Resensi Buku : How the Universe Gots Its Spots, Diary of a Finite Time in a Finite Space

Apakah alam semesta itu tak hingga atau hanya sangatlah besar? Sebuah pertanyaan yang tidak pernah memberikan satu jawaban yang pasti; ada begitu banyak jawaban bisa diberikan, dan dalam matematika, dikenal ‘tak hingga’, ada tak hingga jawaban untuk itu. Tapi apakah tak hingga itu bisa diterima sebagai sebuah keniscayaan, ataukah karena memang ada sebuah keterbatasan yang harus dibatasi oleh ‘tak hingga’?

Pertanyaan yang sangat fundamental tersebut berasal dari pertanyaan seorang ahli kosmologi, Janna Levin, yang ia tuangkan dalam bukunya, ‘How the Universe Got its Spots’, sebuah buku yang mencoba menjelaskan tentang alam semesta dari perspektif seorang ahli matematika, dan menerapkan pengetahuannya tentang topologi dan geometri untuk membangun sebuah model alam semesta.

Membaca judul buku ‘How the Universe Got its Spots’ (HUGS), mungkin akan membuat orang berpikir sebelum membacanya; apakah ini buku yang menjelaskan tentang ‘alam semesta’? Pada satu sisi, iya, buku ini memang bercerita tentang alam semesta dari sudut pandang seorang ilmuwan.

Apakah buku ini berbicara banyak dengan bahasa teknis yang membuat kita harus mengernyitkan dahi? Ternyata tidak, buku ini lebih merupakan catatan pribadi penulisnya (JL), yang pada awalnya disusun dalam bentuk surat-surat, yang ia tujukan untuk sekedar menceritakan hal-hal yang ia ingin bagikan dengan ibu si penulis. Lebih tepat lagi, buku ini merupakan catatan pribadi penulis yang ditujukan pada ibunya, yang menceritakan berbagai detil, dari detil kehidupan pribadi, detil pekerjaan, tetapi yang paling menarik adalah, apa yang telah penulis kerjakan tersebut dibagikan kepada sang ibu, tentunya dalam bahasa yang bisa dipahami oleh si ibu. Dan pekerjaannya adalah mempelajari tentang bagaimanakah alam semesta ini, apakah sebegitu tak hingga besarnya? Atau sebetulnya hanya sangat besar, tetapi kita tidak mendapatkan batasannya? Sebagai surat untuk seorang ibu, bahasa yang dipergunakan tentulah bahasa yang dipergunakan oleh setiap anak kepada ibunya, penuh kesederhanaan dan kegairahan sang anak memandangi hidup dan kehidupannya.

Tentunya catatan ini bisa menjadi sebuah buku, karena tersusun dalam tahapan-tahapan yang jelas dan terstruktur, sehingga siapapun yang membacanya, bisa mengikuti dan perlahan ikut membayangkan bagaimana penulis membangun alam semestanya. Dan sub judul ‘Diary of a Finite Time in a Finite Space’, memberikan penggambaran yang pas, bahwa buku tersebut merupakan sebuah refleksi dari ‘catatan harian’ si penulis.

Sebagai sebuah buku, buku ini cukup unik, karena disusun berdasarkan tanggal-tanggal penulis mencatat; karena memang demikianlah adanya, semua berawal dari catatan-catatan pribadi, yang disusun untuk menjadi surat yang ditujukan untuk ibu si penulis, tetapi tidak pernah terkirimkan (pendahuluan). Jadi lebih seperti membaca sebuah buku harian.

Buku ini diawali dari kegelisahan penulis, karena penulis lebih mempercayai bahwa alam semesta ini terbatas, tidak seperti kebanyakan yang menganggap bahwa alam semesta luas tak berhingga; dan itu adalah satu-satunya alasan ia menuliskan itu semua kepada ibunya. Ia hanya menceritakan kegelisahannya. Pada saat yang sama, ia juga menceritakan perjalanan bersama sang pacar, Warren, pada suatu periode dalam hidupnya. (bab 1).

Apabila kita membaca buku tersebut, maka setiap halaman yang terbuka memberikan tahap-tahap yang jelas tentang bagaimana penulis memahami alam semesta ini, mulai dari memperkenalkan sistem bilangan sebagai bahan baku utama penyusun alam semesta ini, apakah tak hingga, apa itu terbatas, itu semua adalah sebuah konsekuensi sistem bilangan, yang merupakan keniscayaan matematika (bab 2).

Seiring dengan semakin kita mengikuti buku ini, semakin berkembang pemikiran tentang alam semesta ini, seperti, apakah memang ‘tak hingga’ punya tempat di alam? Apakah itu gravitasi? Lubang hitam? Teori Relativitas, khusus dan umum? Quantum gravitasi, dan berbagai tema yang berkait dengan konsepsi alam semesta, dari konsep mekanika dasar, sampai mekanika quantum, tentunya dalam bahasa yang jauh dari kesan teknis.

Memahami topologi dapat digambarkan tanpa harus berumit-rumit, seperti menyusun prakarya dari karton (bab 12), sehingga salah seorang teman penulis memberikan istilah “intergalactic origami”, sungguh sebuah istilah yang pas untuk menggambarkan uraiannya. Seringkali, uraian matematika, direferensikan dengan mahakayarya pelukis-pelukis besar, sehingga bisa memberikan kita konsepsi visual tentang geometri dan ruang yang telah terumuskan dalam persamaan matematika (yang tentunya tidak ada satupun persamaan ditulis dalam buku itu).

Sebagai sebuah catatan pribadi, penulis seringkali menyisipkan hal-hal yang bersifat pribadi, tetapi relevan, untuk menguraikan tentang ilmu yang sedang ia jelaskan. Kadang ia menjelaskan dengan candaan ala remaja, seperti salam-salaman para pemain basket pro (hal 48), kadang ia membahas tentang realitas dalam perspektif yang sangat filosofis (hal 62), bahkan sampai pada isu divinitas (hal 65). Demikian juga, disana-sini ditemukan bahwa penulis menuliskan curhatannya, mengenai kehidupan yang ia jalani, mengenai hal-hal yang memang ia curhatkan. Bahkan sebagai sebuah buku yang membawa pesan teknis (karena mencoba menjelaskan tentang alam semesta), disertai juga motivasi pribadi, mengapa ia mengerjakan itu semua (hal 97).

Loncatan pemikiran kesana kemari, tetapi bukan berarti tidak relevan, pada akhirnya membuat buku ini menjadi begitu berwarna; dan klimaksnya adalah pada pokok pikiran yang mengendap dalam benaknya, ‘Mengapa Alam Semesta Mendapatkan Bintiknya?’ (judul buku), tentunya tidak akan menarik kalau dikatakan disini, mengapanya itu; tetapi dengan menganalogikan kajian para ahli matematika biologi, sebagaimana biologi, dalam kosmologi, ‘kebun binatang alam semesta’ dengan berbagai corak geometri dan topologi, bisa saja mereplikasikan belang-nya zebra sampai totol-totol leopard.

Setelah perenungan yang panjang, buku ini diakhiri, dan dengan mensitir adagium Einstein, sang pahlawannya penulis, bahwa hidup dan kehidupan (si penulis – seperti juga kehidupan kita semua), akan selalu mengikuti suatu putaran (loop) ruang-waktu (sebagai suatu kesatuan). Demikian juga buku tersebut diakhiri oleh tokoh-tokoh yang muncul di awal (Boltzmann & Ehrenfest), juga di tempat ketika penulis memulai menulis buku tersebut (di San Fransisco). Suatu putaran dalam ruang-waktu dalam sebuah buku.

Akhirnya, buku ini menarik untuk dibaca, tidak hanya oleh mereka yang sekedar ingin tahu tentang alam semesta, tapi juga siapapun kita, yang ingin tahu, seperti apakah kehidupan seorang ilmuwan, permasalahan yang dihadapinya, secara khusus sebagai seorang wanita mandiri melihat dunia, tentang seorang anak yang begitu ingin berbagi dengan ibunya; tidak hanya tentang dunia yang begitu teknis, tapi juga bagi yang ingin mengetahui, bahwa matematika dan seni itu adalah dua sisi dari keindahan dunia kita (hal 154). Juga buku ini menggambarkan, bahwa alam semesta kita dapat digambarkan sebagai keindahan sebuah imajinasi, seperti yang disampaikan oleh sang pahlawan, Einstein, “Imajinasi jauh lebih penting daripada pengetahuan”. Bahkan apabila kita membaca buku ini, mungkin menyadarkan kita, matematika itu bukanlah sesuatu yang menyeramkan (seperti yang selama ini kita bayangkan), karena dengan matematika kita bisa menggambarkan dunia kita (hal 31, hal 166); demikian juga matematikawan adalah seperti juga ahli bahasa (hal 128).

Pada akhirnya, buku ini akan mengajak kita untuk, ikut, paling tidak sekedar berpikir, seperti apakah alam semesta kita, dan mencari tahu tempat kita dalam semesta ini. Kalaupun tidak kita yang melakukan, mungkin anak-anak kita, atau siapapun yang tercerahkan, sebagaimana yang telah dilakukan Einstein, walaupun tidak terhadap anak-anaknya, tetapi itu terjadi pada si penulis (hal 50), buku ini bisa menjadi bekal pada warisan ilmu pengetahuan bagi generasi-generasi berikut penguak rahasia alam semesta.

Ditulis oleh

Emanuel Sungging

jebolan magister astronomi ITB, astronom yang nyambi jadi jurnalis & penulis. Punya hobi dari fotografi sampe bikin komik, pokoknya semua yang berhubungan dengan warna, sampai-sampai pekerjaan utamanya adalah seperti dokter bedah forensik, tapi alih-alih ngevisum korban, yang di visum adalah cahaya, seperti juga cahaya matahari bisa diurai jadi warna cahaya pelangi. Maka oleh nggieng, cahaya bintang (termasuk matahari), bisa dibeleh2 dan dipelajari isinya.

11 thoughts on “Resensi Buku : How the Universe Gots Its Spots, Diary of a Finite Time in a Finite Space

  1. nampaknya ada juga yg meyakini alam semesta itu terbatas…kalau saja saja keyakinan itu berasal dari iman kepada Alloh…sungguh beruntung dia…karena Alloh bilang bahwa segala sesuatu diciptakan memiliki ukuran, bukan tak terbatas (QS 54 ayat 49)…hanya saja kemampuan kita saja yg terbatas sehingga kita tidak tahu batas alam semesta…boleh saja membaca buki ini sebagai penambah pengetahuan tapi kalau sampai melupakan al-qur’an…lain masalahnya…karena al-qur’an itu adalah perkataan pencipta kita…jauh lebih penting dari semuanya

    1. “boleh saja membaca buki ini sebagai penambah pengetahuan tapi kalau sampai melupakan al-qurโ€™an” … bagaimana jika yang membaca non-muslim ๐Ÿ™‚ , saya kira jangan terlalu menyamaratakan pikiran dengan agama yang anda anut.

      Al-Quran memang penting karena itu adalah petunjuk Tuhan , tapi lebih penting memahami dan mengamalkan apa yang dsampaikan Tuhan melalui Al-Quran daripada “mengkramatkan” Al-Quran tanpa membedah apa yang ada dalam Al-Quran dan mencari relevansinya dengan kehidupan manusia , tanpa menimbulkan pertentangan karena perbedaan keyakinan ๐Ÿ™‚

  2. Kepercayaan Janna Levin bahwa alam semesta itu terbatas perlu digarisbawahi. Bisa jadi kepercayaan seperti itu sebenarnya menjadi bawaan setiap manusia tak terkecuali para ilmuwan. Dengan mengakui alam semesta itu terbatas tentunya akan membawa kepada keyakinan adanya sesuatu yang tidak terbatas dan tidak terhingga yang biasa disebut Tuhan. Hanya saja keniscayaan seperti itu berbenturan dengan pemikiran dan ide-ide sebagian ilmuwan, sehingga tidak heran menimbulkan kegelisahan pada para ilmuwan seperti yang dialami Janna Levin.

    1. betul pak Mudjiono, justru begitulah perjalanan spiritual; mungkin orang2 spt JL tidak dididik secara khusus oleh agama (apapun agamanya), tetapi pencarian tentang ‘rahasia alam’ itu membawanya pada suatu perjalanan spiritual. .. demikian juga, kalau ada dari kita yang mempelajari ilmu pengetahuan secara sungguh2, bukan tidak mungkin akan menempuh perjalanan spiritualnya ..

  3. begitu tak terhingganya cakrawala ilmu begitu juga rahasia Alloh…yang semakin digali maka semakin dalam,semakin tak tak terbatas dan tak terhingga maka semakin banyak pertanyaan yang menunggu untuk dipecahkan entah dari mana itu mulainya atau mau kemana arahnya…ilmu matematika, ilmu kimia, ilmu biologi ataupun ilmu alam semesta pastilah akan menemukan jalanya yaitu keberadaan Kekuasaan, Kebesaran Alloh SWT..yang pada giliranya diyakini atau tidak bahwa alam semesta dan seisinya ada yang menciptakan..yang disebut tuhan…begitupula yang dialami oleh..JL..pertanyaanya tentang sesuatu membawanya ke pertanyaan spiritual yaitu apakah yang tak terbatas dan tak terhingga itu ada??…dalam hal ini Allah lah…akhirnya…..

    1. @Risyad: buku tsb saat ini belum ada dalam bahasa Indonesia, kalaupun ada yg berbahasa inggris, mungkin di toko buku impor, tp kurang tahu apakah ada atau tidak di pasaran Indonesia saat ini ..

Tulis komentar dan diskusi...