Pelatihan Teleskop “You Are Galileo” di Yogyakarta

Setelah melakukan acara pembagian dan pelatihan teleskop You Are Galileo di Jakarta, acara safari workshop “You Are Galileo! Project” pun berlanjut ke kota ke berikutnya yakni Yogyakarta.

Pembagian Teleskop “You Are Galileo” di Jakarta

Tahun Astronomi Internasional 2009 memang sudah berlalu, namun warisannya masih akan terus berlanjut sampai kapanpun. Salah satu bentuk keberlanjutan IYA2009 itu terjadi pada tanggal 22 Februari – 8 Maret 2011, saat Observatorium Bosscha ITB menjadi tuan rumah untuk kegiatan safari workshop “You Are Galileo! Project” bagi guru-guru sekolah lanjutan di Indonesia.

Galileo, Bapak Astronomi Modern

400 Tahun yang lalu tepatnya pada tahun 1609, seorang astronom italia bernama Galileo Galilei berhasil merampungkan teleskop astronomi pertamanya, dan kemudian mengarahkan teleskop itu ke langit. Hari itu ia berhasil melihat sebuah dunia baru yang penuh misteri yakni Jupiter si planet raksasa di Tata Surya. Galileo juga melihat keberadaan 3 titik yang redup disekeliling Jupiter. Apakah itu?

Mengenal Binokular untuk Astronomi

Apabila kebanyakan dari kita ditanya alat apa yang bisa digunakan untuk melihat keindahan langit, bisa dipastikan teleskop adalah kata yang pertama kita ingat. Padahal ada alat alternatif lain yang mungkin sering kita lupakan. Yaitu Binokular, alat ini mungkin lebih dikenal untuk mengamati objek-objek terestrial. Tapi jangan salah, alat ini sangat memadai untuk mengamati objek-objek astronomi.

Teleskop Sinar-X : Membuka Pandangan Baru Dalam Astronomi

Setiap saat, Bumi kita dibombardir dengan berbagai macam radiasi gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh objek-objek langit, mulai dari sinar radio yg berenergi rendah hingga sinar gamma yg berenergi tinggi. Akan tetapi, dengan keberadaan atmosfer Bumi, hanya sinar radio dan sinar tampak (visual) yang mencapai permukaan Bumi. Sementara, sinar-sinar yang lain hanya mampu menembus hingga ketinggian tertentu.

Godzillanya Teleskop

Bagaimana mempelajari langit di dalam ilmu astronomi? Tentunya dengan memandangi langit dan mempelajari apa yang tampak di sana. Dari awal peradaban, jauh sebelum ditemukan adanya teleskop, mata adalah alat utama untuk mengidentifikasi, mempelajari, dan memahami benda-benda yang ada di langit. Dengan ditemukannya teleskop, maka pembelajaran tentang langit semakin mendalam dan semakin mendalam lagi, sehingga manusia bisa mendapatkan informasi yang lebih baik lagi.

Menuju Titik Api: Sebuah Penjelasan-tak-terlalu-teknis Tentang Prinsip Kerja Teleskop, Bagian 5 (tamat): Sementara Itu, di Daerah Panjang Gelombang Lain: Teleskop Radio

Gambar 1. Sumber: Science Cartoons Plus: The Cartoons of S. Harris

Teleskop yang sudah dibicarakan di atas dipakai pada daerah optik yang disebut daerah visual, yaitu daerah kasatmata yang tampak oleh mata. Sementara itu kita mengetahui bahwa cahaya sebenarnya terdiri atas berbagai panjang gelombang, di mana tiap-tiap panjang gelombang membawa energinya sendiri-sendiri. Besarnya energi yang dibawa pada setiap panjang gelombang tidak sama, tetapi berpuncak pada panjang gelombang tertentu. Panjang gelombang berapa yang memancarkan energi maksimal bergantung pada suhu objek tersebut, semakin tinggi suhunya semakin pendek panjang gelombangnya dan semakin biru warnanya. Tidak semua objek memancarkan energi maksimalnya pada daerah visual (daerah visual didefinisikan berada pada rentang panjang gelombang 380 – 750 nanometer. Satu nanometer sama dengan satu per semilyar meter). Banyak sekali objek yang memancarkan energi maksimalnya pada daerah ultraviolet (lebih pendek dari 300 nanometer) atau daerah inframerah (antara 750 nanometer hingga sekitar 1 mm), sehingga apabila kita mengamati objek-objek tersebut hanya pada daerah visual akan banyak sekali informasi yang tidak kita peroleh. Oleh karena itu diciptakan berbagai alat untuk dapat mendeteksi keseluruhan rentang energi gelombang elektromagnetik (Gambar 2), pada daerah-daerah ultraviolet, inframerah, dan radio.

Menuju Titik Api: Sebuah Penjelasan-tak-terlalu-teknis Tentang Prinsip Kerja Teleskop, Bagian 4: Refraktor dan Reflektor: Sebuah Perbandingan

Refraktor dan Reflektor: Sebuah Perbandingan
Kelemahan utama refraktor adalah fakta bahwa sinar difokuskan dengan cara dilewatkan melalui medium, dalam hal ini lensa. Indeks bias yang mempengaruhi arah pembelokkan cahaya berbeda-beda untuk setiap warna, sehingga sebenarnya ada banyak titik api untuk berbagai warna (yang letaknya cukup berdekatan), dengan fokus untuk cahaya biru lebih dekat ke lensa daripada fokus cahaya merah. Ini adalah cacat lensa yang disebut aberasi kromatis atau aberasi warna. Pelewatan cahaya melewati medium juga berarti material lensa harus homogen atau serbasama di setiap bagian lensa, dan keserbasamaan (homogenitas) ini makin sulit dipertahankan bisa ukuran lensa semakin besar.

PBB Menetapkan Tahun 2009 Sebagai Tahun Astonomi

. IYA merupakan inisiatif dari IAU (International Astronomical Union) dan UNESCO, untuk merayakan dipergunakannya teleskop untuk pertama kali oleh Galileo. IYA 2009 sendiri merupakan moment 400 tahun dari penemuan – penemuan dalam astronomi dan pemicu revolusi sains yang juga mempengaruhi dunia. Hasilnya, saat ini teleskop landas bumi maupun angkasa beroperasi selama 24 jam sehari memberikan berbagai hasil spektakuler dalam berbagai panjang gelombang.

Menuju Titik Api bag 3 : Teleskop Reflektor

Gambar 1 : Atas: Cermin cekung akan memantulkan cahaya menuju satu titik api. Bawah: Gambar ini dibuat oleh Sekretaris Perkumpulan Kerajaan (Royal Society) untuk ahli optik dan astronom Christiaan Huygens di Paris, melaporkan kinerja teleskop reflektor yang dibuat Isaac Newton dan didemonstrasikan di hadapan anggota Perkumpulan Kerajaan pada akhir tahun 1671. Gambar dua mahkota di kiri bawah adalah ornamen sebuah pembaca arah angin sejauh 100 meter, dilihat dengan menggunakan reflektor Newton (A) dan dengan refraktor (B). Sumber: Hoskin, M. (ed.) 1997, The Cambridge Illustrated History of Astronomy, Cambridge University Press. h.153.

Teleskop Reflektor

Isaac Newton menyadari persoalan aberasi kromatis ini ketika mempelajari pemecahan sinar matahari menjadi warna pelangi dengan menggunakan prisma. Dengan tepat ia menyimpulkan bahwa aberasi kromatis adalah persoalan yang terkait dengan lensa (sebagaimana telah disinggung pada bagian tentang refraktor) dan membuat sebuah teleskop reflektor yang menggunakan cermin sebagai pemecahannya (Gambar 1).