Apakah Alam Semesta Memuai Lebih Cepat?

Menurut para ilmuwan, 14 milyar tahun lalu, Alam Semesta memuai saat terjadi Big Bang atau Dentuman Besar. Itulah awal dari alam semesta. Sejak saat itu, alam semesta memuai dan berevolusi menjadi seperti yang kita kenal saat ini dan masih terus bertumbuh.

Kalau kamu melihat ke semua arah di angkasa, galaksi-galaksi jauh akan tampak bergerak menjauhi kita. Semakin jauh galaksi, semakin cepat pula ia bergerak menjauhi pengamat. Ini yang disebut sebagai pemuaian alam semesta.

Pertumbuhan atau pemuaian alam semesta bisa diukur oleh para ilmuwan dengan beberapa cara. Salah satunya dengan mempelajari “pendar yang tersisa” setelah Alam Semesta lahir. Mirip seperti asap yang bergerak menjauh setelah kembang api. Pendar yang tersisa dari Dentuman Besar justru tetap bertahan di angkasa.

Metode lainnya dengan menggunakan fenomena alam “lensa kosmik” atau kita kenal sebagai lensa gravitasi. Lensa kosmik terjadi saat dua galaksi berjejer, dimana galaksi yang satu berada di belakang galaksi lainnya, dari sudut pandang kita di Bumi. Untuk penelitian ini, target pengamatan adalah galaksi masif yang berada di antara Bumi dan quasars yang jauh (inti galaksi yang luar biasa terang). Cahaya dari galaksi jauh ini akan mengalami pembelokkan saat berada di dekat galaksi masif yang lebih dekat dengan Bumi.

Akibatnya, galaksi jauh yang seharusnya tersembunyi di balik galaksi masif yang dekat, justru bisa tampak. Untuk pengamatan ini, galaksi jauh itu tampak di foto yang diambil. Menariknya, kita seperti melihat hantu dari galaksi-galaksi jauh dalam foto seperti penampakkan berulang-ulang. Kamu bisa melihat efek ini di tengah foto yang ada di bawah ini.

Lensa kosmik. Fenomena alam yang menjadikan galaksi yang lebih dekat sebagai lensa untuk membelokkan cahaya galaksi jauh yang melewatinya. Kredit: ESA/Hubble, NASA, Suyu et al.
Lensa kosmik. Fenomena alam yang menjadikan galaksi yang lebih dekat sebagai lensa untuk membelokkan cahaya galaksi jauh yang melewatinya. Kredit: ESA/Hubble, NASA, Suyu et al.

Dari posisi dan bentuk foto lensa gravitasi, kita bisa mengetahui jarak galaksi jauh tersebut. Galaksi yang jadi lensa ini tidak benar-benar sejajar dengan quasar atau si galaksi jauh. Cahaya dari setiap hantu galaksi jauh akan mengikuti jalur yang panjangnya berbeda-beda. Karena kecerlangan quasar juga berubah seiring waktu, setiap foto hantu quasar akan berkedip pada waktu yang berbeda. Jeda di antara setiap kedipan bergantung pada panjangnya jalur yang dilalui cahaya. Jeda inilah yang jadi petunjuk untuk mengukur konstanta Hubble untuk mengetahui laju pemuaian Alam Semesta.

Hasilnya, pengukuran terbaru pemuaian Alam Semesta jauh yang dilakukan para ilmuwan tidak sesuai dengan pengukuran sebelumnya. Ternyata, Alam Semesta kita itu memuai lebih cepat dari yang diharapkan!

Fakta keren: Fakta kalau galaksi-galaksi itu menjauh dari kita bukan bukti kalau kita adalah pusat Alam Semesta. Cara mudah untuk memahaminya, bayangkan kita sedang memanggang roti kismis di oven. Waktu dipanggang, adonan roti kismis mengembang dan kismis – kismis di dalamnya akan menjauh satu sama lainnya. Dimanapun semua kismis berada di roti, mereka akan melihat kismis lainnya menjauh dari dirinya.

[divider_line]

Sumber: Dipublikasi kembali dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...