Menggali Kekayaan Astronomi Dalam Kearifan Lokal Reviewed by Momizat on . Astronomi dalam budaya dan kehidupan masyarakat selama berabad-abad telah mengalami integrasi. Tak bisa dipungkiri dalam banyak hal astronomi telah mempengaruhi Astronomi dalam budaya dan kehidupan masyarakat selama berabad-abad telah mengalami integrasi. Tak bisa dipungkiri dalam banyak hal astronomi telah mempengaruhi Rating:

Menggali Kekayaan Astronomi Dalam Kearifan Lokal

Astronomi dalam budaya dan kehidupan masyarakat selama berabad-abad telah mengalami integrasi. Tak bisa dipungkiri dalam banyak hal astronomi telah mempengaruhi kehidupan masrarakat sejak dulu sampai sekarang.

Pertemuan arkeoastronomi di Observatorium Bosscha

Penentuan kalender, pertanian, navigasi, mitos, agama, sejarah bahkan konstruksi bangunan purba merupakan bagian yang tak terpisahkan dari astronomi. Astronomi dalam budaya Yunani mungkin yang paling dikenal, terutama karena nama rasi-rasi bintang yang kita kenal sekarang menggunakan nama dewa-dewa Yunani. Tapi jangan salah, di Indonesia, astronomi pun sudah jadi bagian kehidupan masyarakat sejak dulu.

Astronomi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sunda, Jawa, Lombok bahkan sampai ke timur Indonesia di papua. Dalam pertemuan astroarkeologi yang dilaksanakan di Observatorium Bosscha semua ini diungkapkan oleh para ahli sejarah, antropolog, astronom dan budayawan.

Dalam kehidupan masyarakat Jawa juga memiliki imajinasi akan bentuk-bentuk rasi seperti Waluku (Orion), Wuluh (Pleaides), Kalapa Doyong (Scorpio), Sapi Gumarang (Taurus), dll. Tak hanya berimajinasi, benda-benda langit ini juga diggunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai penentu waktu bercocok tanam, sarana pemujaan, kalender, maupun navigasi. Menurut Sobirin, seorang pemerhati kehutanan dan lingkungan tata sunda, bintang di langit seharusnya digunakan untuk pemulihan kawasan lindung di Indonesia.

Rasi Orion yang dikenal juga sebagai rasi Waluku. Kredit : Sobirin 2008, modifikasi: Richard Feinberg 1995

Di masa lalu saat belum ada kalender, masyarakat setempat telah menggunakan perbintangan untuk menentukan siang dan malam, pasang surut air laut, berbunga dan berbuahnya tanaman, maupun migrasi dan pembiakan hewan. Bagi mereka gejala alam adalah cerminan lintasan waktu. Masyarakat di masa itu juga menentukan saat menanam dengan menggunakan bambu yang diisi air untuk mengukur ketinggian bintang. Pada posisi tertentu mereka akan bisa mengetahui apakah sudah saatnya memulai bercocok tanam atau belum. Namun di kondisi saat ini apakah metode tersebut masih bisa digunakan?

Kondisi saat ini menunjukan iklim sudah berubah, dan menyebabkan sebuah pertanyaan baru. Pada akhirnya musim bercocok tanam pun mengalami pergeseran. Kapan kemarau dan kapan hujan menjadi sebuah pertanyaan baru. Nah pada kondisi ini yang jadi masalah bukan ketidakakuratan metode nenek moyang kita melainkan mengapa iklim bisa berubah. Adakah kita turut andil dalam semua itu? Kondisi saat ini apakah merupakan pergeseran alami ataukah kita juga mengambil bagian dalam pergeseran itu melalui cara hidup kita?

Hutan Flamboyan, mulai berbunga saat gubug penceng di timur, fajar menyingsing.

Kalender boleh berubah namun siklus mikro dan makro kosmos selalu tepat. Sebagai contoh, durian akan berbuah ketika sapi gumarang ada di timur saat fajar menyingsing atau duku berbuah saat gubug penceng ada di timur kala rembang petang. Inilah kearifan lokal yang sudah mulai ditinggalkan ketika masyarakat modern berkembang dengan segala teknologi dan kesibukannya. Nah kearifan lokal saat melihat bintang dengan berbunganya tanaman akan sangat menarik untuk kita kembangkan sebagai bagian untuk mengatasi kerusakan lingkungan. Bagaimana caranya ?

Dalam presentasi di Bosscha tersebut, Sobirin mengajukan usulan untuk membuat hutan kota yang bisa mengatasi juga masalah resapan air dan mengurangi dampak polusi. Sebagai contoh, hutan flamboyan akan berbunga saat gubug penceng ada di timur kala fajar menyingsing atau hutan bungur yang akan mulai berbunga kala banyak angrem muncul di timur saat rembang petang.Dari lingkungan kita akan lihat bagaimana astronomi berada dalam sejarah kuno masyarakat Indonesia.

Bejana Zodiak, MINTAQULBURUJ

Menurut Bambang Budi Utomo, dari berbagai penemuan arkeologi terlihat juga bagaimana masyarakat setempat di masa lalu menggunakan rasi sebagai sarana pemujaan. Hal ini terlihat dalam Bejana Zodiak, MINTAQULBURUJ, yang digunakan oleh masyarakat Tengger. Tidak hanya itu pembangunan candi-candi di masa lalu juga memiliki keterkaitan dengan astronomi. Salah satunya adalah Borobudur yang diperkirakan juga dibangun sebagai tanda tak telrihat lagi Polaris dari Jawa. Pada masa itu Polaris bisa terlihat di horison, bintang yang saat ini tak mungkin kita lihat lagi karena terjadinya presesi Bumi.

Kaitan astronomi dalam folklore juga dipaparkan oleh Sungging dalam acara ini. Bagaimana mitologi berkembang di tengah masyarakat masa itu yang saat ini bisa digunakan sebagai sarana pendidikan astronomi lewat budaya. Contohnya, mitologi tentang batara kala yang menelan Matahari sehinga terjadi gerhana, atau bimasakti yang jadi gambaran Bima masuk ke laut dan digigit ular.

Salah satu hal menarik lainnya pada acara tersebut adalah pemetaan bintang berdasarkan kultur Indonesia yang dilakukan oleh Widya Sawitar dari Planetarium Jakarta. Paparan lebih lengkapnya akan ia sampaikan dalam poster paper di APRIM 2008.

Di masa lalu, Bintang Polaris terlihat dari Borobudur. Kredit Gambar :Britannica

Ada banyak hal menarik dalam pertemuan tersebut yang membuat kita melihat satu bidang ilmu tidak bisa diklaim tak punya manfaat atau diklaim bisa berdiri sendiri. Astronomi memiliki keterkaitan erat bukan saja dengan fisika, kimia atau biologi tapi juga sejarah, antropologi, arkeologi dan bahkan seluruh aspek kehidupan masyarakat. Di masa depan astronomi juga mengambil bagiannya sendiri dalam hal lingkungan misalnya. Bahkan eksplorasi ruang angkasa yang dilakukan saat ini, teknologinya bukan hanya digunakan ke luar angkasa tapi juga digunakan dalam kehidupan masyarakat kita. Tentunya pada level dan skala yang berbeda.

Setelah pertemuan di Bosscha pada tanggal 17 Mei 2008, pertemuan kedua dilaksanakan di prodi Astronomi pada tanggal 30 Mei 2008 dan menghasilkan kesepakatan untuk membentuk asosiasi langit gelap di Indonesia. Asosiasi ini bertujuan untuk mengajak masyarakat mengkampanyekan langit gelap. Salah satu yang kita kenal adalah Earth Hour yang megajak masyarakat mematikan lampu selama satu jam. Ini tidak hanya mengurangi polusi cahaya namun juga dapat membantu mengurangi efek dari global warming. Pengembangan astronomi dalam budaya Indonesia ini adalah langkah awal karena tahun 2009, topik ini akan jadi salah satu acara dan pembahasan di Indonesia dan di dunia.

Profil Penulis

Astronom Komunikator / Project Manager

astronom komunikator dan pengelola langitselatan yang lahir dan dibesarkan di Ambon. Menggemari sistem keplanetan sebagai kajian utama saat kuliah di Astronomi ITB dan akhirnya sadar ia lebih menyukai dunia komunikasi astronomi lewat media baru di dunia maya. Punya sampingan sebagai Project Manager 365 Days of Astronomy yang memperkenalkan astronomi lewat podcast & Editor Pelaksana di Majalah Astronomi. Jalan-jalan, nongkrong dan makan merupakan kegemarannya selain bermain game dan menulis cerita abstrak plus aktif di Astronomer Without Border, Galileo Teacher Training Project, Universe Awareness dan Global Hands on Universe.

Tulisan di LS : 746

Tulis komentar dan diskusi...


8 Komentar di artikel ini

  • Alfa Noranda

    wah kajian astronomy yang di integrasikan dengan budaya masalalu sangat menarik sekali.
    mudah-mudahan kajian-kajian tersebut dapat di perdalam untuk kepentingan sejarah, budaya dan ilmu pengetahuan.

    Reply
  • dalimawaty kadir

    Di kampung halaman orang tuaku di kayu agung sumatera selatan ada tradisi malaman, pada malam ke 21 bulan ramadan. Pada malam itu sesudah sholat tarawih, seorang bujang yang di temanin teman laki-lakinya ke rumah pacarnya yang juga di temanin teman perempuan, Romantisnya pada malaman itu tidak boleh menghidupkan lampu, hanya di terangi lilin yang ada berderet dari mulai tangga rumah. Nah.. saya rasa kearifan lokal yang ada pada nenek moyang kita dahulu harus dilanjutkan. Saya tidak tahu tradisi ini masih ada tidak? Itu pengalaman saya di kayu agung tahun 1984 tks

    Reply
  • Akbar

    Mas, bagaimana cara mengaktifkan Feature Content Galerynya????
    Saya liat tampilan web ini menggunakan plugnis tersebut….
    Saya udah coba tp gk muncul2 juga fotonya…. mohon pencerahannya…. haturnuhunnnn…. :D

    Reply
    • ivie

      ya ampun aku baru nyadar ada komentar ini. mohon maaf yah. untuk mengaktifkan feature content gallery sih tinggal diaktifkan dan pilih kategori yg akan jadi feature contentnya.

      Reply
  • egisadri

    buk…senang sekali saya membaca uraian tentang etno astrinoni yang ibuk tulis. saya kebetulan menjumpai kosa kata bahasa minang yang berbunyi “kasiak bulan” yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah “pasir bulan” (kasiak=pasir). kata itu digunakan untuk menamakan sejenis pasir gunung. saya tidak tahu istilah geologi untuk jenis pasir tersebut, tapi saya tahu jenis pasir yang dinamai pasir bulan tersebut. Seakan masyarakat pengguna kata kata ini kenal bahwa bulan itu permukaannya adalah pasir. darimana mereka dapat gambaran itu padahal mereka sampai sekarang masih percaya bulan itu adalah pembuat cahaya dimalam hari bukan satelit bumi yang hanya memantulkan cahaya matahari. bisakah ini disebut etno astronomi?

    Reply

Log in | disclaimer | kontak kami | tanya LS © 2007 - langitselatan. All rights reserved

Scroll to top