Sebelum manusia bisa kembali berjalan di permukaan Bulan, sepasukan robot kecil telah sibuk melakukan “kerja kotor” di sana. Selama dua tahun terakhir, Bulan menjadi destinasi yang ramai dikunjungi.

Pada awal 2024, Manusia menyaksikan campuran antara kemenangan dan kegagalan saat perusahaan swasta dan badan antariksa nasional mencoba peruntungan di permukaan lunar. Meskipun beberapa misi, seperti pendarat Peregrine, gagal karena kendala teknis, misi lainnya berhasil mencetak sejarah. Misi SLIM milik Jepang berhasil melakukan pendaratan presisi pada Januari 2024, dan hanya berselang beberapa minggu, Odysseus dari Intuitive Machines menjadi pesawat ruang angkasa Amerika pertama yang menyentuh Bulan dalam lebih dari 50 tahun.
Para pengintai robotik ini telah menjadi “tim pendahulu” yang penting pada era Artemis. Pada tahun 2025, momentum ini semakin kuat dengan misi-misi seperti Blue Ghost dari Firefly Aerospace, yang menghabiskan waktu berminggu-minggu melakukan penelitian di kawah Mare Crisium, serta Chang’e 6 dari Tiongkok yang sukses membawa pulang sampel pertama dari sisi jauh Bulan. Keberhasilan pendaratan ini membuktikan bahwa manusia memiliki teknologi untuk mencapai Bulan; sekarang, Artemis II bertugas menghadapi tantangan yang jauh lebih rumit: membawa manusia ke Bulan dengan aman.
Misi Utama: Melintasi Bulan Selama 10 Hari

Memasuki awal 2026, NASA sedang berada dalam fase akhir untuk meluncurkan Artemis II—misi yang akhirnya akan memutus rekor 54 tahun manusia yang selama ini berada di orbit rendah Bumi, dan mengirim empat awak kembali ke ruang angkasa jauh (deep space).
Berbeda dengan misi Apollo yang “menancapkan bendera dan meninggalkan jejak,” Artemis II adalah uji ketahanan yang ketat.
Awak ARTEMIS II terdiri dari Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, Spesialis Christina Koch, dan astronot Badan Antariksa Kanada Jeremy Hansen, belum akan mendarat di permukaan Bulan. Sebagai gantinya, mereka akan terbang dalam rute yang disebut “lintasan bebas kembali” (free-return trajectory). Bayangkan ini sebagai angka delapan kosmik raksasa:
- Peluncuran: Roket Space Launch System (SLS), roket terkuat yang pernah dibuat, akan mendorong kapsul Orion ke orbit Bumi.
- Pemeriksaan Sistem: Kru akan menghabiskan 24 jam pertama di orbit Bumi yang tinggi untuk menguji sistem pendukung kehidupan guna memastikan kabin aman sebelum berangkat menuju Bulan.
- Efek Ketapel: Orion akan melakukan pembakaran untuk melesat sejauh 370.000 kilometer. Mereka akan mengayun melewati sisi jauh Bulan, menggunakan gravitasi Bulan untuk “melemparkan” mereka kembali ke Bumi tanpa memerlukan pembakaran mesin kedua.
Status Terkini: Persiapan di Landasan Luncur

Per akhir Februari 2026, misi ini berada dalam fase antisipasi yang tinggi. NASA baru saja menyelesaikan wet dress rehearsal (gladi resik basah), yaitu, uji coba pengisian bahan bakar skala penuh pada roket SLS. Meskipun tim berhasil mengisi lebih dari 2,8 juta liter propelan super dingin, ditemukan masalah kecil pada aliran helium pada 21 Februari. Hal ini mengharuskan roket ditarik kembali sebentar ke Vehicle Assembly Building untuk perbaikan.
Oleh karena itu, peluncuran yang sebelumnya direncanakan pada Maret, kini ditargetkan pada jendela peluncuran di awal April 2026.
Kru yang Bersiap: Meskipun ada pergeseran tanggal, para astronot sudah siap sepenuhnya. Mereka baru saja memasuki masa “karantina ringan” pra-penerbangan untuk memastikan kondisi kesehatan mereka tetap prima.
Dalam misi Artemis II ini, Victor Glover akan menjadi orang kulit berwarna pertama yang terbang melampaui orbit rendah Bumi dan menuju Bulan. Christina Koch akan menjadi perempuan pertama yang melakukan hal yang sama. Dan Jeremy Hansen akan menjadi warga negara non-Amerika pertama yang pernah meninggalkan orbit Bumi, hasil dari perjanjian 2020 antara Amerika Serikat dan Kanada yang membuka pintu bagi partisipasi internasional dalam program Artemis.
Mengapa Ini Penting: Hadiah di Kutub Selatan
Artemis II adalah “latihan umum” yang sangat penting untuk Artemis III, yang saat ini dijadwalkan pada 2028. Untuk misi ARTEMIS III, NASA bertujuan untuk mendaratkan astronaut wanita pertama di dekat Kutub Selatan Bulan dan tentu saja fokus membangun pangkalan di Bulan.
Wilayah ini dianggap sebagai “lokasi premium” di Bulan karena adanya kawah yang selalu gelap gulita. Para ilmuwan yakin kawah-kawah ini menyimpan miliaran ton es air. Jika manusia bisa mengolah es tersebut, manusia dapat mengolahnya menjadi:
- Oksigen untuk bernapas di pangkalan Bulan.
- Hidrogen Cair untuk bahan bakar roket.
- Air Minum untuk masa tinggal jangka panjang.
Manusia tidak hanya kembali ke Bulan untuk sekadar pamer; manusia kembali untuk belajar bagaimana cara hidup di dunia lain. Data yang dikumpulkan oleh awak Artemis II saat mereka menghadapi radiasi ruang angkasa jauh dan isolasi di sisi terjauh Bulan akan menjadi cetak biru bagi lompatan besar berikutnya: Planet Mars.















Tulis Komentar