses oleh super komputer : ALMA correlator. Ke-66 antena ALMA juga bisa diubah konfigurasinya dengan jarak maksimum antar antena bisa bervariasi dari 150 meter sampai dengan 16 kilometer.

Jadi.. mari kita tunggu hasil eksplorasi antariksa ALMA di masa depan!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...