Mengenal Astronomi dari Perangkat Sederhana

Setelah hari pertama lokakarya GHOU 2008 dilalui dengan mempelajari bagaimana memproses citra yang diambil saat pengamatan dengan piranti sederhana, hari kedua lokakarya diisi dengan kegiatan yang bisa dilakukan bersama di dalam kelas tanpa perangkat komputer. Lokakarya dimulai dengan kegiatan membuat teleskop mini.

Belajar membuat teleskop mini Kredit : langitselatan

Sesi pertama yang dipandu oleh Yasuharu Hanaoka dan kawan-kawan dari Jepang mengajak kami semua membangun teleskop mini dari potongan-potongan tabung yang sudah disediakan bagi kami semua. Sangat sederhana dan mudah dikerjakan. Yang paling dibutuhkan adalah ketelitian dan kerapihan dalam merangkai dan merekatkan materi-materi tersebut. Kalau tidak, hasilnya akan jadi seperti pekerjaan saya yang dihiasi lem dimana-mana. Teleskop ini didesain Yasuharu karena ia ingin anak-anak merasakan kegembiraan berhasil membuat teleskop sederhana yang kemudian mereka gunakan sendiri untuk melihat objek-objek terang, seperti juga dirinya saat pertama kali berhasil merangkai teleskop mini saat masih anak-anak dan bisa menikmati indahnya langit.

Setelah teleskop mini, kami pun diajak Leonor Cabral untuk membuat spektroskop sederhana dari tabung kardus dan potongan cd. Tujuan dari pekerjaan ini untuk memperkenalkan spektrum cahaya pada anak. Dengan alat sederhana ini, anak diajak untuk memahami prinsip cahaya itu sendiri.

Teleskop mini yang sudah dipasang pada tripod. Kredit : langitselatan

Setelah membuat teleskop dan spektroskop, Kothari dari India justru membawa kami untk terpukau mellihat alat-alat sederhana dari kertas yang ia bawa. India sebagaimana kita tahu merupakan negara yang sangat luas dan memiliki bermacam suku dan juga memiliki tingkat kehidupan yang masih rendah.

India memperkenalkan berbagai perangkat sederhananya. Kredit : langitselatan

Dengan tema astronomi jalanan, Kothari memperlihatkan hanya dengan 20 sen kita bisa mendapatkan 1 paket mainan dari kertas yang kesemuanya berisi prinsip dasar astronomi. Anda bisa belajar tentang transit Venus, pergerakan Matahari-Bumi-Bulan, atau mengenal gerhana. Semua hanya dengan potongan kertas. dan yang paling menarik, ia tidak membuatnya di atas art paper yang tebal dan terlihat mewah. Semua ia buat diatas potongan kertas biasa yang didistribusikan pada anak-anak di seluruh India melalui pos. Idenya mereka bisa belajar astronomi bahkan ketika mereka ada di tepi jalan. Buat saya sesi yang dibawakan oleh Kothari ini tidak hanya menarik namun mengingatkan saya bahwa dengan hal sederhana dan budget minim pun kita bisa menghasilkan sebuah perubahan asal kita mau melakukannya.

Dua kali saya mengikuti lokakarya internasional, dan dua kali juga saya terpukau dengan pekerjaan rekan-rekan dari India yang bisa menghasilkan hal-hal luar biasa dengan budget minim dan peralatan sederhana, dari bahan-bahan yang mudah didapat sehari-hari.

Tidak hanya itu, ketika kita di Indonesia terpukau dengan kehebatan teknologi dari negara maju seperti Jepang dan Amerika, justru rekan-rekan dari negara tersebut lebih memilih unuk membuat alat yang sama sendiri ketimbang membelinya dengan harga selangit. Ironi bukan? Sebuah negara berkembang justru silau oleh sesuatu yang wah sementara mereka yang berasal dari negara tersebut lebih memilih sesuatu yang handmade buat digunakan. Kothari mengingatkan kita semua kalau sains bukanlah sesuatu yang ada di luar jangkauan dan mahal melainkan prinsip-prinsip sederhana yang bisa kita aplikasikan lewat berbagai hal yang ada di sekitar kita.

Setelah dibuat terpukau oleh Kothari, Susan Pereira mengajak kami untuk memperkenalkan Matahari dan bagaimana membuat anak dari segala umur bisa mengenal dan menghitung bintik Matahari.

Setelah makan siang, peserta kemudian diajak berkenalan dengan Carl Pennypacker yang merupakan pendiri GHOU dan dilanjutkan dengan presentasi Kevin Govender dari Afrika Selatan. Kevin memperkenalkan beberapa piranti lunak berbasis opensource yang bisa digunakan dalam mengenal astronomi. Kevin memperkenalkan stellarium, celestia, orbitron, google sky, cartes du ciel, dan virtual moon sebagai piranti lunak yang bisa digunakan dalam memperkenlkan asronomi. Tidak hanya itu ia juga memberikan beberapa piranti lunak berisi latihan untuk keperluan siswa dan guru di dalam kelas. Dalam diskusi pada sesi yang dipimpin Kevin, Toshihiro Handa dari Jepang memperkenalkan sebuah piranti lunak yang dikerjakan oleh salah satu mahasiswa di Universitas Tokyo untuk keperluan edukasi mengenal langit. Memang ada banyak piranti lunak gratis yang beredar namun semua bisa digunakan berdasarkan kepentingan dan kebutuhan masing-masing pengguna.

Apa yang justru menarik bagi saya adalah pernyataan Kevin dan Toshihiro tentang piranti tersebut. Apa gunanya piranti lunak yang memiliki gambar sempurna dan hebat namun pada kenyataannya hanya bisa digunakan oleh lapisan tertentu yang mampu untuk memenuhi permintaan minimum dari piranti tersebut. Jauh lebih baik sebuah piranti yang mungkin tidak begitu artistik namun bisa digunakan oleh semua lapisan masyarakat tanpa bertanya apakah komputer saya mampu menjalankannya atau tidak. Yang terpenting adalah memahami apa yang dilihat tersebut.

Lokakarya hari kedua akhirnya diakhiri dengan mempelajari galakasi yang berdansa, Disini peserta kembali diajak untuk menemukan materi kelam pada citra yang diambil. Materi yang disampaikan oleh pasangan Suzanne dan Michel Faye ini memang ditujukan untuk siswa seklah menangah atas yang sudah memahami pinsip Fisika pada tingkat lanjut.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.