Kami dari langitselatan, mengucapkan Selamat Idul Fitri 1435 H. Minal 'Aidin wal-Faizin.
Global Warming – Apa dan mengapa Reviewed by Momizat on . Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di Bumi selalu berubah. Dari studi tentang jaman es di masa lalu menun Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di Bumi selalu berubah. Dari studi tentang jaman es di masa lalu menun Rating:

Global Warming – Apa dan mengapa



global_warming.gifSejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di Bumi selalu berubah. Dari studi tentang jaman es di masa lalu menunjukkan bahwa iklim bisa berubah dengan sendirinya, dan berubah secara radikal. Apa penyebabnya? Meteor jatuh? Variasi panas Matahari? Gunung meletus yang menyebabkan awan asap? Perubahan arah angin akibat perubahan struktur muka Bumi dan arus laut? Atau karena komposisi udara yang berubah? Atau sebab yang lain?

Sampai baru pada abad 19, maka studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut sebagai gas rumah kaca, yang bisa mempengaruhi iklim di Bumi. Apa itu gas rumah kaca?

Sebetulnya yang dikenal sebagai ‘gas rumah kaca’, adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, atau kalau tidak, maka tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka Bumi ini.

Pada sekitar tahun 1820, bapak Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi merah-infra yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca).

Tiga puluh tahun kemudian, bapak Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air, dan molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang kita kenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.

Semenjak penemuan Fourier, Tyndall dan Arrhenius tersebut, ilmuwan semakin memahami bagaimana gas rumah kaca menyerap radiasi, memungkinkan membuat perhitungan yang lebih baik untuk menghubungkan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan Temperatur. Jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatduakan saja, maka temperatur bisa meningkat sampai 1°C.

Tetapi, atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan tersebut, kenyataannya peningkatan temperatur bisa lebih dari 1°C karena ada faktor-faktor seperti, sebut saja, perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan Bumi, baik karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan, atmosfer yang ada menjadi lebih panas, dengan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan standar.

Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO2e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO2 – yang menyatakan rasio jumlah molekul gas CO2 per satu juta udara kering). Yang pasti, sejak 1900, maka Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C.

Lalu, jika memang terjadi pemanasan, sebagaimana disebut; yang kemudian dikenal sebagai pemanasan global, (atau dalam istilah populer bahasa Inggris, kita sebut sebagai Global Warming): Apakah merupakan fenomena alam yang tidak terhindarkan? Atau ada suatu sebab yang signfikan, sehingga menjadi ‘populer’ seperti sekarang ini? Apakah karena Al Gore dengan filmnya “An Inconvenient Truth” yang mempopulerkan global warming? Tentunya tidak sesederhana itu.

Perlu kerja-sama internasional untuk bisa mengatakan bahwa memang manusia-lah yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi Matahari dan keseluruhan permukaan Bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim. Dalam besaran yang dinyatakan sebagai Radiative Forcing sebagai alat ukur apakah iklim global menjadi panas atau dingin (warna merah menyatakan nilai positif atau menyebabkan menjadi lebih hangat, dan biru kebalikannya), maka ditemukan bahwa akibat kegiatan manusia-lah (antropogenik) yang menjadi pendorong utama terjadinya pemanasan global (Gb.1).

Hasil perhitungan perkiraan agen pendorong terjadinya pemanasan global dan mekanismenya (kolom satu), berdasarkan pengaruh radiasi (Radiative Forcing), dalam satuan Watt/m^2, untuk sumber antropogenik dan sumber yang lain, tanda merah dan nilai positif dari kolom dua dan tiga berarti sumbangan pada pemanasan, sedangkan biru adalah efek kebalikannya. Kolom empat menyatakan dampak pada skala geografi, sedangkan kolom kelima menyatakan tingkat pemahaman ilmiah (Level of Scientific Understanding), Sumber: Laporan IPCC, 2007.

Dari gambar terlihat bahwa karbon-dioksida adalah penyumbang utama gas kaca. Dari masa pra-industri yang sebesar 280 ppm menjadi 379 ppm pada tahun 2005. Angka ini melebihi angka alamiah dari studi perubahan iklim dari masa lalu (paleoklimatologi), dimana selama 650 ribu tahun hanya terjadi peningkatan dari 180-300 ppm. Terutama dalam dasawarsa terakhir (1995-2005), tercatat peningkatan konsentrasi karbon-dioksida terbesar pertahun (1,9 ppm per tahun), jauh lebih besar dari pengukuran atmosfer pada tahun 1960, (1.4 ppm per tahun), kendati masih terdapat variasi tahun per tahun.

Sumber terutama peningkatan konsentrasi karbon-dioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Peningkatan konsentrasi metana (CH4), dari 715 ppb (part per billion= satu per milyar) di jaman pra-industri menjadi 1732 ppb di awal 1990-an, dan 1774 pada tahun 2005. Ini melebihi angka yang berubah secara alamiah selama 650 ribu tahun (320 – 790 ppb). Sumber utama peningkatan metana pertanian dan penggunaan bahan bakar fosil. Konsentrasi nitro-oksida (N2O) dari 270 ppb – 319 ppb pada 2005. Seperti juga penyumbang emisi yang lain, sumber utamanya adalah manusia dari agrikultural. Kombinasi ketiga komponen utama tersebut menjadi penyumbang terbesar pada pemanasan global.

Kontribusi antropogenik pada aerosol (sulfat, karbon organik, karbon hitam, nitrat and debu) memberikan efek mendinginkan, tetapi efeknya masih tidak dominan dibanding terjadinya pemanasan, disamping ketidakpastian perhitungan yang masih sangat besar. Demikian juga dengan perubahan ozon troposper akibat proses kimia pembentukan ozon (nitrogen oksida, karbon monoksida dan hidrokarbon) berkontribusi pada pemanasan global. Kemampuan pemantulan cahaya Matahari (albedo), akibat perubahan permukaan Bumi dan deposisi aerosol karbon hitam dari salju, mengakibatkan perubahan yang bervariasi, dari pendinginan sampai pemanasan. Perubahan dari pancaran sinar Matahari (solar irradiance) tidaklah memberi kontribusi yang besar pada pemanasan global.

Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa memang manusia yang berperanan bagi nasibnya sendiri, karena pemanasan global terjadi akibat perbuatan manusia sendiri. Lalu bagaimana dampak Global Warming bagi kehidupan? Alur waktu prediksi dan dampak dari perspektif sains dapat dibaca pada bagian kedua tulisan ini.

Profil Penulis

jebolan magister astronomi ITB, astronom yang nyambi jadi jurnalis & penulis. Punya hobi dari fotografi sampe bikin komik, pokoknya semua yang berhubungan dengan warna, sampai-sampai pekerjaan utamanya adalah seperti dokter bedah forensik, tapi alih-alih ngevisum korban, yang di visum adalah cahaya, seperti juga cahaya matahari bisa diurai jadi warna cahaya pelangi. Maka oleh nggieng, cahaya bintang (termasuk matahari), bisa dibeleh2 dan dipelajari isinya.

Tulisan di LS : 78

Tulis komentar dan diskusi...


255 Komentar di artikel ini

  • danang

    jangan banyak bicara…..perbuatanlah yang semestinya kita lakukan…………..
    ayo kita jaga bumi ini………………………..

    Reply
  • unya

    mati aja loeh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    itu hanya omong mue tapi apa yang sudah kamu perbuat sedangkan kamue kmana-mana selalu naik mobil, moror n lain-lain rumah mue juga pke AC kan????????????

    Reply
    • love

      haha,,, udah, udah….
      yang penting kita sama – samangebangun bumi kita, supaya lebih banyak menghasilkan oksigen…..

      setuju???

      sayangi bumimu….
      <3

      Reply
  • puput

    ayo kita jaga bumi kita jangan malah merusak bumi kita

    Reply
  • susy

    ayo jaga bumi kita supaya selamat dan jangan lupa tanamkan lingkungan yang hijau setidaknya mengurangi global warming

    Reply
    • Untoro

      Susah memang untuk mengajak orang ikut melestarikan planet bumi kita yang indah ini demi anak cucu. Permasalahannya memang benar-benar global dan harus melibatkan seluruh penduduk bumi. Secara pribadi, apa daya kita sebagai perorangan untuk bisa ikut andil dalam penyelamatan bumi ini?
      Menurut salah satu sumber yang bisa dipercaya, justru gas metan lah yang lebih signifikan perlu dikurangi karena menjadi penyumbang 51% dari efek rumah kaca, lebih buruk dibandingkan carbon dioksida.
      Apa saja sumber penghasil gas metan? Menurut sumber tersebut, peternakan-peternakan raksasa lah yang menjadi produsen gas tersebut. Oleh karena itu, menurut sumber tersebut, kalau ada sekitar 2 miliard orang yang mau merubah diet makannya menjadi diet vegetarian, maka produksi gas metan akan banyak berkurang yang akibatnya bisa memberi kesempatan kepada bumi untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
      Untuk merubah pola makan ini jelas bisa dilakukan secara person, dimulai dari diri kita sendiri.
      Sayangnya, lidah kita ini sering rewel, maunya yang enak-enak saja, padahal rasa enak itu hanya dirasakan oleh sekitar 10cm panjang lidah. Perut tidak akan menolak, walaupun tiap hari hanya makan nasi pecel, urap, juice buah dll.
      Jadi, semua tergantung pada kita. ingin agar anak cucu kita masih bisa menikmati bumi yang indah ini atau membiarkan anak cucu kita menderita.
      Menurut sumber tersebut, masih ada sisa waktu sekitar 1.000 hari, dimana bumi mencapai point of no return untuk bisa menjadi baik kembali.

      Reply
      • xeoz

        “Menurut sumber tersebut, masih ada sisa waktu sekitar 1.000 hari, dimana bumi mencapai point of no return untuk bisa menjadi baik kembali”

        sumber yg mana? kecuali terjadi hal ekstrim seperti perang nuklir di seluruh dunia dalam 1 hari atau bumi dihajar meteor 24 jam nonstop, bumi selalu punya cara menyembuhkan diri sendiri, cepat atau lambat

        jatuhnya meteor 65 juta tahun lalu, hampir semua kehidupan mati, tapi dalam 100 ribu tahun, toh, makhluk hidup bisa berjalan di bumi lagi. 100 ribu dalam hitungan geologi itu termasuk singkat

        dan kalau pun perubahan iklim yg tampak malah bukan warming, tapi cooling down. bumi malah sedang mendinginkan badan, bukan pemanasan

        Reply
  • eka

    ……..apa itu global warming

    Reply
  • cha joe

    ah dunia thu dah panas banget ………. geraaah!!!

    Reply
  • aprillia

    ayo kita jaga bumi kita supaya aman dan sejahtera selalu jangan sampai kita merusaknya……………………….ok

    Reply
  • ananda

    kita harus selalu menjaga bumi agar aman sejahtera selalu……………ok

    Reply
  •  Oscilloscope

    it seems that the only solution to global warming is the reduction of CO2 and CFCs*’`

    Reply
  • ezie

    huft..
    kpan yaaa..
    msyarakat bisa sdarr???

    Reply
  • DEPHIE

    BUMI LAMBAT LAUN MAKIN ANEH HUJAN TAK HENTI HENTI NAMUN JIKA SUDAH PANAS PASTI PANASNYA SPERTI API.KITA HARUS SELAMATKAN BUMI KITA DEMI GENERASI SLANJUTNYA.AYO PERJUANGKAN BUMI KITA DAN SADARLAH MANUSIA YANG TELAH MERUSAK BUMI DAN INGATLAH DOSA

    Reply
  • virda

    .bumi makin hari makin tuuaaa !!!

    Reply
  • xeoz

    sori, isu global warming buat gw cuma akal2an politik dan ekonomi yg ditutupin pake kata lingkungan

    skrg, dari kebijakan global warming, negara yg paling dirugikan itu negara2 industri (indonesia, india) yg disuruh mengurangi kegiatan industri dan kegiatan perekonomian sperti peternakan, pengolahan bahan mentah, pengolahan mineral, dll demi ‘bumi’.

    global warming my ass! amrik aja tetep berjalan industrinya. itu akal2an mereka supaya mereka ga rugi

    Reply
    • Agustin

      masak iya, temen nyemplung sumur, kita juga ikutan?? Indonesia sebenarnya dah bisa berdiri di kaki sendiri! kita jaga alam kita n perkuat diplomasi! Orang2 Indonesia pinter2 kok. SDMnya bagus SDA keren juga. Cuma peragu n g PD ja ma orang yg pinter bahasa inggris

      Reply
  • yulia trisanawati

    qta sbg warga INDONESIA harus mnjaga bumi kita jgn sampai kita mrusaknya krna bumi makin hari makin tua….

    Reply
  • romliajalah

    ayo tmn qu semua kita jaga bumi kita

    Reply
  • Agustin

    namanya juga pembangunan, sll ada efek negatif n positifnya. g bs klo pembangunan stagnan. makanya kita harus ingat tugas kita d muka bumi ni..khalifah fil ardh. dah basi klo salah2an. g buat bangsa ni maju. stagnan ato malah mundur. Mulai dr yg kecil n dari diri sendiri. Aq cenderung berpikiran klo bumi n seluruh isinya tu diperuntukkan untuk manusia. tp bukan berarti manusia blh semena-mena. siapa yang menanam kan bakal menuai.makanya setiap pembangunan harus memikirkan efek jangka panjangnya.

    Reply
  • abdan

    aku stuju dngan prnyataan itu,,,tpi aq hnya ingin mnmbhkan satu kta aja…
    jagalah bumi kita,,sprti kita mnjga orangtu kita,,,dan orang yng kta syangi yaitu pacar kita…

    Reply
  • darwin

    mari kita smua sadar & sayangila bumi kita

    Reply
  • @ekopeny

    Bumi itu perlu bukti dengan usaha apa yg kalian lakukan untuk menjaganya….bukan dengan perdebatan kalian yg menambah panjang deretan orang2 tukang jamu………….

    Reply
  • bryan

    mulai dari yg sederhana, bersyukur kpd Tuhan YME atas kehidupan yg dianugerhkan oleh-Nya, kemudian biasakan untuk berjalan kaki atau bersepeda jika tujuan perjalanan 1-2 km.

    Reply
  • gizzak

    saya sangat sedih dengan keadaan bumi saat ini….

    apakah masih ada orang yg peduli dengan keadaan bumi saat ini………

    Reply
  • Cis Indisch

    Saya bingung dengan orang2 yg selalu mengungkit2 dosa dan kematian di forum ini setiap ada berita2 ilmiah yg kadang bahkan ga nyambung dg hal2 sprti itu..

    Jangan ingatkan kami akan kematian, kami muak, bau kematian ada di mana2.
    Ingatkan kami tentang kehidupan, bahwa kami ini sebenarnya sedang hidup. Karena semua orang pasti mati, tetapi tdk semua org benar2 hidup.

    Jika motif anda brbuat baik adlh utk menghindari neraka, sedih dan mngerikan sekali hidup anda.
    Saya berbuat baik karena saya ingin agar bumi ini sedikit banyak mirip dg negeri saya yg baka, kampung halaman sejati saya, surga.

    Reply
  • Supri

    Global warming itu semakin hari semakin cepat karena itu kelanjutan global warming yang dulu, jadi dari dulu semakin tambah sedikit hangat dan penghangatan itu menyebabkan lepasnya sedikit kandungan CO2 yang ada di air laut dan danau, akibatnya kandungan CO2 di atmosfir bertambah dan semakin mengurung panas dari matahari, jadi semakin panas, dan semakin panas itu menyebabkan semakin panas pula air laut dan semakin banyak CO2 yang terlepas, dan semakin panas lagi, jadi peningkatan tsb semakin hari semakin cepat, ditambah dengan melelehnya es di kutub-kutub
    Minuman Coca Cola yang rasanya “mengorek hidung” karena oleh pabriknya dimasukan gas CO2, cobalah hangatkan Coca Cola tsb maka CO2 nya lepas dan yang Anda rasakan hanyalah air manis saja yang tidak lagi mengorek hidung.
    Jadi untuk mudahnya, kita sebut kejadian alam ini adalah kejadian “berantai” atau deret yang tidak LINIER, tapi KWADRAT atau semacamnya, yang jelas tidak berbanding lurus.
    Selanjutnya karena kita hanya harus percaya kepada alat-alat ukur milik orang barat dan hasil pengukuran tsb kita juga harus percaya kepada pernyataan mulut orang barat, maka dengan mudah dipolitisir.
    Berhubung gejala tsb tidak berbanding lurus maka dikaranglah penyebabnya adalah kelakuan manusia, yang menyebabkan tidak berbanding lurus yang tidak sesuai dengan teori yang dipaksakan oleh pihak barat
    Dan kita semua diharuskan merasa bersalah untuk suatu rekayasa politik ekonomi demi keuntungan Kapitalisme.

    Selain itu kenapa tidak berbanding lurus, cobalah ketik “SIKLUS MILANKOVITCH” disitu terjadi faktor siklus perobahan poros bumi tiap siklus ratusan tahun, selain itu juga sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan milyaran benda-benda langit yang dijumpai selama perjalananTata-Surya ini mengelilingi Galaksi (Bima Sakti), suatu siklus yang sangat kompleks yang belum mampu dihitung.

    Kelak sesudah siklus pemanasan global berakhir maka akan disusul oleh PENDINGINAN GLOBAL, dan pemanasan global lagi dan pendinginan global lagi dan seterusnya

    Ada manusia atau TIDAK ADA manusia, siklus ini akan terus berjalan.
    Sampai Allah SWT berkehendak lain, antara lain Bumi ini tabrakan dengan salah satu dari milyaran benda langit yang melintas atau tersedot Black Hole.

    Kalau mau jujur, bahwa begitu banyak diproyek-kannya “Penyelamatan bumi dari pemanasan global” sangat menguntungkan kantung pihak-pihak tertentu.

    Reply
    • budi

      Jadi menurut bang Supri Global Warming cuman akal-akalan orang barat gitu…jadi kita ga usah repot2 jaga lingkungan yah…gak perlu menanam pohon, pengelolaan sampah mandiri dan program2 penghijauan lain….wah enak donk manusia tinggal merusak alam, tebangin pohon, buang limbah sembarang tempat…toh bumi pasti mengalami global warming….

      Reply

Log in | disclaimer | kontak kami | tanya LS © 2007 - langitselatan. All rights reserved

Scroll to top