fbpx
langitselatan
Beranda » Temuan Baru Exoplanet K2- 18 b: Apakah Ada Potensi Kehidupan di Luar Bumi? 

Temuan Baru Exoplanet K2- 18 b: Apakah Ada Potensi Kehidupan di Luar Bumi? 

Apakah ada makhluk hidup di luar Bumi? Saat ini, Ilmu pengetahuan sedang dalam tahap memperoleh pencerahan ketika planet-planet baru ditemukan.

Bumi. Kredit: Unsplash/Javier Miranda
Bumi. Kredit: Unsplash/Javier Miranda

Pada bulan September 2023, tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh Universitas Cambridge menemukan sebuah exoplanet—planet yang mengorbit bintang di luar Tata Surya—yang disebut K2- 18 b. 

Tim ini menemukan keberadaan metana dan karbon dioksida dengan bantuan Teleskop Antariksa James Webb (JWST), teleskop luar angkasa yang paling canggih yang sedang beroperasi. Meskipun bukan makhluk hidup, molekul-molekul ini merupakan penemuan besar karena mengindikasikan kalau K2-18 b memiliki atmosfer yang kaya hidrogen dengan permukaan yang tertutup lautan air. Para ilmuwan mengklasifikasikan exoplanet ini sebagai planet Hycean, sebuah fitur yang menjanjikan dalam pencarian bukti kehidupan.

Untuk menguak mengapa para ilmuwan bisa berspekulasi tentang keberadaan air di exoplanet tersebut, astronom komunikator lulusan Institut Teknologi Bandung, Avivah Yamani, memberikan penjelasannya. 

“Kenapa dikatakan di bawah lapisan atmosfer karbon dioksida dan metana terdapat air di permukaan, karena diduga ada cahaya dari bintang yang diterima planet (K2-18 b) dan dipantulkan kembali, bereaksi dengan air. Reaksi inilah yang kemudian menghasilkan karbon dioksida dan metana yang ada di atmosfer. Karena itu, para astronom menduga ada air di permukaan K2-18 b.” 

Selain itu, lokasi K2-18 b juga berada pada jarak 120 tahun cahaya dari Bumi —jarak yang setara dengan perjalanan pulang pergi dari Bumi ke matahari sebanyak 3,78 miliar kali! Uniknya, K2-18 b merupakan exoplanet yang mengitari bintang katai merah (bintang yang lebih kecil dan lebih dingin dari Matahari) di area laik huni yang disebut Zona Goldilocks. Zona ini merupakan area di mana planet tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, sehingga airnya tetap berwujud cair.

Zona laik huni atau zona Goldilocks. Kredit: Galih Widiyanto
Zona laik huni atau zona Goldilocks. Kredit: Galih Widiyanto

Ini bukan pertama kalinya K2-18 b menjadi sorotan. Pada tahun 2019, para ilmuwan dari University College London juga menemukan uap air di atmosfer K2-18 b dengan bantuan Teleskop Antariksa Hubble milik NASA. Ini adalah pertama kalinya para ilmuwan menemukan tanda-tanda uap air di atmosfer planet di luar Tata Surya yang berada di zona Goldilocks. Tapi, dalam temuan tahun ini, ada cerita yang lebih menarik. 

Temuan terbaru dari JWST juga mengungkap adanya kemungkinan terdeteksinya molekul yang disebut dimetil sulfida (DMS) di atmosfer K2-18 b. Avivah berbagi wawasannya tentang mengapa molekul DMS menjadi salah satu sorotan dari temuan ini. 

“DMS menjadi sorotan karena dimetil sulfida cukup melimpah dan berasal dari fitoplankton di laut. Jika planet ini memiliki air di permukaannya, dan memang benar jika kita bisa mengonfirmasi keberadaan dimetil sulfida, maka diduga dimetil sulfida itu terbentuk di K2-18 b, yang berarti terbentuk oleh kehidupan yang sudah terbentuk di lautan K2-18 b.” 

Ya, teman-teman pembaca tidak salah dengar, sebuah molekul yang hanya diproduksi oleh organisme laut seperti fitoplankton. Makhluk hidup. Tentu, K2-18 b mengandung kisah yang menarik bagi kita. Tapi jangan bereaksi berlebihan dulu. Avivah juga menambahkan catatan tambahan. 

“Saya menduga para astronom dan ilmuwan akan melibatkan orang-orang yang memiliki keahlian di bidang biologi, untuk mendalami apakah ada kemungkinan dimetil sulfida bisa terbentuk tanpa organisme, melainkan dengan reaksi kimia lainnya.” 

Selain itu, keberadaan DMS yang ditemukan oleh tim ilmuwan tersebut masih dianggap lemah dan perlu penelitian lebih lanjut untuk memvalidasi temuan saat ini. Ada juga kemungkinan bahwa meskipun K2-18 b diprediksi memiliki lautan di bawah atmosfernya, lautan tersebut mungkin juga terlalu panas untuk menjadi cair atau layak huni bagi organisme biologis.

Ilustrasi CoLD framework

Memang, para ilmuwan masih jauh untuk menyimpulkan kalau exoplanet K2-18 b bisa mendukung kehidupan. Tapi, ada sebuah kerangka kerja yang diusulkan oleh Jim Green, mantan kepala ilmuwan di NASA, yang bisa membantu kita untuk mendapatkan gambaran bagaimana kita melihat dan mengomunikasikan bukti-bukti potensial kehidupan di luar Bumi. 

Kerangka kerja (framework) ini disebut dengan skala ‘Confidence of Life Detection’ (CoLD). Secara umum, Jim Green berpendapat bahwa komunitas ilmiah harus menginformasikan kepada publik bahwa topik kehidupan di luar Bumi itu kompleks dan berpotensi besar untuk menjadi sensasional. Oleh karena itu, Jim Green mengusulkan sebuah kerangka kerja yang mencakup tujuh tolok ukur keyakinan dalam skala CoLD ini. 

Berdasarkan kerangka kerja ini, metana, karbon dioksida, dan potensi keberadaan DMS baru-baru ini masih dipertimbangkan dalam tahap awal kerangka kerja CoLD. Setidaknya di level 1; oleh karena itu, masih ada jalan panjang untuk menyatakan bahwa kita telah menemukan kehidupan di luar Bumi. 

Namun, sekecil apa pun penemuan yang baru saja terjadi, laporan yang disajikan oleh tim ilmuwan yang dipimpin Universitas Cambridge ini patut dipuji dan dianggap sebagai batu loncatan untuk mencerahkan pengetahuan kita dalam menemukan kehidupan di luar Bumi. Dengan pengetahuan dan teknologi yang kita miliki saat ini, masih ada peluang yang signifikan untuk memperluas cakrawala kita dalam pencarian kehidupan di luar Bumi. 

Terakhir, tim ilmuwan yang memimpin penelitian K2-18 b ini juga akan melakukan penelitian lanjutan untuk memvalidasi temuan mereka dan menemukan wawasan baru. Apapun hasilnya, menemukan jawaban atas pertanyaan apakah ada kehidupan di luar Bumi akan selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk dijawab. Seperti yang juga dikatakan Avivah: 

“Entah kita bisa menemukannya atau tidak, paling tidak ini adalah bagian dari upaya kita untuk mencari kehidupan lain, mencari peradaban lain untuk memuaskan keingintahuan kita terkait peradaban lain, terkait kehidupan di luar bumi.” 

Jadi, apakah kita akan menemukan kehidupan di luar Bumi? Apa pendapat teman teman pembaca? 

Avatar photo

Galih Widiyanto

Mahasiswa master di Utrecht University, jurusan Science Education and Communication

Tulis Komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini