Roket Air yang Aman Diluncurkan

Bagi penggemar setia hand’s on activities roket air di langitselatan, mungkin akan muncul pertanyaan, “Kira-kira langitselatan akan mengupas apalagi ya untuk dibagikan kepada para sahabat-sahabat rocket’ers se-Indonesia? Kali ini penulis akan menjelaskan cara pembuatan model terbaru badan roket versi penulis sehingga aman diluncurkan.

Pengembangan yang penulis lakukan adalah pada desain badan roketnya. Hal ini bermula dari masalah yang penulis temui yaitu lokasi peluncuran yang kurang luas saat meluncurkan di tempat-tempat tertentu yaitu di kompleks perumahan, sekolah-sekolah di perkotaan, maupun areal umum lainnya seperti alun-alun. Dari segi keamanan, tentunya cukup berbahaya jika kita meluncurkan roket standar di tempat-tempat umum. Saat peluncuran, roket air yang menggunakan pemberat berupa plastisin ketika diluncurkan akan jatuh ke bumi dengan energi yang lumayan besar sehingga bisa melukai orang maupun melubangi genteng rumah. Dari pengalaman penulis saat berlatih meluncurkan roket dengan beberapa siswa-siswi SMP di Bandung, ada sebuah roket peserta yang melesat keluar jalur dan jatuh di jalan raya. Untungnya roket ini tidak mengenai pengguna jalan raya, hanya saja roket ini terlindas mobil.

Roket panjang ukuran kecil menggunakan botol Pocari Sweat ukuran kecil. Walaupun bukan botol minuman soda, karakteristik plastik botol ini cukup elastis sehingga kuat menahan tekanan tinggi. Kredit foto: Kodiron

Permasalahan ini dapat di atasi dengan mengubah desain roket. Modifikasi dilakukan agar roket yang diluncurkan ketika jatuh ke Bumi akan turun secara melayang, tidak menghujam langsung ke Bumi. Desain yang akan penulis jelaskan berikut ini bersumber dari oleh-oleh ilmu yang didapat dari salah seorang sahabat yang berkesempatan mengikuti ajang kompetisi roket air internasional di Australia tahun 2010 silam. Roket air desain awal menggunakan plastik panjang dan nose cone (bagian hidung/moncong roket) yang terbuat dari bagian bawah botol. Dari desain asli roket air yang merupakan desain dari Jepang ini, penulis modifikasi bagian nose cone untuk mengurangi gesekan udara saat roket meluncur.

Pembuatan nose cone itu sendiri sempat tertunda lama. Hal ini dikarenakan penulis belum menemukan metode mana yang murah dan relatif mudah dibuat di Indonesia. Pembuatan nose cone sendiri bermacam-macam. Ada yang mencetak dengan menggunakan mesin oven dan plastik khusus, membuatnya dengan kombinasi alat pemutar botol dan hair dryer, dan ada yang menggunakan sistem perebusan di dalam air. Cara terakhir adalah  cara yang penulis pilih yaitu dengan sistem perebusan. Cara ini walaupun “agak” sedikit berbahaya namun hasil yang didapat memuaskan. Desain nose cone yang paling cocok untuk roket air bukanlah berbentuk kerucut lancip. Desain kerucut lancip hanya cocok untuk desain roket asli yang bergerak pada kecepatan supersonik. Roket air memiliki kecepatan yang lebih rendah sehingga nose cone berbentuk kerucut parabolik adalah pilihan yang ideal.

Ujicoba peluncuran yang penulis lakukan menghasilkan luncuran roket yang memuaskan. Jika diarahkan secara vertikal, roket memiliki kecenderungan untuk terbang secara lurus. Titik berat roket harus lebih berat ke arah depan. Desain roket panjang dapat menghilangkan penggunaan plastisin sebagai pemberat. Penggunaan mika tebal untuk memperpanjang badan roket memberi kompensasi yang sama dengan penggunaan plastisin. Artinya, titik berat roket tetap di bagian nose cone. Sedikit saran dari pengalaman penulis meluncurkan roket panjang ini adalah jangan meluncurkan roket panjang dengan kemiringan sudut tertentu. Roket panjang hanya cocok diluncurkan secara vertikal. Roket panjang akan hancur jika diluncurkan dengan sudut kemiringan kurang dari 80 derajat. Roket akan meluncur mengikuti gerak peluru yaitu lintasan parabola di mana bagian pertama yang akan menghujam bumi adalah nose cone. Bagian nose cone tidak dilengkapi peredam sehingga energi hantaman akan mengakibatkan plastik mika robek dan sebagian hancur.

Roket panjang ukuran besar menggunakan botol pepsi ukuran 1,5 liter diluncurkan dengan menggunakan Peluncur tipe Marsiano.

Untuk bagian badan yang membawa bahan “bakar” berupa air, penulis telah mengujicoba beberapa macam botol. Untuk roket ukuran kecil, botol Pocari Sweat ukuran kecil bisa digunakan. Untuk ukuran besar, botol yang digunakan adalah botol bekas minuman soda 1,5 liter. Dari hasil percobaan, botol ukuran besar yang penulis tidak sarankan adalah botol Pulpy ukuran 1 liter. Walaupun jika kita pegang terasa bahan plastik yang tebal, saat dipompa, botol ini pecah pada bagian dasar botolnya. Botol pulpy tidak cukup elastis sehingga botol meledak. Suara ledakan cukup keras sehingga cukup membuat sakit telinga terutama jika kita memompa di dekat peluncur.

Adapun pengembangan yang penulis lakukan baik pada peluncur maupun badan roket, didasarkan pada metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).  Metode ATM itu sendiri di dunia Barat lebih dikenal dengan istilah reverse-engineering yang dulu juga dipakai Jepang dalam industri otomotifnya sehingga produk Jepang sekarang bisa bersaing dengan produk serupa buatan Eropa maupun Amerika Serikat. Dengan semangat berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) yang pernah dikobarkan oleh Bung Karno inilah, pengembangan roket air ala Indonesia terus penulis lakukan agar bisa disebarkan ke seluruh penjuru negeri raya Indonesia.

Badan roket air yang akan dijelaskan pada artikel terpisah merupakan roket yang aman untuk menyiasati lahan yang sempit walaupun kendala lain akan muncul yaitu kemungkinan roket nyangkut di pohon atau atap rumah. =)

Taut video peluncuran roket panjang dapat dilihat pada you tube dengan alamat:

Ditulis oleh

Aldino Adry Baskoro

Aldino Adry Baskoro

alumnus astronomi ITB yang saat ini berprofesi sebagai pendidik di sekolahalam Minangkabau dan penulis di langitselatan.