Kunjungan Cassini Ke Enceladus dan Titan

Setelah 1,5 bulan berlalu semenjak terbang lintas ganda yang dilakukannya, Cassini akan melakukan belokan dan putaran ganda minggu ini.

Apa yang akan dilakukan Cassini?

Dalam perjalanannya yang sepi di ruang angkasa, minggu ini Cassini akan mengunjungi satelit geyser Enceladus dan satelit berkabut Titan. Posisi kedua satelit yang sejajar tentunya mempermudah Cassini untuk melayangkan pandangannya pada kedua dunia yang berlawanan ini hanya dalam waktu kurang dari 48 jam, tanpa perlu melakukan manuver di antara keduanya.

Kanan: Enceladus dan sumber yang mirip kolam. Kiri: Dunia berkabut Titan. kredit : NASA/JPL/SSI dan NASA/JPL/University of Arizona

Terbang Lintas Enceladus
Cassini akan berada pada jarak terdekatnya dengan Enceladus pada tengah malam tanggal 17 Mei waktu Pasifik, atau dini hari 18 Mei UTC. Pesawat ruang angkasa tersebut akan melewati Enceladus pada jarak 435 km dari pemrukaan satelit.

Tujuan utamanya adalah untuk melihat Matahari yang tengah bermain cilukba dari balik jejak mirip anak sungai yang kaya air dan bersumber dari area kutub selatan satelit tersebut. Dengan menggunakan pencitraan ultraungu dengan spektograf, para peneliti akan dapat menggunakan kelap kelip cahaya untuk mengukur keberadaan nitrogen dalam anak sungai tersebut.

Pada anak sungai di Enceladus ini, amonia sudah berhasil dideteksi dan panas bisa menyebabkan pembusukan pada amonia sehingga menjadi molekul nitrogen. Dengan mengetahui jumlah molekul nitrogen di anak sungai akan dapat memberi petunjuk proses thermal yang terjadi dalam interior satelit.

Melintasi Titan
Terbang lintas kedua yang akan dilakukan Cassini adalah untuk mengunjungi Tita, si satelit yang katanya mirip dengan Bumi purba. Cassini akan berada pada jarak terdekat yakni 1400 km dari permukaan pada sore hari 19 Mei 2010 waktu pasifik atau dini hari 20 Mei.

Di Titan, Cassini akan melakukan analisa radio untuk mendeteksi perubahan yang lemah yang terjadi pada gangguan gravitasi yang ditimbulkan pada pesawat ruang angkasa oleh Titan, satelit yang lebih besar 25% dari Merkurius. Hasil analisa data akan dapat memberi informasi keberadaan lautan di bawah permukaan Titan dan untuk mendapatkan citra yang lebih baik dari struktur internalnya. Selain itu spektrometer inframerah juga akan bekerja untuk mendapatkan data thermal dari area paling selatan Titan agar dapat mengisi peta temperatur dari satelit berkabut ini.

Sumber ; NASA

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...