Polusi Galaksi

Perubahan iklim serta dampaknya pada lingkungan seperti polusi udara dan lautan menjadi perhatian utama masyarakat di Bumi.

Gas karbon yang menyelubungi galaksi ketika alam semesta baru berusia satu miliar tahun. Kredit: ALMA (ESO/NAOJ/NRAO), NASA/ESA Hubble Space Telescope, Fujimoto et al.
Gas karbon yang menyelubungi galaksi ketika alam semesta baru berusia satu miliar tahun. Kredit: ALMA (ESO/NAOJ/NRAO), NASA/ESA Hubble Space Telescope, Fujimoto et al.

Tapi, polusi lingkungan sudah terjadi di alam semesta sejak jaman dahulu. Dan dalam penelitian kali ini, para ilmuwan berhasil menemukan polusi paling awal yang terjadi di Alam Semesta.

Di Bumi, gas karbon termasuk polutan yang berbahaya bagi lingkungan. Akan tetapi, di luar angkasa, gas karbon merupakan unsur penting dalam pembentukan bintang dan galaksi pertama ketika Alam Semesta masih muda.

Kali ini, para astronom melihat alam semesta dengan teleskop radio ALMA yang ada di Chili. Dari pengamatan ini ditemukan awan raksasa yang berlimpah dengan gas karbon, membentang lebih dari 30.000 tahun cahaya di sekeliling galaksi muda, pada jarak 12,8 miliar tahun cahaya. Dari jaraknya kita bisa mengetahui kalau kepompong gas karbon tersebut ditemukan satu miliar tahun setelah Big Bang. Itu artinya, satu miliar tahun setelah Big Bang, bintang sudah terbentuk, berevolusi, dan mati.

Yang menarik, gas karbon yang ditemukan ini bukan hanya pada galaksi tapi sampai ke luar galaksi. Bagaimana gas ini bisa tersebar sampai ke luar galaksi?

Ketika Alam Semesta baru terbentuk lewat Big Bang, unsur seperti karbon dan oksigen belum ada. Unsur-unsur berat seperti ini baru terbentuk ketika bintang-bintang pertama terbentuk di Alam Semesta. Jadi, karbon dan oksigen itu dihasilkan lewat reaksi pembakaran di inti bintang. Karena bintang-bintang pertama ini mati dalam ledakan supernova, karbon dan oksigen yang tadinya ada di dalam bintang bisa tersebar ke seluruh galaksi, bahkan sampai ke luar galaksi. Untuk bisa tersebar ke luar galaksi, para astronom menduga kalau penyebarannya dibantu semburan energetik dan radiasi lubang hitam supermasif di pusat galaksi.

Awan raksasa gas karbon ini merupakan kabar pertama yang datang dari Alam Semesta dini terkait atom karbon yang menyebar sampai ke luar dari galaksi. Yang menarik, sampai saat ini, belum ada teori yang memprediksi keberadaan kepompong karbon raksasa pada galaksi yang sedang bertumbuh.

Fakta Keren

Seluruh karbon di alam semesta dibuat di dalam bintang. Karbon mengisi sebagian besar kehidupan kita. Mulai dari karbon dioksida di udara sampai ke makanan yang kita makan. Dan hampir seperlima tibuh kita terbuat dari karbon.

[divider_line]

Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang yang dikembangkan dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.