fbpx
langitselatan
Beranda ┬╗ Komet Bonilla yang (Nyaris) Mengguncang Dunia

Komet Bonilla yang (Nyaris) Mengguncang Dunia

Jose A. y. Bonilla (1853-1920) sedang memulai tugas rutin hariannya di Observatorium negara Bagian Zacatecas (Meksiko) pada Senin 12 Agustus 1883 saat matanya menangkap sesuatu yang tak biasa. Observatorium Zacatecas berusia masih sangat muda, baru dibuka tepat setahun sebelumnya sebagai bagian dari program pengamatan Transit Venus 6 Desember 1882 di Meksiko. Koordinasi dengan Observatorium Nasional Mexico di ibukota dan dengan observatorium-observatorium lainnya di segenap penjuru Meksiko seperti di Puebla, Guadalajara dan Leon berlangsung secara intensif dengan bertulangpunggungkan sistem telekomunikasi telegraf. Pengamatan transit venus itu menuai sukses besar sehingga mendorong terselenggaranya pengamatan Matahari secara menerus.

Observatorium Zacatecas menjadi salah satu titik yang melakukan pengamatan Matahari secara menerus, termasuk pada Senin pagi 12 Agustus 1883 itu. Namun pada pukul 08:00 waktu lokal, terjadilah sesuatu yang tak biasa yakni transit benda langit tak dikenal dengan Matahari. Secara mendadak di latar depan cakram Matahari melintas sejumlah bintik hitam kecil. Masing-masing perlintasan berlangsung dalam tempo cukup singkat, yakni antara 1/3 hingga 1 detik. Dan masing-masing bintik terlihat berselimut kabut abu-abu. Kabut abu-abu itu nampak asimetrik, karena lebih panjang pada salah satu sisinya. Bintik-bintik tersebut nampak gelap jika latar belakangnya berupa cakram matahari, namun nampak terang selepas keluar dari latar depan cakram Matahari. Selama waktu kerja hari itu Bonilla dan stafnya mengidentifikasi 447 bintik hitam sejenis, rata-rata 131 bintik perjam, dengan pola gerak sama. Menyadari fenomena itu cukup istimewa, Bonilla mencoba mengabadikan perlintasan tersebut dalam pelat fotografis dengan bukaan rana 1/100 detik.

Gambar 1. Salah satu bintik hitam aneh yang mengalami transit dengan Matahari dan berhasil diabadikan Bonilla pada 12 Agustus 1883. Sempat dianggap sebagai UFO, kini interpretasi lebih logis menyarankannya sebagai fragmen komet Bonilla. Sumber : Bonilla, 1886.
Gambar 1.
Salah satu bintik hitam aneh yang mengalami transit dengan Matahari dan berhasil diabadikan Bonilla pada 12 Agustus 1883. Sempat dianggap sebagai UFO, kini interpretasi lebih logis menyarankannya sebagai fragmen komet Bonilla.
Sumber : Bonilla, 1886.

Letusan dahsyat Gunung Krakatau yang hanya berselang dua minggu kemudian dengan tsunami dahsyatnya yang merenggut puluhan ribu korban jiwa (angka resminya 36.417 jiwa seperti dilansir pemerintah kolonial Hindia Belanda) menyedot perhatian segenap insan termasuk Bonilla. Baru setelah 2,5 tahun kemudian, tepatnya pada 1 Januari 1886, Bonilla melaporkan hasil pengamatannya pada majalah L’Astronomie yang dikelola astronom Perancis legendaris Camille Flammarion. Bonilla melaporkan bintik-bintik hitam itu teramati sejak 12 Agustus 1883 pukul 08:00 waktu lokal hingga 13 Agustus 1883 pukul 09:00 waktu lokal.

Editor majalah tak bisa menyajikan penjelasan memuaskan tentang fenomena apakah hal itu dari sudut pandang astronomi, sehingga menganggapnya sebagai bagian dari gangguan pengamatan yang disebabkan oleh migrasi kawanan burung yang terbang tinggi tepat di arah pandang teleskop. Penjelasan lainnya terkait terbang melintasnya kawanan serangga. Ada juga yang menganggapnya sebagai gangguan akibat debu-debu yang beterbangan hingga melintas tepat di arah pandang teleskop. Yang terpopuler adalah anggapan bahwa obyek-obyek yang diamati Bonilla dan staffnya merupakan bukti eksistensi benda terbang tak dikenal (UFO). Observasi Bonilla lantas dianggap sebagai bukti perjumpaan pertama umat manusia dengan UFO.

Komet Bonilla
Penjelasan yang lebih logis dari sisi astronomi baru mengemuka pada 128 tahun kemudian, saat Hector Manterola dkk mengajukan hipotesis baru. Obyek yang dilihat Bonilla dihipotesiskan merupakan komet seukuran komet Halley yang terfragmentasi dengan sangat intensif sehingga membentuk ribuan keping. Dan keping-keping komet tersebut melintas sangat dekat dengan Bumi.

Sesuai tatanama internasional, nama sebuah komet dinisbatkan kepada nama orang/program yang pertama kali mengidentifikasi kehadirannya. Sehingga fragmen-fragmen komet yang disaksikan Bonilla selanjutnya disebut komet Bonilla dalam tulisan ini.

Hipotesis fragmen komet ditegakkan berdasarkan karakteristik setiap bintik hitam, yakni berselimut kabut abu-abu dengan bentuk kabut asimetrik terhadap bentuk bintiknya. Jika hal ini dibandingkan dengan anggota-anggota tata surya pada umumnya, maka hanya komet yang memenuhi kriteria. Komet merupakan benda langit anggota tata surya yang dikenal mampu menyemburkan debu dan gas-gas mudah menguap (volatil) ke lingkungan sekitarnya seiring sublimasi di dalam inti komet sebagai imbas peningkatan suhu akibat lebih dekatnya inti komet ke Matahari dalam perjalanannya menuju perihelion orbitnya. Sublimasi memproduksi gas-gas yang lantas terjebak dalam cebakan (reservoir) dalam kerak inti komet untuk selanjutnya menyembur keluar sembari mengangkut debu halus dan gas-gas ringan lainnya pada saat tekanannya cukup besar dan menemukan titik lemah dalam kerak. Semburan debu dan gas itu menghasilkan atmosfer temporer yang kita kenal sebagai kepala komet (coma). Tekanan angin Matahari selanjutnya meniup debu dan gas ke satu arah tertentu menghasilkan bentukan panjang yang kita kenal sebagai ekor (komet). Maka bintik-bintik hitam berselimut kabut abu-abu yang teramati Bonilla lebih menyerupai inti komet dengan kepala kometnya. Dan bentuk asimetri kabut abu-abu tersebut mengindikasikan terbentuknya ekor komet tepatnya pada bagian kabut yang memanjang.

Gambar 2. Fragmen B dari komet Schwassmann-Wachmann 3, diabadikan teleskop landas-bumi Hubble pada 2006. Jika observasi berbasis teleskop sederhana dari permukaan Bumi hanya mengungkap adanya satu fragmen B, Hubble memperlihatkan di sekitar fragmen B (yakni fragmen yang paling terang) terdapat setidaknya 73 buah fragmen lainnya yang berukuran lebih kecil dan lebih redup. Sumber : STScI, 2006.
Gambar 2.
Fragmen B dari komet Schwassmann-Wachmann 3, diabadikan teleskop landas-bumi Hubble pada 2006. Jika observasi berbasis teleskop sederhana dari permukaan Bumi hanya mengungkap adanya satu fragmen B, Hubble memperlihatkan di sekitar fragmen B (yakni fragmen yang paling terang) terdapat setidaknya 73 buah fragmen lainnya yang berukuran lebih kecil dan lebih redup.
Sumber : STScI, 2006.

Fragmen-fragmen komet Bonilla merupakan produk dari sebuah fragmentasi massif pada komet, hal yang umum terjadi sebagai akibat rapuhnya struktur inti komet dan banyaknya faktor eksternal yang mampu menghadirkan gaya melebihi gaya ikat rapuh di antara molekul-molekul penyusun inti komet. Faktor eksternal itu berupa gravitasi Matahari/planet (khususnya jika komet memasuki orbit Rochhe-nya) dan tekanan angin/badai Matahari. Dalam 150 tahun terakhir kita telah mengamati lebih dari 40 buah komet yang terfragmentasi dengan beragam tingkat keparahan. Yang paling fenomenal adalah peristiwa fragmentasi komet Elenin akibat hantaman badai Matahari pada 20 Agustus 2011 hingga membuat komet yang sempat didesas-desuskan sebagai “komet kiamat” itu remuk seremuk-remuknya.

Analisis memperlihatkan fragmen-fragmen komet Bonilla memiliki panjang antara 68 hingga 1.022 meter dan lebar antara 46 hingga 795 meter dengan perkiraan massa antara 0,56 hingga 2.500 juta ton (asumsi denistas 0,95 g/cc). Sehingga tiap-tiap fragmen nyaris sama besarnya dengan sebongkah bukit. Dengan asumsi albedo 0,08 maka tiap fragmen komet Bonilla memiliki magnitudo absolut sebesar 17 hingga 23. Pada saat hendak melintas di latar depan Matahari maka setiap fragmen komet Bonilla memiliki magnitudo semu antara +3,6 hingga +9,7 (asumsi sudut fase 165 derajat). Meski mata manusia mampu mendeteksi benda-benda langit redup dengan batas maksimum magnitudo semu +6, namun dengan benderangnya antariksa dimana fragmen komet Bonilla berada oleh terangnya cahaya Matahari, tak satupun dari fragmen-fragmen komet tersebut yang bisa diidentifikasi sebelumnya. Hanya karena transit dengan Matahari-lah yang membuat fragmen-fragmen komet ini terdeteksi.

Bonilla mencatat rata-rata terdapat 131 fragmen komet yang mengalami transit dengan Matahari dalam setiap jamnya. Dengan perlintasan keseluruhan fragmen berlangsung selama 25 jam penuh, maka terdapat sedikitnya 3.275 buah fragmen komet Bonilla yang mengalami transit dengan Matahari. Jika massa debu hasil fragmentasi tak diperhitungkan, maka ribuan fragmen komet Bonilla itu berasal dari sebuah komet induk dengan massa antara 1,8 hingga 8.200 milyar ton. Dengan demikian komet induk itu memiliki diameter antara 1,5 hingga 25 km (asumsi berbentuk bola sempurna) dengan perkiraan magnitudo absolut antara 11 hingga 17.

Petaka Kosmik di Ujung Hidung

Gambar 3. Jejak tumbukan fragmen-fragmen komet Shoemaker-Levy 9 dengan Jupiter pada 1994 silam, nampak terkonsentrasi di sekitar garis lintang tertentu di hemisfer selatan Jupiter. Sumber : STScI, 1994.
Gambar 3.
Jejak tumbukan fragmen-fragmen komet Shoemaker-Levy 9 dengan Jupiter pada 1994 silam, nampak terkonsentrasi di sekitar garis lintang tertentu di hemisfer selatan Jupiter.
Sumber : STScI, 1994.

Yang mencengangkan dari fragmen-fragmen komet Bonilla ini adalah betapa dekatnya mereka melintas dengan Bumi. Analisis geometrik memperlihatkan, dengan fakta bahwa fragmen-fragmen tersebut tidak terlihat dari observatorium lainnya di Meksiko, maka fragmen-fragmen komet itu melintas hanya sejauh 538 hingga 8.062 km dari permukaan Bumi. Dengan demikian fragmen-fragmen komet Bonilla melintas-sangat dekat dengan Bumi, sebuah peristiwa perlintasan-dekat yang hanya bisa disebandingkan dengan kasus perlintasan-dekat asteroid 2011 CQ1 (diameter 1 meter) pada 5 Februari 2011 silam (sejauh 5.480 km saja dari permukaan Bumi). Dengan demikian fragmen-fragmen komet Bonilla tergolong ke dalam obyek berpotensi bahaya yang beresiko tinggi untuk bertumbukan dengan Bumi sehingga memiliki skala minimal 7 Torino.

Andaikata fragmen-fragmen komet Bonilla itu tidak hanya sekedar melintas-sangat dekat melainkan juga bertumbukan dengan Bumi, maka akibatnya bakal sangat serius. Saat memasuki atmosfer Bumi, komet memiliki rentang kecepatan antara 15 hingga 70 km/detik. Dengan asumsi kecepatan fragmen-fragmen komet Bonilla adalah 15 km/detik, maka tumbukan setiap fragmen dengan permukaan Bumi akan melepaskan energi luar biasa besar, yakni antara 15 hingga 67.200 megaton TNT, atau setara dengan 750 butir hingga 3,36 juta butir bom nuklir Hiroshima yang diledakkan secara serempak.

Dengan demikian energi tumbukan akumulatif untuk 3.275 fragmen komet Bonilla yang jatuh ke Bumi mencapai nilai antara 0,05 hingga 240 juta megaton TNT, sebuah tingkat energi nilai yang hanya bisa disetarakan dengan peristiwa-peristiwa pemusnahan massal seperti musnahnya dinosaurus 65 juta tahun silam. Mengingat komet Bonilla terdiri dari fragmen-fragmen, maka tumbukannya dengan permukaan Bumi tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan di banyak titik yang terletak pada satu garis lintang yang sama yakni di sekitar garis khatulistiwa. Dengan demikian peristiwa tumbukan tersebut, jika benar-benar terjadi, bakal menyamai peristiwa tumbukan komet Shoemaker-Levy 9 dengan planet Jupiter pada 17-24 Juli 1994 silam. Jika dibandingkan dengan petaka lain di bulan Agustus 1883, yakni letusan katastrofik Gunung Krakatau yang melepaskan energi minimal 200 megaton TNT, maka energi yang dilepaskan fragmen-fragmen komet Bonilla itu akan 268 kali hingga 1,2 juta kali lipat lebih dahsyat.

Dengan demikian, saat dunia sibuk berhadapan dengan kengerian petaka letusan Gunung Krakatau 1883, pada saat yang sama petaka kosmik lainnya dalam tingkatan yang jauh lebih besar melintas di ujung hidung manusia. Dibanding letusan Krakatau, petaka kosmik itu jauh berpotensi melenyapkan peradaban manusia sekaligus memusnahkan sebagian besar makhluk hidup lainnya. Beruntung bahwa hal itu tidak terjadi.

Sumber :
Manterola dkk, 2011, Interpretation of the Observations Made in 1883 in Zacatecas (Mexico): A Fragmented Comet that Nearly Hits the Earth, ArXiv.org.

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan terus berusaha mencoba menjadi komunikator sains. Saat ini aktif di Badan Hisab dan Rukyat Nasional Kementerian Agama Republik Indonesia. Juga aktif berkecimpung dalam Lembaga Falakiyah dan ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula di Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), klub astronomi Jogja Astro Club dan konsorsium International Crescent Observations Project (ICOP). Juga sedang menjalankan tugas sebagai Badan Pengelola Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong dan Komite Tanggap Bencana Alam Kebumen.

1 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini