fbpx
langitselatan
Beranda » Rahasia Pembentukan Planet di Bintang-Bintang Muda

Rahasia Pembentukan Planet di Bintang-Bintang Muda

Para astronom menyingkap pemahaman baru dalam studi pembentukan planet di berbagai area di Bimasakti!

Piringan protoplanet dari 10 bintang muda di tiga wilayah pembentukan bintang. Kredit: ESO/C. Ginski, A. Garufi, P.-G. Valegård et al.
Piringan protoplanet dari 10 bintang muda di tiga wilayah pembentukan bintang. Kredit: ESO/C. Ginski, A. Garufi, P.-G. Valegård et al.

Sampai saat ini para astronom telah menemukan lebih dari 5000 planet yang mengitari bintang lain. Yang menarik dari perburuan planet ini, Tata Surya yang dulu kita anggap sebagai model ideal sebuah sistem keplanetan ternyata tidaklah unik. 

Sistem keplanetan yang kita temukan ternyata berbeda dari Tata Surya dengan planet yang lebih beragam. Salah satunya adalah Jupiter panas. Di Tata Surya, planet gas raksasa itu terbentuk jauh dari Matahari. Sementara itu, penemuan planet gas raksasa di bintang lain justru memperlihatkan keberadaan planet gas raksasa di dekat bintang. Dan tipe ini kemudian diberi nama Jupiter panas. 

Pertanyaannya, bagaimana planet seperti ini terbentuk di dekat bintang? Apakah terbentuk di dekat bintang atau bermigrasi? Selain itu, ada planet Bumi Super dan juga Neptunus mini yang punya keunikan tersendiri. 

Untuk memahaminya, para astronom kemudian mengamati bintang-bintang muda yang masih dikelilingi oleh piringan protoplanet atau cakram gas dan debu yang jadi area kelahiran planet. Dan bintang-bintang muda ini tentu bisa ditemukan pada awan molekular raksasa yang jadi lokasi kelahiran bintang.

Dan dalam awan gas raksasa ini, kita tidak hanya menemukan satu bintang tapi ada kumpulan bintang-bintang muda dengan cakram gas dan debu yang masih mengelilinginya. 

Dengan cara ini, para astronom bergeser dari studi intensif sistem bintang individu  dengan planet-planetnya ke tinjauan menyeluruh dari sistem exoplanet yang terbentuk di seluruh wilayah pembentukan bintang.

Menarik? Tentu saja!

Kelahiran Planet di Bintang-Bintang Muda

Untuk penelitian ini, para astronom mengamati 86 bintang muda yang berada pada 3 area pembentukan bintang yang berbeda di Bimasakti. Ketiga area itu adalah area pembentukan bintang Taurus dan Chamaeleon I yang jaraknya 600 tahun cahaya dari Bumi, dan wilayah Orion, awan pembentukan bintang yang jaraknya 1600 tahun cahaya. Di wilayah Orion inilah lahir bintang-bintang yang lebih besar dari Matahari.  

Data pengamatan ketiga wilayah pembentukan bintang para astronom memperoleh beberapa pemahaman penting.

Pada wilayah Orion, bahwa bintang yang berkelompok (dua ataupun lebih) cenderung tidak memiliki piringan protoplanet yang besar. Data ini memperlihatkan bahwa tidak seperti Matahari, sebagian besar bintang di Bimasakti memiliki pendamping. Tak cuma itu, kenampakan cincin atau cakram gas dan debu yang tidak rata menunjukkan kemungkinan keberadaan planet masif yang sudah terbentuk di dalamnya sehingga piringan protoplanet melengkung dan tidak sejajar.

Pengamatan

Piringan protoplanet pada bintang itu bisa merentang sampai ratusan kali lebih jauh dari jarak Bumi ke Matahari. Akan tetapi, lokasi bintang yang jaraknya mencapai beberapa ratus tahun cahaya dari kita membuat piringan protoplanet tampak seperti peniti kecil di langit malam.

Baca juga:  PH1, Planet Sirkumbiner di Sistem Bintang Berempat

Untuk bisa melihat peniti mungil di angkasa ini, para astronom melakukan pengamatan dengan Spectro-Polarimetric High-contrast Exoplanet REsearch instrument (SPHERE) yang dipasang pada Very Large Telescope (VLT) ESO.  Sistem optik adaptif pada SPHERE ini mengoreksi efek turbulensi atmosfer Bumi, dan menghasilkan citra piringan gas dan debu yang tajam pada bintang dengan massa setidaknya setengah massa Matahari. Bintang seperti ini biasanya terlalu redup untuk diamati oleh instrumen lain yang ada saat ini. 

Data pengamatan tambahan juga diperoleh dari instrumen X-shooter pada VLT yang bisa mengukur usia dan massa bintang. Sementara itu, pengamatan dengan teleskop radio ALMA (Atacama Large Millimeter/submillimeter Array) memberikan informasi jumlah bintang pada sebagian bintang!

Kolaborasi keren yang menghasilkan pemahaman pembentukan planet pada bintang-bintang muda di area berbeda di Bimasakti. 

Di masa depan, kehadiran Extremely Large Telescope (ELT) ESO memungkinkan para astronom untuk mempelajari wilayah dalam pada cakram protoplanet untuk mempelajari pembentukan planet batuan seperti Bumi.

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis Komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini