Planet Pi, Exoplanet Kebumian Dengan Periode Konstanta π

Para astronom menemukan exoplanet yang punya perpaduan antara matematika dan astronomi. Namanya Planet Pi atau Planet π!

Planet Pi yang seukuran Bumi. Kredit: NASA Ames/JPL-Caltech/T. Pyle, Christine Daniloff, MIT
Planet Pi yang seukuran Bumi. Kredit: NASA Ames/JPL-Caltech/T. Pyle, Christine Daniloff, MIT

Seperti namanya, planet Pi mengelilingi bintang induknya setiap 3,14 hari, persis nilai π konstanta matematika perbandingan keliling lingkaran dengan diameternya.

Planet Pi ditemukan oleh misi K2 Teleskop Kepler pada tahun 2017 ketika planet ini melintas di depan bintang. Metode transit yang digunakan Kepler untuk berburu planet di bintang lain pada area rasi Cygnus, Lyra, dan Draco memang berhasil. Misi Kepler dan misi K2 lanjutannya berhasil mengamati total 530.506 bintang dan mendeteksi lebih dari 5000 kandidat planet. Dari seluruh kandidat planet tersebut baru 2.662 planet yang dikonfirmasi.

Planet dalam Data K2

Kandidat planet Pi ditemukan dalam data misi K2 dan dikonfirmasi lewat pengamatan dengan jaringan teleskop SPECULOOS (The Search for habitable Planets EClipsing ULtra-cOOl Stars) yang terdiri dari empat teleskop diameter satu meter di Gurun Atacama, Chili. Keempat teleskop tersebut bertugas untuk melakukan pemantauan langit di belahan bumi selatan. Teleskop kelima dari jaringan SPECULOOS yang baru ditambahkan yakni ARTEMIS, ditempatkan di belahan utara.

SPECULOOS memang dirancang untuk untuk mencari planet mirip Bumi di dekat bintang berukuran kecil dan redup. Pemantauan planet ini menggunakan metode transit yang melihat perubahan kecerlangan bintang saat planet melintas atau menggerhanai bintang tersebut.

Awal tahun ini, tim astronom MIT yang dipimpin oleh mahasiswa pascasarjana Prajwal Niraula menemukan bintang katai merah dengan suhu 3300 K dalam data misi K2. Dalam data pengamatan tahun 2017 tersebut, Teleskop Kepler mengamati bintang katai merah yang diberi kode EPIC 249631677. Dalam pengamatan tersebut, terjadi 20 kali peredupan yang berulang setiap 3,14 hari. Itu artinya, bintang EPIC 249631677 punya kandidat planet.

Tapi, bisa saja sinyal tersebut bukan dari planet yang transit. Untuk itu perlu dilakukan analisis berbagai kemungkinan termasuk pengamatan lanjutan untuk mengonfirmasi apakah memang sinyal tersebut dari planet.

Hasil analisis awal, sinyal tersebut bukan berasal dari sistem bintang ganda melainkan dari planet. Karena itu, pengamatan pun dilakukan dengan SPECULOOS dan hasilnya, jaringan teleskop ini berhasil mengamati 3 peristiwa transit setiap 3,14 hari. Dua peristiwa transit dengan teleskop di belahan selatan, dan transit ketiga dengan Artemis di utara.

Voila! Ada planet baru lagi! Planet ini bergerak seperti jarum jam, dan tentu saja menarik karena periodenya yang persis konstanta pi, 3,14 hari!

Planet Pi

Planet Pi atau lebih tepatnya planet K2-315b, adalah planet dalam sistem ke-315 yang ditemukan pada data misi K2. Planet ini punya kemiripan dengan Bumi. Ukurannya 0,95 diameter Bumi, dan meskipun massanya belum diketahui dengan pasti, diperkirakan planet ini juga memiliki massa mirip Bumi.

K2-315b mengorbit bintang katai merah dengan massa seperlima massa Matahari atau 0,17 massa Matahari dan ukuran hanya 0,2 diameter Matahari. Planet ini bergerak mengelilingi bintang induknya setiap 3,14 hari dengan kecepatan 81 km per detik atau 292.000 km per jam! Kecepatan planet Pi mengelilingi bintangnya sama dengan jarak tempuh mobil yang bergerak dengan kecepatan 80 km/jam. Bedanya, planet Pi menempuh jarak tersebut dalam 1 detik!

Meskipun ukuran dan massanya mirip Bumi, planet Pi sama sekali tidak mirip Bumi. Orbitnya yang sangat dekat dengan bintang membuat permukaan planet ini sangat panas yakni 450 K. Belum sepanas Venus tapi sudah cocok untuk memanggang kue pai!

Temperatur yang sedemikian panas tentu saja tidak cocok untuk kehidupan yang kita kenal. Untuk bisa memahami planet ini, masih perlu pengamatan lanjutan untuk meneliti atmosfernya. Dan para astronom berharap studi lanjut tersebut bisa dilakukan bukan saja dengan Artemis dan jaringan SPECULOOS melainkan dengan TESS ataupun JWST. Tujuannya tentu saja untuk menemukan tanda kemiripan dengan Bumi di atmosfer planet Pi.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.