Venus Express Menemukan Uap Air di Atmosfer Rendah Venus

Setelah hampir 2 tahun Venus Express milik ESA mengunjungi si bintang fajar, akhirnya ia pun berhasil memetakan atmosfer Venus untuk ketinggian yang rendah. Pemetaan ini penting untuk mendapatkan senyawa-senyawa kimia yang terkandung di sana sehingga dapat membantu para ilmuwan dalam memahami iklim global dan cuaca di Venus.

Impresi artis yang menunjukan molekul-molekul yang ditemukan Venus Express pada atmosfer rendah di Venus. Kredit : ESA ( gambar oleh : C. Carreau)

Pemetaan atmosfer Venus memang tidak mudah, terutama karena terhalang oleh awan tebal. Awan tersebut memblok cahaya tampak yang datang dari permukaan. Di bawah awan tersebut, temperatur pada ketinggian 35 km mencapai 200°C dan lebih dari 450 °C di permukaan, sehingga cahaya inframerah bisa melewati awan tersebut dan memberikan informasi komposisi senyawa kimia yang terkandung di sana.

Dalam pengamatan ini, Venus Express menggunakan spektrometer VIRTIS untuk memetakan atmosfer Venus. Sama seperti pada lapisan atmosfer Venus lainnya, pada lapisan yang cukup rendah ini pun, atmosfernya masih didominasi oleh karbondioksida yang menyebabkan terjadinya runaway greehouse effect di Venus. Runaway greenhouse effect merupakan efek rumah kaca akibat terperangkapnya karbondioksida di Venus. Selain karbondioksida, VIRTIS juga menangkap keberadaan karbonmonoksida, senyawa kimia yang justru sangat tidak biasa ditemukan pada ketinggian rendah seperti itu.

Karbonmonoksida memang jarang ditemukan, karena itu penemuan ini bisa digunakan untuk menelusuri dan memantau pola sirkulasi di atmoser Venus. Karbonmonoksida akan mengikuti siklus angin global di seluruh planet – seperti meneteskan tinta ke air untuk mempelajari turbulensinya.

Venus Express di Venus. Impresi artis. Kredit : ESA

Lebih jauh lagi, pada resolusi yang lebih tinggi ditemukan juga sulfida karbonil dan uap air. Sejak tahun 1980-an molekul-molekul tersebut memang sudah diketahui keberadaannya di Venus, namun sebelum Venus Express tidak ada yang berhasil mengukur dan memetakannya. Keberadaan sulfida kabonil ini biasanya memiliki keterkaitan dengan karbonmonoksida. Jika diketahui ada kelimpahan sulfida karbonil, maka akan ada sedikit karbon monoksida demikian juga sebaliknya.

Hasilnya, model meteorologi menunjukan adanya keterkaitan antara kelimpahan molekul-molekul tersebut dengan sirkulasi skala besar di atmosfer. VIRTIS mendeteksi sirkulasi angin dalam skala besar yang dibangkitkan di ekuator dan kemudian mengalir menuju kutub utara dan selatan planet. Saat di kutub, angin tersebut akan kehilangan ketinggiannya dan bergerak berbalik ke tempatnya semula.

Keberadaan dan kelimpahan uap air di atmosfer Venus pada ketinggian rendah juga berhasil dideteksi dan dipetakan oleh Venus Express dengan resolusi yang tinggi. Hal ini memberikan sebuah jawaban atas perdebatan panjang para ilmuwan mengenai jumlah kandungan molekul tersebut di Venus.

Sumber : ESA

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...