Duet Dinamis

Mirip dengan kita yang ingin melepaskan lapisan luar pakaian karena kepanasan di musim kemarau, planet juga melepaskan lapisan terluar atmosfernya ketika mereka kepanasan!

Ilustrasi bintang katai putih dan planetnya yang mirip Neptunus. Kredit: ESO/M. Kornmesser
Ilustrasi bintang katai putih dan planetnya yang mirip Neptunus. Kredit: ESO/M. Kornmesser

Dengan teleskop besar di padang gurun Chili, para astronom berhasil menemukan planet raksasa yang sedang melepas lapisan atmosfer terluarnya!

Tapi, planet ini bukan planet biasa.

Planet ini unik karena ia adalah planet pertama yang mengorbit bintang katai putih, sisa bintang seperti Matahari.

Ketika bintang seperti Matahari sudah membakar habis seluruh bahan bakarnya, maka bintang akan mengalami keruntuhan, Materi di pusat bintang mengalami tekanan dan memadat menjadi bola kecil yang sangat berat. Bola ini yang dikenal sebagai bintang katai putih. Bintang katai putih juga kehilangan lapisan gas terluarnya ke angkasa.

Yang tak disangka-sangka, bintang katai putih ini ternyata memiliki planet. Penemuan ini pun setelah para astronom menyelidiki sekitar 7000 bintang katai putih yang diamati dalam  Sloan Digital Sky Survey. Setelah menganalisis perubahan yang bahkan sangat kecil pada cahaya bintang, ditemukan jejak sejumlah senyawa kimia yang belum pernah dilihat sebelumnya pada bintang katai putih.

Supaya lebih jelas, para astronom pun melakukan pengamatan lagi pada bintang ini dengan teleskop VLT di padang gurun Chili. Hasilnya, mereka menemukan jejak oksigen dan belerang pada gas yang bergerak masuk ke katai putih. Jadi gas yang ditemukan itu bukan berasal dari bintang.

Yang jadi pertanyaan, kalau bukan dari bintang katai putih, dari mana gas itu berasal. Tentu ada benda lain yang melepaskan gas tersebut. Ternyata, gas itu berasal dari gas yang menguap atau terlepas dari planet raksasa. Jadi, jumlah gas oksigen dan belerang yang ditemukan itu hampir sama dengan yang ada di planet Neptunus dan Uranus.

Kita tidak melihat ada oksigen dan belerang yang lepas dari Neptunus dan Uranus karena kedua planet ini jauh dari Matahari. Jadi, keduanya masuk kategori planet es. Tapi, kalau planet raksasa ini dekat dengan bintang, maka radiasi ultraungu yang sangat kuat dari bintang akan mengoyak lapisan terluar planet dan sebagian gas akan ditarik ke bintang katai putih.

Inilah planet pertama yang sedang mengalami penguapan yang berhasil ditemukan pada bintang katai putih yang sukunya 28.000 ºC atau 5 kali lebih panas dari Matahari!
Planet yang mengitarinya ternyata planet es yang ukurannya dua kali ukuran bintang. Karena planet ini mengorbit dari jarak yang sangat dekat, planet ini hanya butuh 10 hari untuk mengitari bintang. Dan karena dekat juga maka bintang yang luar biasa panas itu membuat planet kehilangan atmosfer.

Sebagian besar gas lepas tapi sebagian lagi ditarik ke piringan yang ada di sekeliling bintang. Dalam satu detik, planet bisa kehilangan 3000 ton gas. Itu setara dengan 2,7 juta kg gas per detik!

Nah, piringan gas inilah yang dilihat oleh para astronom. Kalau tidak ada gas yang ditarik ke bintang, planet serupa Neptunus itu tak akan pernah terlihat.

Pasangan planet dan bintang katai putih ini bisa menjadi petunjuk bagaimana Tata Surya kita kelak, setelah Matahari menjadi bintang katai putih yang kecil.

Fakta Keren

Bintang katai putih merupakan salah satu objek tertua di Alam Semesta karena tahap ini merupakan tahap akhir dari kehidupan sebagian besar bintang (termasuk Matahari).

[divider_line]

Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang yang dikembangkan dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.