Fenomena Langit Bulan November 2018

Fenomena langit bulan November diisi oleh hujan meteor Taurid dan Leonid saat Bumi melintasi area sisa debu komet dan asteroid. Si Bintang Kejora bisa diamati sebelum fajar dan kala senja, ada Merkurius, Mars, Jupiter dan Saturnus yang menemani.

Planet

Merkurius saat mencapai elongasi timur maksimum. Merkurius berada pada separasi terbesar dari Matahari pada tanggal 6 November 17:45 WIB. Kredit: Star Walk
Merkurius saat mencapai elongasi timur maksimum. Merkurius berada pada separasi terbesar dari Matahari pada tanggal 6 November 17:45 WIB. Kredit: Star Walk

Merkurius. Mengawali November, planet Merkurius akan menanjak naik di ufuk barat setelah Matahari terbenam sampai mencapai elongasi timur terbesarnya pada tanggal 6 November. Setelah itu, Merkurius kembali mengejar Matahari di ufuk barat dan bertemu Antares sebelum menghilang dalam terangnya Sang Surya. Awal November, Merkurius bisa ditemukan di rasi Scorpius dengan kecerlangan -0,1 magnitudo sebelum kemudian bergerak ke rasi Ophiuchus sampai penghujung November. Akhir November, kecerlangan Merkurius sudah makin meredp jadi 1,4 magnitudo.

Venus. Selama bulan November, si bintang kejora sudah berada di ufuk timur, tampak sebelum fajar menyingsing. Venus terus menanjak naik selama bulan November dan bisa diamati di rasi Virgo dengan kecerlangan -4,1 magnitudo.

Mars. Setelah matahari terbenam, pengamat bisa menemukan Mars sudah mendekati meridian. Mars akan tampak sampai tengah malam dengan kecerlangan -0,6 magnitudo. Mars bisa ditemukan di rasi Capricorn dan terus bergerak ke rasi Aquarius pada pertengahan sampai akhir November. Mars juga akan berpapasan dengan Bulan pada tanggal 16 November.

Jupiter. Planet terbesar di Tata Surya ini bisa diamati setelah Matahari terbenam. Tapi, Jupiter hanya bertahan sampai pertengahan November dan menghilang di balik cahaya Matahari. Jupiter bisa diamati di rasi Libra di ufuk Barat dengan kecerlangan -1,6 magnitudo.

Saturnus. Sepanjang November, planet cincin ini masih bisa diamati sampai kisaran pukul 21:00 waktu lokal. Saturnus bisa ditemukan di rasi Sagittarius, sang pemanah, dengan kecerlangan 0,6 magnitudo. Tanggal 11 November, Saturnus akan tampak berpasangan dengan Bulan sampai keduanya terbenam.

Uranus & Neptunus. Kedua planet gas raksasa ini terlalu redup untuk diamati dengan mata tanpa alat. Siapkan teleskop jika ingin melihat kedua planet ini. Uranus bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai jelang fajar. Planet ini akan tampak di rasi Aries dengan kecerlangan 5,7 magnitudo.

Planet es Neptunus bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai lewat tengah malam. Planet es raksasa ini bisa ditemukan di rasi Aquarius dengan kecerlangan 7,9 magnitudo

Bulan

Bulan tetap jadi atraksi menarik untuk dilihat karena kecerlangannya. Selain itu, konjungsi Bulan dan planet juga jadi suguhan menarik lainnya.

1 November. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 370.204 km.

7 November. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi Bulan dan Matahari akan tampak sepanjang hari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan.

14 November. Bulan di apogee. Bulan mencapai jarak terjauhnya dari Bumi pada jarak 404.339 km.

15 November. Bulan Perbani Awal. Bulan akan tampak sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Bulan terbenam. Para pengamat langit bisa menikmati langit bebas cahaya Bulan mulai tengah malam sampai jelang dini hari.

23 November. Bulan Purnama. Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya. Setelah fase purnama, Bulan secara perlahan akan bergeser waktu terbitnya semakin malam.

26 November. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 366.620 km.

30 November. Bulan Perbani Akhir. Bulan terbit tengah malam dan terbenam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam sampai jelang fajar.

Hujan Meteor

5 November – Hujan Meteor Taurid Selatan

Puncak hujan meteor Taurid Selatan 5 November pukul 21:30 WIB. Kredit: Star Walk
Puncak hujan meteor Taurid Selatan 5 November pukul 21:30 WIB. Kredit: Star Walk

Hujan meteor Taurid berasal dari sisa debu Komet 2P Encke, berlangsung sejak 10 September – 20 November dan tidak pernah menghasilkan lebih dari 5 meteor per jam. Menariknya, hujan meteor taurid ini kaya dengan bola api.

Puncak hujan meteor yang tampak datang dari rasi Cetus berlangsung tanggal 5 November, hanya dengan 5 meteor per jam yang lajunya hanya 28 km/detik. Hujan meteor Taurid bisa diamati setelah Matahari terbenam saat rasi Taurus juga terbit di arah timur sampai jelang fajar saat rasi ini akan terbenam di barat. Saat tengah malam, arah atang hujan meteor Cahaya Bulan tidak akan jadi faktor polusi cahaya karena jelang Bulan baru dan Bulan terbit dini hari pukul 03:28 WIB.

12 November – Hujan Meteor Taurid Utara

Puncak hujan meteor Taurid Utara, 12 November pukul 20:00 WIB. Kredit: Star Walk
Puncak hujan meteor Taurid Utara, 12 November pukul 20:00 WIB. Kredit: Star Walk

Hujan meteor Taurid Utara juga tampak datang dari rasi Taurus dan dimulai dari tanggal 20 Oktober – 10 Desember dengan puncak pada tanggal 12 November. Hujan meteor Taurid Utara ini terjadi saat Bumi melintasi butiran debu Asteroid 2004 TG10.

Saat malam puncak, Hujan Meteor Taurid Utara akan menghiasi langit dengan 5 meteor per jam dengan laju 29 km/jam. Rasi Taurus terbit setelah Matahari terbenam dan bisa diamati sampai fajar menyingsing. Bulan sabit tipis tidak akan memberi pengaruh pada polusi cahaya alami dan Bulan yang baru melewati fase Bulan baru ini terbenam pukul 21:52 WIB.

Perpaduan hujan meteor Taurid Utara dan Selatan yang masih berlangsung di akhir Oktober dan awal November menjadi atraksi menarik di langit. Apalagi dengan kehadiran fireball.

17 November – Hujan Meteor Leonid

Puncak hujan meteor Leonid, 17 November pukul 02:00 WIB. Kredit: Star Walk
Puncak hujan meteor Leonid, 17 November pukul 02:00 WIB. Kredit: Star Walk

Dulu hujan meteor Leonid pernah berjaya dengan badai Leonid, akan tetapi sekarang pengamat meteor hanya bisa menyaksikan 15 meteor per jam saat puncak pada tanggal 17 November. Hujan meteor Leonid yang berasal dari sisa debu komet Tempel-Tuttle berlangsung dari tanggal 6 – 30 November dan tampak datang dari arah rasi Leo.

Bagi pemburu meteor, rasi Leo baru akan terbit tengah malam pada pukul 00:21 WIB dan sekitar 30 menit kemudian, Bulan cembung yang menghiasi langit malam akan terbenam. Tepatnya pada pukul 00:50 WIB. Langit tanpa Bulan mulai tengah malam smapai jelang dini hari akan jadi kondisi ideal untuk berburu meteor yang melintas dengan kecepatan 77 km/detik.

Peristiwa

2 November — Bulan — Regulus

Pasangan Bulan dan bintang Regulus, 2 November pukul 02:00 WIB, sebelum Matahari terbit. Kredit: Star Walk
Pasangan Bulan dan bintang Regulus, 2 November pukul 02:00 WIB, sebelum Matahari terbit. Kredit: Star Walk

Bulan sabit dan bintang regulus, si bintang terang di rasi Leo tampak berpasangan sampai fajar menyingsing. Bulan terbit terlebih dahulu pada 00:58 WIB disusul Regulus pukul 01:18 WIB.

6 November — Elongasi Timur Maksimum

Elongasi terbesar Merkurius. Kredit: langitselatan
Elongasi terbesar Merkurius. Kredit: langitselatan

Merkurius dan Matahari membentuk sudut maksimal terhadap Bumi. Saat elongasi Timur maksimum, Merkurius akan berada 23,3º di arah barat Matahari dan baru terbenam pukul 19:18 WIB. Pengamat bisa mengamati keberadaan Merkurius dengan kecerlangan -0,3 magnitudo di ufuk barat setelah Matahari terbenam.

9 November — Merkurius — Antares

Pasangan Merkurius dan Antares di langit senja 9 November pukul 18:15 WIB setelah Matahari terbenam. Kredit: Star Walk
Pasangan Merkurius dan Antares di langit senja 9 November pukul 18:15 WIB setelah Matahari terbenam. Kredit: Star Walk

Planet terdekat dari Matahari ini tampak berpasangan dengan Antares, bintang terang di Scorpius, setelah Matahari terbenam. Keduanya tampak rendah di ufuk barat karena akan segera terbenam didahului Merkurius pada pukul 19:18 WIB dan disusul Merkurius pukul 19:20 WIB.

11 November — Bulan — Saturnus

Papasan Bulan Sabit dan Saturnus 11 November 2018 pukul 19:30 WIB setelah Matahari terbenam. Kredit: Star Walk
Papasan Bulan Sabit dan Saturnus 11 November 2018 pukul 19:30 WIB setelah Matahari terbenam. Kredit: Star Walk

Pasangan planet cincin Saturnus dan Bulan akan tampak berpasangan dengan jarak 2,6º dan bisa diamati di rasi Sagittarius sejak Matahari terbenam sampai keduanya terbenam beriringan didahului Bulan pada pukul 20:59 WIB dan disusul Saturnus pada pukul 21:03 WIB.

15 November — Venus — Spica

Pasangan Venus dan Spica, bintang terang di Virgo sebelum fajar menyingsing pada tanggal 15 November pukul 04:45 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Venus dan Spica, bintang terang di Virgo sebelum fajar menyingsing pada tanggal 15 November pukul 04:45 WIB. Kredit: Star Walk

Pengamat bisa menyaksikan pertemuan Venus dan Spica, bintang terang di rasi Virgo saat keduanya terbit beriringan jelang fajar dan hanya terpisah 1,2º. Spica terbit lebih dahulu pukul 03:34 WIB disusul Venus pukul 03:39 WIB. Keduanya bisa diamati sampai saat Matahari terbit.

16 November — Bulan — Mars

Papasan Bulan dan Mars tanggal 16 November 2018 pukul 22:00 WIB. Keduanya bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai tengah malam. Kredit: Star Walk
Papasan Bulan dan Mars tanggal 16 November 2018 pukul 22:00 WIB. Keduanya bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai tengah malam. Kredit: Star Walk

Setelah bertemu Saturnus, kali ini giliran Mars yang berpapasan dengan Bulan. Jaraknya juga dekat hanya 3,1º. Bulan kuartir awal akan tampak bersama Mars sejak Matahari terbenam sampai keduanya terbenam lewat tengah malam. Mars akan terlebih dahulu menghilang di ufuk pada pukul 00:26 WIB disusul Bulan pukul 00:50 WIB.

26 November — Konjungsi Jupiter.

Konjungsi Jupiter. Kredit: langitselatan
Konjungsi Jupiter. Kredit: langitselatan

Jupiter berada pada jarak terjauhnya dari Bumi. Saat konjungsi dengan Matahari, Jupiter akan berada pada sisi berlawanan dari Bumi dengan Matahari ada di antara keduanya. Bagi pengamat, Jupiter akan menghilang dari langit malam.

27 November — Konjungsi Inferior Merkurius

Konjungsi Inferior Merkurius. Kredit: langitselatan
Konjungsi Inferior Merkurius. Kredit: langitselatan

Merkurius berada sejajar di antara Matahari dan Bumi. Pada posisi ini, Merkurius berada pada papasan terdekatnya dengan Bumi. Karena itu Merkurius tidak akan tampak bagi pengamat karena planet terdekat Matahari ini akan terbit dan terbenam hampir bersamaan dengan Matahari.

Rasi Bintang & Bima Sakti

November adalah waktu terbaik untuk mengamati Bima Sakti yang membentang dari Timur laut ke Barat daya sebelum tengah malam. Awal November menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat Bulan menuju fase Bulan Baru.

Setelah Matahari terbenam, ada Altair di rasi Aquila, Archenar di rasi Eridanus, dan Vega di rasi Lyra. Di penghujung November, Rigel di Orion dan Canopus di rasi Carina juga bisa diamati sejak Matahari terbenam.

Tengah malam sampai jelang dini hari pengamat masih bisa menemukan Archenar di rasi Eridanus, Betelguese dan Rigel di rasi Orion, Aldebaran di rasi Taurus, Sirius di rasi Canis Mayor, Procyon di Canis Minor, Canopus di rasi Carina, Capella di rasi Auriga yang dapat dijadikan panduan dalam pengamatan.

Peta Bintang 1 November 2018

Peta Bintang 15 November 2018

Kampanye Langit Gelap

30 Oktober — 8 November — Kampanye Globe At Night
Di bulan November, Globe At Night atau Kampanye langit gelap untuk membangun kesadaran akan pentingnya langit gelap dan efek dari polusi cahaya diadakan dari 30 Oktober – 8 November. Pengamat diajak untuk mengamati rasi bintang yang sudah ditentukan dari berbagai lokasi untuk mengenali bintang yang bisa dilihat di rasi tersebut. Berapa banyak bintang yang bisa dikenali akan menjadi indikasi tingkat polusi cahaya di area tersebut.

Untuk bulan November, para pengamat di langit utara bisa melakukan pengamatan rasi Perseus sedangkan pengamat di selatan bisa mengamati rasi Grus untuk mengetahui berapa banyak bintang di rasi tersebut yang tampak.

Pengamat bisa menggunakan modul yang sudah disediakan untuk melakukan identifikasi bintang dan melihat tingkat polusi cahaya di lokasinya.

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.