Memberikan Pemahaman Dasar Astronomi Pada Siswa

Bagaimana memahami fase bulan? Mengapa bulan bisa tampak purnama atau sabit? Apa penyebabnya?

Jenifer Perazzo mengajak kita memperkenalkan prinsip cahaya dan fasa bulan pada siswa. Kredit Langitselatan

Pada hari ketiga lokakarya GHOU, Jenifer Perazzo mengajak semua partisipan untuk memberikan pemahaman sederhana mengenai fase bulan melalui percobaan menggunakan bola pingpong yang disinari cahaya senter. Metode ini digunakan untuk menjelaskan prinsip gerak Matahari-Bumi-Bulan dan prinsip kerja cahaya. Kegiatan ini ia suguhkan semenarik mungkin bagi siswa agar mereka bisa menikmati asyiknya belajar sains.

Memahami prinsip dasar ini sangat penting, agar dalam perkembangannya tidak terjadi kesalahan persepsi dalam memahami fenomena alam baik dalam bidang astronomi maupun dalam bidang lainnya. Tanpa pengetahuan dasar yang benar, pengetahuan kita hanya seperti pepesan kosong. Untuk apa segudang kehebatan, jika tidak menguasai hal-hal mendasar. Aplikasi harus ditunjang dengan dasar yang kuat.

Carolina Odman memperkenalkan bagaimana memperkenalkan komputer pada anak. Kredit : LS

Setelah bermain-main dengan cahaya, peserta diajak oleh Carolina untuk memahami metode memperkenalkan komputer pada anak. Dalam setiap rentang umur, masing-masing anak memiliki kebutuhan dan daya tangkap dan penalaran yang berbeda. Karena itu tak mungkin bagi kita untuk memaksakan hal yang sama pada anak usia 5 tahun dan 10 tahun. Ada pendekatan berbeda yang harus ditempuh dan materi berbeda pula yang harus diberikan pada anak.

Sesi siang harinya diisi dengan pelatihan untuk memperkenalkan pada siswa bagaimana mengukur massa galaksi spiral. Di sini, siswa diajak untuk bekerja seperti astronom yang bisa melakukan riset kecil-kecilan. Bicara tentang riset, Patrick Miller mengajak siswa di seluruh dunia membangun jaringan untuk menemukan asteroid dalam program International Asteroid Search Campaign. Program ini sudah diikuti oleh beberapa negara, dan siswa selain mengkonfirmasi asteroid yang sudah ada, ternyata ada juga yang menemukan asteroid baru seperti dari Cina dan Amerika. Disini siswa diajak menganalisis citra yang diambil untuk mengenali asteroid ataupun komet.

Bicara soal jaringan, Hands on Universe memang membangun jaringan ke seluruh dunia dan memberikan kesempatan pada siswa dan guru di seluruh dunia untuk bekerja sama dalam pelatihan dan kegiatan lainnya. Salah satunya adalah kesempatan untuk melakukan pengamatan secara remote ke Amerika. Menarik karena jarak tak lagi menjadi kendala untuk bisa mengenal keindahan langit di belahan bumi yang berbeda. Selain itu, pelatihan juga bisa dilakukan melalu video conference. Sungguh menarik jika bisa melihat jaringan yang luas melampaui batasan jarak dan negara.

Di sini, siswa tidak hanya diajak untuk memahami dasar-dasar sains namun diajak juga berpartisipasi dalam kampanye langit gelap. Lagit gelap artinya membuat langit menjadi cerah untuk keperluan astronomi, karena selama ini langit di perkotaan telah terkontaminasi polusi cahaya. Namun, langit gelap bukan berarti tidak ada lampu. Langit gelap artinya mereduksi cahaya lampu agar tidak menaungi kota dan mereduksi cahaya lampu untuk menghemat energi dan mengurangi efek global warming. Reduksi cahaya ini akan sangat berguna bukan hanya untuk astronomi, namun juga untuk keberlangsungan ekosistem. Dan yang terpenting, praktiknya bisa dilakukan oleh publik dengan mudah, karena pada intinya langit gelap ini bertujuan membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.