Fenomena Langit Bulan Januari 2020

Selamat Tahun Baru 2020! Mengawali dekade kardinal 2020-an, pengamat di Indonesia akan disuguhi Gerhana Bulan Penumbra, dan tentu saja hujan meteor tahunan Quadrantid.

Bulan Purnama. Kredit: langitselatan
Bulan Purnama. Kredit: langitselatan

Planet

Merkurius, Jupiter, & Saturnus. Ketiga planet ini tidak akan tampak bagi pengamat selama bulan Januari. Jupiter yang baru saja berkonjungsi dengan Matahari. Sementara itu, Merkurius dan Saturnus sedang berada di titik terjauhya dari Bumi dan berkonungsi dengan Matahari. Keduanya akan berada segaris dengan Bumi, dan Matahari berada di antara Bumi dan kedua planet. Akibatnya bagi pengamat di Bumi, Merkurius, Jupiter, dan Saturnus akan menghilang ditelan cahaya Matahari. Ketiganya juga terbit dan terbenam pada waktu yang berdekatan dengan waktu terbit dan terbenamnya Sang Surya.

Pada penghujung bulan Januari, ketiga planet mulai menampakkan diri kembali. Jupiter sudah mulai tampak sebelum fajar menyingsing pada pertengahan Januari dan sudah cukup tinggi untuk diamati pengamat jelang akhir Januari. Sementara itu, Saturnus juga mulai tampak sebelum fajar menyingsing sedangkan Merkurius tampak kala senja. Akan tetapi, kedua planet ini masih terlalu rendah untuk bisa diamati.

Venus. Venus, si bintang Kejora masih tetap bertengger di langit senja, setelah matahari terbenam sampai sekitar pukul 20:30 WIB. Planet ini terus bergerak naik dari rasi Capricornus ke Aquarius dan berpapasan dengan Bulan di akhir Januari.

Mars. Si planet merah masih setia menemani pengamat sejak lewat tengah malam sampai saat fajar menyingsing. Selama bulan Januari, Mars tampak bergeser dari rasi Libra ke Ophiuchus dan tampak segaris dengan Bulan dan Antares di penghujung bulan Januari.

Uranus & Neptunus. Planet es raksasa ini terlalu redup untuk diamati dengan mata tanpa alat. Siapkan teleskop jika ingin melihat kedua planet es tersebut. Selama bulan Januari, Uranus dan Neptunus bisa diamati setelah Matahari terbenam. Uranus bisa diamati sampai tengah malam, sedangkan Neptunus hanya bisa diamati sampai kisaran pukul 22:00 WIB di awal Januari dan terus bergeser ke pukul 20:00 WIB di penghujung Januari. Uranus bisa ditemukan di Aries, sedangkan Neptunus di rasi Aquarius.

Bulan

Fase Bulan selama Januari 2020. Kredit: Fajar Ariadi / langitselatan
Fase Bulan selama Januari 2020. Kredit: Fajar Ariadi / langitselatan

Bulan tetap jadi atraksi menarik untuk dilihat karena kecerlangannya. Selain itu, konjungsi Bulan dan planet juga jadi suguhan menarik lainnya.

2 Januari.  Bulan di titik apogee. Bulan mencapai jarak dari Bumi pada jarak 404.580 km

3 Januari. Bulan Perbani Awal. Bulan akan tampak sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Bulan terbenam. Para pengamat langit bisa menikmati langit bebas cahaya Bulan mulai tengah malam sampai jelang dini hari.

11 Januari. Bulan Purnama. Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya. Setelah fase purnama, Bulan secara perlahan akan bergeser waktu terbitnya semakin malam.

14 Januari. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 365.958 km.

17 Januari. Bulan Perbani Akhir. Bulan terbit tengah malam dan terbenam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam sampai jelang fajar.

25 Januari. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi Bulan dan Matahari akan tampak sepanjang hari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan.

30 Januari.  Bulan di titik apogee. Bulan mencapai jarak dari Bumi pada jarak 405.393 km

Hujan Meteor

4 Januari Hujan Meteor Quadrantid

Hujan meteor Quadrantid saat puncak tanggal 4 Januari 2020 pukul 04:00 WIB. Kredit: Star Walk 2
Hujan meteor Quadrantid saat puncak tanggal 4 Januari 2020 pukul 04:00 WIB. Kredit: Star Walk

Tahun 2020 akan diawali oleh pertunjukkan hujan meteor Quadrantid di langit dari tanggal 28 Desember – 12 Januari. Puncak hujan meteor Quadrantid akan berlangsung tanggal 4 Januari 2019 pukul 15:20 WIB. Hujan meteor Quadrantid tampak muncul dari rasi Bootes yang terbit pukul 02:45 WIB di arah timur laut. Bulan yang terbenam tengah malam tidak akan mengganggu pengamatan.

Berbeda dengan hujan meteor lainnya, intensitas maksimum hujan meteor Quadrantid hanya terjadi beberapa jam. Quadrantid berasal dari puing-puing Komet Wirtanen saat berpapasan dengan Bumi pada tahun 1974. Saat malam puncak, pengamat bisa menikmati setidaknya 50-120 meteor per jam. Akan tetapi, bagi pengamat di belahan Bumi Selatan, hujan meteor Quadrantid tidak sebaik pengamat di Utara dan banyaknya meteor yang bisa dinikmati juga lebih sedikit.

Gerhana

11 JanuariGerhana Bulan Penumbra

Bulan saat puncak gerhana penumbra pada tanggal 11 Januari pukul 02:11 WIB. Kredit: Star Walk
Bulan saat puncak gerhana penumbra pada tanggal 11 Januari pukul 02:11 WIB. Kredit: Star Walk

GBP 11 Januari jadi menjadi gerhana pembuka untuk musim gerhana tahun 2020. Berbeda dari gerhana bulan total maupun gerhana bulan sebagian, Bulan tidak akan menghilang di langit malam. Bahkan tidak mudah untuk bisa mengetahui apakah Bulan sedang berada dalam kondisi Gerhana ataukah hanya Bulan Purnama biasa. Saat gerhana bulan penumbra, Bulan hanya tampak berubah sedikit gelap, atau berkurang kecerlangannya.

Saat Gerhana Bulan Penumbra, Bulan akan masuk dalam kerucut penumbra Bumi, dan tetap menerima sebagian cahaya Matahari untuk dipantulkan. Kontak pertama Gerhana Bulan Penumbra 11 Januari terjadi pukul 00:07:45 WIB dan berakhir pada pukul 04:12:19 WIB. Puncak gerhana terjadi pukul 02:11:10 WIB.

Untuk Gerhana Bulan Penumbra 11 Januari 2019, seluruh masyarakat Indonesia bisa mengamati gerhana ini. Akan tetapi, sebagian masyarakat Papua tidak bisa mengamati GBP sampai akhir karena Bulan sudah terbenam sebelum gerhana berakhir.

Peristiwa

5 Januari Perihelion

Orbit Bumi. Ada saatnya Bumi berada pada titik terdekat dengan Matahari (Perihelion). Kredit: langitselatan
Orbit Bumi. Ada saatnya Bumi berada pada titik terdekat dengan Matahari (Perihelion). Kredit: langitselatan

Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam lintasan elips. Artinya ada saat dimana Bumi berada pada titik terdekatnya dengan Matahari dan ada kalanya Bumi berada sangat jauh dari Matahari. Pada tanggal 5 Januari, Bumi berada di titik terdekat dengan matahari pada jarak 0,98 AU atau 147,100,176 km dari Matahari.

10 Januari — Konjungsi Superior Merkurius

Konjungsi superior Merkurius. Kredit: langitselatan
Konjungsi superior Merkurius. Kredit: langitselatan

Merkurius akan berpapasan dekat dengan Matahari di langit sehingga planet ini menghilang dan tidak tampak bagi pengamat di Bumi. Pada saat konjungsi superior, Matahari berada di antara Merkurius dan Bumi, dan hanya terpisah 1,9° dari Matahari.  Merkurius berada pada sisi terjauhnya dari Bumi, dan terjadi dalam satu siklus sinodik planet tersebut (116 hari). Jika Merkurius bisa diamati, maka planet ini sangat redup dengan diameter piringan 4,7”.

Peristiwa konjungsi superior Merkurius juga menandai akhir kenampakan planet ini kala fajar dan mulai bertransisi untuk hadir kala senja dalam beberapa minggu lagi. Ketika Merkurius sedang berada pada posisi terjauhnya dari Bumi, ia akan berada pada jarak 1,43 AU dari Bumi.

13 Januari — Konjungsi Saturnus

Konjungsi Saturnus. Kredit: langitselatan
Konjungsi Saturnus. Kredit: langitselatan

Saturnus akan berada pada posisi terjauh dari Bumi yakni 11,02 AU, dan Matahari berada di antara kedua planet. Akibatnya, pengamat di Bumi tidak akan bisa melihat planet cincin tersebut karena jaraknya yang sangat dekat dengan Matahari, yakni 0,03°. Jika Saturnus bisa diamati, maka planet ini sangat redup dengan diameter piringan 15’’ atau 0,004º.

21 Januari — Bulan — Mars — Antares

Bulan, Mars, dan Antares yang tampak segaris tanggal 21 Januari pukul 03:30 WIB. Kredit: Star Walk
Bulan, Mars, dan Antares yang tampak segaris tanggal 21 Januari pukul 03:30 WIB. Kredit: Star Walk

Bulan sabit dan Mars akan berpapasan dekat dengan jarak 2,18º. Mars terbit terlebih dahulu pada pukul 02:20 WIB disusul Bulan 3 menit kemudian.  Bulan dan Mars bisa diamati sampai keduanya mencapai ketinggian 43º sebelum menghilang di balik cahaya fajar.

Selain itu, Antares, si alpha Scopio juga tampak segaris dengan Mars dan Bulan. Bintang terang di rasi Kalajengking ini terpisah sekitar 5,12º dari Mars. Bersama Mars dan Bulan, Antares bisa diamati sampai fajar menyingsing.

23 Januari — Bulan — Jupiter

Pasangan Bulan dan Jupiter tanggal 23 Januari pukul 05:00 WIB. Keduanya cukup rendah di ufuk timur sehingga sulit diamati. Kredit: Star Walk
Pasangan Bulan dan Jupiter tanggal 23 Januari pukul 05:00 WIB. Keduanya cukup rendah di ufuk timur sehingga sulit diamati. Kredit: Star Walk

Bulan sabit tipis dan Jupiter tampak berpasangan di ufuk timur sejak keduanya terbit. Bulan sabit tipis akan terbit terlebih dahulu pada pukul 04:09 WIB disusul Jupiter 12 menit kemudian pada pukul 04:21 WIB. Keduanya hanya terpisah 0,35° dan mencapai ketinggian 16º di atas horison sebelum menghilang di balik cahaya Matahari.

28 Januari — Bulan — Venus

Pasangan Bulan dan Venus setelah Matahari terbenam pada tanggal 28 Januari pukul 19:30 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Bulan dan Venus setelah Matahari terbenam pada tanggal 28 Januari pukul 19:30 WIB. Kredit: Star Walk

Bulan sabit tipis dan Venus akan berpapasan dekat dengan jarak 4,06º di rasi Aquarius setelah Matahari terbenam. Keduanya tampak 32º di atas horison barat dan perlahan menuju ufuk untuk terbenam 2 jam 28 menit setelah Matahari terbenam. Venus terbenam terlebih dahulu pada pukul 20:39 WIB disusul Bulan pada pukul 20:52 WIB.

Rasi Bintang & Bima Sakti

Akhir Januari menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat Bulan menuju fase Bulan Baru. Bimasakti dapat diamati mulai tengah malam membentang dari Tenggara ke Barat Laut.

Setelah Matahari terbenam, ada Canopus di rasi Carina, Sirius di rasi Canis Major, Betelguese dan Rigel di rasi Orion, Aldebaran di rasi Taurus, Capella di rasi Auriga, Archenar di rasi Eridanus,  Procyon di rasi Canis Minor, Pollux dan Castor di Gemini, yang bisa diamati sampai jelang tengah malam. Lewat tengah malam, ada Regulus di rasi Leo, Spica di Virgo, Crux, Rigel Kentaurus di Centaurus, Arcturus di rasi Bootes, dan Antares di Scorpius yang bisa sampai jelang fajar.

Bintang-bintang tersebut cukup terang untuk dapat dijadikan panduan dalam pengamatan.

Peta Bintang 1 Januari 2020

Peta Bintang 15 Januari 2020

 

Kampanye Langit Gelap

16 — 25 Januari — Kampanye Globe At Night

Di bulan Januari, Kampanye Globe At Night atau Kampanye langit gelap untuk membangun kesadaran akan pentingnya langit gelap dan efek dari polusi cahaya diadakan dari 16 – 25 Januari.  Pengamat diajak untuk mengamati rasi bintang yang sudah ditentukan dari berbagai lokasi untuk mengenali bintang yang bisa dilihat di rasi tersebut. Berapa banyak bintang yang bisa dikenali akan menjadi indikasi tingkat polusi cahaya di area tersebut.

Untuk kampanye bulan Januari, para pengamat di belahan utara maupun belahan selatan diajak untuk mengamati Orion. Tujuannya untuk mengetahui seberapa banyak bintang di rasi tersebut yang tampak.

Pengamat bisa menggunakan modul yang sudah disediakan untuk melakukan identifikasi bintang dan melihat tingkat polusi cahaya di lokasinya.

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.