Berbagi Kegembiraan Bersama Anak

“Kakak, di bintang itu ada apa aja sih?”
“Nanti aku mau pergi ke bintang, terus naik roket, terus ke bulan, boleh kan kak?”

Dongeng Kaguyahime yang dibawakan oleh bu Nana.

Itulah sebagian celoteh anak-anak TK saat berinteraksi bersama tim UNAWE Indonesia. Kali ini UNAWE menjelajah luar angkasa bersama dengan anak-anak TK, SD dan SMP di sebuah desa kecil di Majalaya. Perjalanan ditempuh dalam waktu 2 jam, setelah melewati jalan tol, kami harus melalui sebuah jalan yang berliku karena kondisi jalan yang sudah rusak.

Sekolah yang kami datangi merupakan sebuah yayasan sosial yang membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan kesempatan belajar. Pendidikan yang ada mulai dari TK sampai dengan anak usia 15 tahun. Ada kesan tersendiri bagi saya, karena saya bertemu dengan anak-anak yang haus akan ilmu pengetahuan, ilmu astronomi khususnya. Diantara keterbatasan mereka, yang hampir 80% berasal dari keluarga yang kurang mampu, anak-anak ini terlihat antusias untuk belajar astronomi.

Kegiatan ini dibagi menjadi 2 sesi, sesi 1 untuk anak TK dan SD, sesi 2 untuk SMP. Sesi 1 dibuka dengan dongeng cerita rakyat dari Jepang, Putri Bulan “Kaguyahime”. Melalui dongeng ini kami ingin memperkenalkan kepada anak-anak tentang bulan dan fase-fasenya. Yaa … namanya juga anak-anak, bergerak kesana-kemari dan ribut, namun Bu Nana dengan semangat 45 masih terus mendongeng.

Permainan ular tangga raksasa

Selesai dongeng, kegiatan dilanjutkan dengan permainan. Ada tiga macam permainan yang dilakukan yaitu mewarnai gambar “Astro-guk”, ular tangga astronomis, dan kartu kwartet astro. Permainan ular tangga kali ini sangat istimewa, karena anak-anak sendiri yang menjadi pionnya, mereka harus bergerak dan berputar diatas karpet ular tangga astronomis raksasa ukuran 5X5 meter. Untuk kegiatan astronomi, permainan ular tangga raksasa ini baru dilakukan untuk pertama kalinya di Indonesia.

Sesi 2 diisi dengan kegiatan pengamatan dan planetarium. Dengan menggunakan binokular dan teleskop refraktor kecil kami mencoba mengamati bulan, namun sayang mendung menghalangi pandangan dan kami hanya bisa bercerita tentang teleskop saja.

Antrean sangat panjang terjadi di depan pintu masuk sebuah kelas yang gelap gulita. Wah, ada apa gerangan di dalam sana? Kami mencoba untuk membawa imajinasi anak-anak ke sebuah suasana ketika langit sangat cerah, tanpa awan dan gelap gulita, sehingga rasi-rasi bintang terlihat sangat jelas. Dengan bantuan mini planetarium dan payung modifikasi yang dipasang dalam ruangan kelas yang gelap gulita, suasana itu dapat diciptakan. Anak-anak cukup senang dan terlihat antusias, setidaknya peluh ketika mengantre terbayar saat mereka keluar dari planetarium ini.

Itulah pengalaman tim UNAWE kali ini, langit ini milik semua, milik yang tua juga yang muda, yang kaya dan yang kurang beruntung. Mari bersama kita jaga langit kita.

Ditulis oleh

Irma Hariawang

Irma Hariawang

Alumnus astronomi yang sempat menjadi Ketua HIMASTRON ini memiliki ketertarikan dalam hal astroarkeologi dan etnoastronomi.

Tulis komentar dan diskusi...