Komet Penabrak Matahari

Para ahli Matahari dari University of California, Barkeley, menjadi saksi mata sekaligus pemotret pertama dari kisah tabrakan komet dan Matahari, dengan menggunakan STEREO kembar milik NASA. Para saksi mata dari Space Sciences Laboratory UC Barkeley juga berhasil melacak jejak komet saat ia mendekati Matahari dan memberikan estimasi waktu dan lokasi terjadinya tabrakan.

STEREO (Solar TErrestrial RElations Observatory) yang diluncurkan tahun 2006, terdiri dari pesawat ruang angkasa kembar yang mengorbit Matahari. Salah satu pesawat tersebut berada di “depan” Bumi dan yang satu lagi di “belakang” Bumi sehingga keduanya dapat memberikan pandangan yang berimbang tentang Matahari.

Jejak Komet
Perhatian untuk komet ini pertama kali diberikan oleh Martinez-Oliveros’ setelah ia melihat hasil pengamatan STEREO dan SOHO pada tanggal 12 Maret 2010. Ekor debunya yang terang dan panjang saat mengekor Matahari memang membuat ia langsung dikenali oleh STEREO maupun pengamat lainnya.

Dengan asumsi bahwa komet ini akan memutari Matahari, maka para pengamat berharap bisa mendapatkan lintasan komet tersebut. Pada kenyataannya, data yang ada memang cukup untuk bisa mendapatkan jejak lintasan si komet 2 hari sebelum ia menabrak Matahari.

Dengan memperkirakan zona tabrakan akan berada dalam lingkaran dengan diameter 1000 km, para peneliti ini kemudian mencari data online dari Mauna Loa Solar Observatory untuk dapat menentukan apakah si komet akan terlihat di samping tepian Matahari pada area spektrum ultraungu.

Hasilnya, ditemukanlah jejak pendek yang berakhir dalam 6 menit, beberapa kilometer di atas permukaan Matahari dalam area dengan suhu jutaan derajat di Korona dan 100000 derajat di Kromosfer.

Komet Yang Menabrak Matahari

Pengamatan hidrogen-alpha dengan instrumen Coronado di Mauna Loa Solar Observatory. Kredit : Claire Raftery, Juan Carlos Martinez-Oliveros, Samuel Krucker/UC Berkeley

Dari data yang didapat oleh pengamatan landas Bumi di Mauna Loa Solar Observatory, Hawaii, para peneliti menemukan citra yang memprediksikan spot atau titik yang diprediksi sebagai komet yang sedang mendekati tepian Matahari dari balik piringan Matahari. Dan menurut Claire Raftery dari UC Barkeley, ini merupakan kejadian pertama dimana sebuah komet berhasil dilacak di area korona Matahari.

Komet yang tampak menyentuh Matahari tersebut terdiri dari debu, batuan dan es. Selain itu komet memang jarang bisa dilacak berada dekat dengan Matahari karena kecerlangannya tertutupi piringan matahari. Komet yang satu ini tampaknya berhasil lolos dari panasnya korona dan kemudian menghilang dalam kromosfer, kemudian menguap pada suhu 100 000 Kelvin.

Raftery, Juan Carlos Martinez-Oliveros, Samuel Krucker dan Pascal Saint-Hilaire, yang khusus meneliti tabrakan komet dengan Matahari tersebut menyimpulkan kalau si komet tersebut merupakan salah satu komet dari keluarga Kreutz, kawanan komet Trojan yang terlontar dari orbitnya di tahun 2004 oleh Jupiter dan kemudian melakukan putaran pertama dan terakhirnya mengelilingi Matahari. Diperkirakan kawanan tersebut berasal dari kehancuran komet besar.

Dari ekor sepanjang 3 km, yang sebenarnya juga cukup pendek, para peneliti meyakini kalau komet penabrak Matahari tersebut terdiri dari elemen berat yang belum siap untuk menguap. Hal ini jugalah yang menjelaskan mengapa ia bisa masuk sedemikian dalam ke kromosfer dan berhasil selamat dari angin Matahari dan temperatur ekstrim yang ada di Korona sebelum akhirnya komet tersebut menguap tanpa jejak.

Sumber : UC Barkeley

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...