Menuju Koyakan Besar, Akhir Alam Semesta

Selama ribuan tahun, ada pertanyaan sama yang selalu muncul tentang alam semesta. Apakah alam semesta akan tetap ada atau akan ada akhirnya? Apakah alam semesta memang selalu ada atau jika tidak, berapa usianya?

Ilustrasi kuasar, piringan materi terang di sekeliling lubang hitam supermasif. Kredit: NASA/CXC/M.Weiss
Ilustrasi kuasar, piringan materi terang di sekeliling lubang hitam supermasif. Kredit: NASA/CXC/M.Weiss

Sekitar seratus tahun lalu, seorang astronom berhasil menemukan jawaban tersebut: Alam semesta ini mengembang.

Penemuan itu memperlihatkan kalau alam semesta ukurannya berubah dan memiliki awal. Sekarang kita tahu kalau alam semesta mulai dari peristiwa Big Bang atau Dentuman Besar sekitar 14 miliar tahun lalu.

Sejak itu, alam semesta terus memuai dan saat ini ukurannya sudah miliaran kali lebih besar dibanding saat alam semesta masih muda.

Tapi tidak hanya itu. Galaksi yang ada di alam semesta ternyata bergerak menjauh satu sama lainnya. Selain itu, galaksi yang lebih jauh, bergerak lebih cepat. Dengan kata lain, alam semesta bertumbuh dengan cepat seiring waktu.

Untuk memahami perubahan alam semesta, kita harus melihat kembali kapan percepatan pengembangan alam semesta terjadi, yakni saat masih remaja.

Kembali ke masa lalu memang tidak mudah. Tapi bukannya tidak mungkin. Yang harus dilakukan adalah menemukan objek sangat jauh yang super terang. Dan kita harus mengetahui kecerlangan objek tersebut. Semakin jauh, sebuah objek akan semakin redup. Kalau kita tahu kecerlangannya, jaraknya bisa diketahui.

Menelusuri Cahaya terang dari Masa Lalu

Dua puluh tahun lalu, para astronom menemukan bukti keberadaan kekuatan tak terlihat yang menyebabkan alam semesta memuai. Kekuatan itu kita kenal sebagai energi gelap yang mengisi 70% alam semesta. Para astronom bisa mengetahui keberadaan energi gelap dengan mengukur jarak supernova, bintang yang meledak pada akhir hidupnya. Dengan cara ini, pengaruh energi gelap bisa diketahui sampai 9 miliar tahun lalu.

Tapi, untuk memahami pemuaian alam semesta sampai saat alam semesta baru dimulai, para astronom harus mencari objek terang lainnya.

Jawabannya ada pada lubang hitam supermasif yang bertumbuh sangat cepat. Objek ini dikenal sebagai “quasar” dan cahayanya sangat terang sehingga bisa dilihat dari jarak 12 miliar tahun cahaya!

Tapi, ada informasi penting yang selalu hilang tentang quasar yakni kecerlangannya.

Para ilmuwan akhirnya menemukan cara untuk mengetahui kecerlangan kuasar, sehingga kekosongan atau celah dalam linimasa kosmis bisa diisi. Quasar, piringan materi di sekeliling lubang hitam ini menghasilkan cahaya ultraungu, yang sebagian di antaranya bertabrakan dengan elektron dalam awan gas panas di atas dan bawah piringan. Akibatnya terjadi peningkatan energi ultraungu jadi energi sinar-X. Radiasi cahaya ultraungu dan sinar-X inilah yang diamati dan digunakan sebagain informasi untuk mengukur jarak 1600 kuasar!

Informasi dari quasar digunakan untuk mengukur laju pemuaian alam semesta sampai pada masa awal evolusinya yakni antara 1,1 miliar dan 2,3 miliar tahun. Mengungkap misteri dalam linimasa kosmis tentunya sangat menyenangkan. Tapi juga menakutkan.

Energi gelap rupanya tidak konstan melainkan bervariasi dari waktu ke waktu. Akibatnya, alam semesta akan terus memuai dengan kecepatan yang terus meningkat sampai terjadi Big Rip atau Koyakan Besar. Dalam beberapa miliar tahun, sumber energi yang membuat alam semesta memuai akan mengoyak seluruh bintang, galaksi, dan bahkan atom di alam semesta!

Fakta Keren

Kemungkinan lain akhir alam semesta adalah Big Crunch (Keruntuhan Besar) dan Big Freeze (Pendinginan Besar). Dalam skenario keruntuhan besar, alam semesta akan berhenti memuai dan mulai mengalami keruntuhan. Jika yang terjadi adalah Pendinginan Besar, alam semesta akan terus memuai sampai semua galaksi, bintang dan planet ditarik menjauhi satu sama lainnya sehingga langit akan tampak sangat gelap dan kosong dimanapun kita berada di alam semesta.

[divider_line]
Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.