fbpx
langitselatan
Beranda » Komet Elenin Telah Hancur-Lebur

Komet Elenin Telah Hancur-Lebur

Antiklimaks. Begitulah bab akhir untuk saga komet Elenin. Jika semula digadang–gadang bakal menjadi komet paling terang sepanjang 2011 (lihat di sini) dan sebagian manusia lainnya khususnya yang meyakini komet ini sebagai the real Nibiru dan bakal terlibat dalam petaka 2012 berharap–harap cemas, faktanya sang komet justru bernasib tragis. Setelah terbelah oleh hantaman badai Matahari 20 Agustus 2011 (lihat di sini), pemecah–belahan ternyata terus berlanjut seiring kian mendekatnya komet Elenin ke Matahari hingga mencapai perihelionnya pada 10 September 2011 silam. Reaksi berantai pembelahan itu membuat komet Elenin pun hancur–lebur, tinggal menyisakan gumpalan–gumpalan seukuran batu dan debu yang terserak di langit membentuk awan debu yang khas.

Kondisi inilah yang menyebabkan komet Elenin tak pernah terdeteksi lagi sejak mencapai perihelionnya. Bahkan meskipun komet telah memasukimedanpandang satelitSOHOpada akhir September 2011, komet tak ketahuan jejaknya. Pun demikian pada 16 Oktober lalu, saat komet diperhitungkan melintas dekat Bumi yakni sejauh 35 juta km. Meskipun magnitudo semu komet pasca peristiwa 20 Agustus 2011 diestimasikan berada di sekitar +12, faktanya komet tetap tidak teramati.

Gambar 1. Citra awan debu sisa komet Elenin pada 23 Oktober 2011, nampak redup dibanding bintang didekatnya. Sumber : Remanzacco Observatory, 2011.

Upaya mengamati komet Elenin pasca melintasi perihelionnya sebenarnya tak kurang–kurang. Leonid Elenin, sang penemu komet ini, pada 6 Oktober 2011 melaporkan upayanya melacak komet Elenin tanpa hasil. Namun ia mencurigai keberadaan obyek aneh mirip awan yang sangat redup dengan magnitudo semu +18, pada posisi dimana seharusnya komet Elenin berada. Meski demikian, dengan kualitas citra yang jelek karena diambil dalam situasi di dekat horizon sehingga gelimang cahaya fajar nautikal sangat terasa.

Gambar 2. Komet Elenin dalam dua kesempatan berbeda (sebelum dan sesudah pemecah–belahan brutal). Sumber : Matiazzo, 2011 dan Elenin, 2011.

Upaya melacak jejak komet Elenin akhirnya menemukan hasilnya pada 21 Oktober 2011, tatkala tim Remanzacco Observatory dengan memanfaatkan teleskop robotik Mayhill (AS) berhasil mengidentifikasi sebentuk awan aneh yang redup (magnitudo semu +15) pada lokasi komet Elenin berada. Guna mengantisipasi kemungkinan awan ini hanyalah cacat fotografis yang salah satunya disebabkan oleh terangnya cahaya Bulan, tim mengamati ulang awan redup tersebut, yang tenyata sedikit bergerak dibanding posisinya dalam 2 hari sebelumnya. Maka dapat dipastikan awan redup tersebut adalah sisa–sisa komet Elenin. Rupanya, pemecahbelahan komet Elenin berlangsung lebih brutal dibanding diduga semula. Peristiwa ini sekaligus mendemonstrasikan bagaimana dahsyatnya kekuatan sebuah badai Matahari terhadap benda langit kecil nan rapuh seperti komet.

Gambar 3. Citra awan debu sisa–sisa komet Elenin dalam warna nyata (atas) dan semu yang dipertajam (bawah). Sumber : Remanzacco Observatory, 2011

Sisa–sisa komet Elenin kini terdispersi dalam bentuk awan debu lonjong sepanjang 1,5 derajat dengan lebar terbesar 10 menit busur. Meski morfologinya mengingatkan kita pada komet Shoemaker–Levy 9 saat ditemukan pada 1993 silam, yang kemudian menghantam planet gas raksasa Jupiter setahun kemudian, namun ada beberapa perbedaan mencolok. Pada komet Shoemaker–Levy 9, pecahan–pecahan kometnya masih bisa diidentifikasi dan semuanya masih memperlihatkan aktivitasnya sehingga masing–masing tetap membentuk coma (kepala komet) dan ekor komet. Sebaliknya, pada komet Elenin, pecahan–pecahannya tidaklah demikian. Dengan posisinya yang jauh lebih dekat ke Matahari dibanding komet Shoemaker–Levy 9 pada 1993 silam, seharusnya pecahan–pecahan komet Elenin masih memperlihatkan sisa aktivitasnya. Ini mendatangkan dua dugaan: komet telah terpecah–belah demikian brutal sehingga menjadi gumpalan–gumpalan seukuran debu dan batu, atau pecahan–pecahan komet Elenin telah kehilangan bahan–bahan volatil di permukaannya sehingga menjadi komet mati.

Baca juga:  Galaksi yang Berlimpah-limpah
Gambar 4. Komet Shoemaker–Levy 9 sesaat setelah penemuannya (23 Juni 1993), nampak sebagai kumpulan pecahan–pecahan komet yang membentuk untaian. Perhatikan perbedaannya dengan citra awan debu sisa–sisa komet Elenin dalam gambar 3. Sumber : Remanzacco Observatory, 2011.

Guna memastikan apa yang terjadi, dibutuhkan observasi lebih lanjut khususnya memanfaatkan instrumen yang lebih peka, misalnya teleskop landas bumi Hubble, sepanjang kondisinya memungkinkan. Tetapi apapun langkah observasi lebih lanjut tersebut dan apapun instrumen yang hendak digunakannya, tampaknya sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal bagi komet Elenin. Komet yang lenyap dari tata surya bukan karena jatuh/menumbuk planet lain, teruapkan oleh Matahari seperti halnya komet sungrazer, ataupun terlempar keluar dari lingkungan tata surya. Melainkan lenyap akibat proses pemecah–belahan brutal yang membuatnya hancur–lebur.

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan terus berusaha mencoba menjadi komunikator sains. Saat ini aktif di Badan Hisab dan Rukyat Nasional Kementerian Agama Republik Indonesia. Juga aktif berkecimpung dalam Lembaga Falakiyah dan ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula di Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), klub astronomi Jogja Astro Club dan konsorsium International Crescent Observations Project (ICOP). Juga sedang menjalankan tugas sebagai Badan Pengelola Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong dan Komite Tanggap Bencana Alam Kebumen.

11 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini

  • Kalau Komet Elenin telah hancur,, apakah Komet Halley dan komet2 yg lain jg akan mengalami hal yg sama ? berapa lama biasanya usia komet itu ?

    • Seluruh komet pada dasarnya juga akan mati, termasuk Halley. Ada tiga cara yg membuat komet mati : terlempar keluar dari tata surya, menumbuk planet/asteroid/komet lainnya dan kehilangan bahan2 mudah menguapnya baik karena terlalu dekat dengan Matahari maupun karena jumlah bahan tersebut memang sudah habis setelah melintas berkali-kali. Peristiwa tragis yang dialami komet Elenin menambahkan faktor keempat bagi kematian komet : hancurlebur akibat badai Matahari.

      Jika mengacu pada jumlah bahan volatil dalam komet, usia sebuah komet bergantung kepada tipe komet. Komet2 keluarga Jupiter (periode < 20 tahun) dapat bertahan ~ 1.000 kali mengorbit Matahari (< 20.000 tahun) di orbitnya. Sementara komet2 periode pendek (periode 200 tahun) umurnya lebih singkat dibanding komet keluarga Jupiter.

      Setiap komet yang sudah mati dengan cara ini masih meninggalkan gumpalan sisa inti komet yang berisikan bahan2 gelap dan sulit menguap. Modelling menunjukkan 60 % asteroid dekat Bumi merupakan komet mati yang berevolusi menjadi asteroid.

  • Terus,kalau semua komet sudah mati,, apakah ada pengaruhnya bagi sistem tata surya atau kehidupan manusia di Bumi ??

    • Yang pertama harus dicatat, jumlah komet di tata surya sangat banyak, diperkirakan 10 hingga 20 trilyun meski yang telah kita dokumentasikan baru berkisar 4.000-an buah saja. Jumlah sebanyak ini nggak mengalami kematian secara sekaligus, melainkan bertahap, satu demi satu. Meski angkja pastinya berapa buah komet yang mati setiap tahunnya belum kita ketahui.

      Apa pengaruhnya komet mati bagi Bumi? Jika matinya seperti komet Elenin namun orbitnya berdekatan dengan orbit Bumi, akan muncul hujan meteor dalam kuantitas badai. Seperti yang terjadi pasca matinya komet Biela di tahun 1852, yang menghasilkan badai meteor Andromedids. Jika matinya hanya karena kehabisan bahan2 mudah menguapnya, komet akan berubah jadi asteroid. Inilah susahnya, sebagai asteroid dia lebih susah dideteksi, padahal seperti halnya asteroid, komet memiliki stabilitas orbit yang rendah sehingga suatu saat bisa bertabrakan dengan planet, planet katai maupun sesama asteroid

    • Untuk kasus komet Elenin, karena orbitnya tak berpotongan dengan orbit planet manapun, ya tidak timbul apa-apa. Apalagi kometnya sendiri sudah hancur lebuir. Dalam tinjauan astrofisika, hancur-leburnya komet Elenin menjadi bubuk membuat energi kinetik per butir yang dikandungnya menjadi sangat kecil sehingga mudah diantisipasi

  • Numpang tanya mas Ma’ruf orbitnya komet itu ada berapa macam ya? apa sama dengan orbit planet? karena punya aphelion dan perihelion

    • Ada tiga macam orbit komet : ellips, parabola dan hiperbola. Kalo ellips bentuknya sama dengan orbit planet, ada aphelion dan perihelion juga. Bedanya, kelonjongan (eksentrisitas) orbit komet biasanya lebih besar sehingga lebih lonjong. Kemiringan orbitnya (inklinasi) juga lebih besar. Pada orbit parabola dan hiperbola, hanya ada perihelion. Komet yang memiliki orbit jenis ini hanya bertahan sebentar di tata surya, karena langsung dipaksa keluar oleh Matahari.