Hujan Meteor Leonid 2016

Saatnya untuk menikmati sajian hujan meteor Leonid, meskipun ada Bulan cembung yang cukup terang di langit malam.

Hujan meteor Leonid selalu jadi cerita spesial di bulan November. Di tahun 2001, badai meteor Leonid menyajikan kehadiran badai meteor Leonid dengan pertunjukan lebih dari 1000 meteor setiap jam. Sebelum tahun 2001, badai meteor Leonid juga terjadi pada tahun 1833, 1866 dan 1966. Selain tahun-tahun tersebut, Hujan Meteor Leonid masih terjadi meskipun laju meteor setiap jam hanya sedikit.

Sejarah Hujan Meteor Leonid

Hujan Meteor Leonid 13 November 1883. Kredit: Star Walk
Hujan Meteor Leonid 13 November 1883. Kredit: Star Walk

Di masa lalu, kehadiran Hujan Meteor Leonid tidak disambut dengan kegembiraan dan kekaguman. Masyarakat justru merasa kuatir dan takut. Tapi, kehadiran  hujan meteor Leonid di masa itu memegang peranan yang cukup penting. Kehadirannya pada tanggal 12 – 13 November 1883 tidak saja menandai penemuan Leonid sebagai hujan meteor tahunan melainkan juga awal bagi peradaban manusia untuk mengenali hujan meteor tahunan yang melintas di langit malam.

Di tahun 1833, masyarakat di Bumi melihat kejanggalan di langit saat ada ribuan lintasan cahaya yang menerangi langit malam. Yup! Ribuan meteor memang melintas setiap jam saat itu karena Bumi sedang berpapasan dengan area debu komet 55P/Tempel-Tuttle saat komet tersebut mendekati perihelionnya. Yang terjadi tentu saja bukan lagi hujan meteor melainkan badai meteor Leonid. Tapi, masa itu belum ada yang tahu kalau kilatan-kilatan cahaya yang menerangi langit merupakan hujan meteor apalagi berasal dari debu komet.

Kejadian saat itu bukan menimbulkan kekaguman. Justru masyarakat jadi panik dan berpikir hari penghakiman atau akhir zaman telah tiba. Apalagi masyarakat masa itu belum paham apa yang sedang terjadi. Bagi para ilmuwan dan pengamat, kejadian ini tentu menyisakan kekaguman dan juga pertanyaan apa yang menyebabkan terjadinya lintasan cahaya sedemikian banyak di langit?

Berbagai teori dikemukakan. Berbagai spekulasi muncul. Ada keyakinan bahwa lintasan cahaya itu muncul karena Matahari melepas gas dari tumbuhan yang baru saja mati beku. Tapi ada juga yang menduga kalau cahaya di langit itu berasal dari hidrogen yang mengalami pembakaran oleh listrik dan partikel fosfor di udara. Ada lagi dugaan kalau kencangnya angin selatan membawa sesuatu yang bisa mengelektrifikasikan udara dan menyebabkan terjadinya pelepasan kilatan api yang mengarah ke Bumi, saat fajar yang dingin.

Dari semua penjelasan, hanya D. Olmsted yang bisa memberi penjelasan yang hampir akurat. Menurut Olmsted, lintasan cahaya ini merupakan penampakkan meteor yang datang dari arah rasi Leo dan berasal dari awan partikel di angkasa. Awannya dari mana tak pernah dijelaskan.

Era 1860-an, H.A Newton mengemukakan kalau badai Leonid yang besar itu sudah terlihat sebelumnya pada tahun 585, 902, 931, 934, 1002, 1202, 1366,1582, 1602 dan 1698. Dari infomasi ini ia menduga kalau badai meteor Leonid terjadi setiap 33,25 tahun. Artinya badai berikutnya akan terjadi 13-14 November 1866. Dan memang terjadi dengan laju 2000 – 5000 meteor yang melintas setiap jam. Badai juga terjadi lagi di tahun 1867 dengan laju 1000 meteor setiap jam.

Di tahun 1867, E.W.L Tempel (Marseilles, France) menemukan komet sirkular dengan kecerlangan 6 magnitudo di dekat rasi Beruang Besar. Sementara pengamatan H. Tuttle (Harvard College Observatory, Massachusetts, USA) pada bulan Januari 1866 juga mengarah pada komet yang sama, sehingga akhirnya komet tersebut dinamai Tempel-Tuttle. Di tahun 1867, T von Oppolzer menghitung periode komet tersebut adalah 33,17 tahun. Dan dari hasil observasi di tahun 1866 pada hujan meteor Leonid, U. J. J. Le Verrier, Dr. C. F. W. Peters, G. V. Schiaparelli, dan von Oppolzer secara terpisah menyimpulkan kalau ada kemiripan antara orbit komet Tempel-Tuttle dan hujan meteor Leonid.

Di tahun 1981, D. K. Yeomans (Jet Propulsion Laboratory, California, USA) mempelajari hubungan komet Tempel – Tuttle dengan hujan meteor Leonid. Ia memetakan distribusi debu disekitar komet tersebut dan mencocokannya dengan data hujan meteor Leonid dari tahun 902 – 1969. Di tahun 1999, David Asher dan Robert McNaught mempublikasikan makalah untuk memprediksikan badai meteor Leonid yang ternyata sesuai dengan kembalinya komet Tempel-Tuttle untuk mendekati Matahari.

Hujan Meteor Leonid di masa kini

Pada akhirnya, kita mengetahu bahwa meteor Leonid yang tampak datang dari arah rasi Leo, si Singa ini berasal dari sisa debu komet 55P/Tempel-Tuttle. Karena itu ketika Bumi melintasi area sisa debu komet 55P/Tempel-Tuttle, kita bisa menikmati kehadiran debu komet yang terbakar di atmosfer.

Hujan Meteor Leonid 18 November 2016 pukul 03:00 WIB. Tampak Jupiter juga baru terbit. Kredit: Star Walk
Hujan Meteor Leonid 18 November 2016 pukul 03:00 WIB. Tampak Jupiter juga baru terbit. Kredit: Star Walk

Setiap 33 tahun, badai meteor Leonid terjadi saat komet 55P/Tempel-Tuttle mencapai perihelion atau jarak terdekatnya dengan Bumi. Itulah yang terjadi pada tahun 2001 ketika para pengamat di Bumi termasuk penulis dan rekan-rekan mahasiswa astronomi berkesempatan menikmati kehadiran badai meteor Leonid yang menghiasi langit malam sampai jelang dini hari. Saat badai meteor Leonid, materi debu yang melintas merupakan materi segar yang baru saja terlepas dari komet saat mendekati Matahari.

Setelah komet 55P/Tempel-Tuttle meninggalkan Matahari, yang kita lihat hanyalah sisa materi yang dijumpai Bumi setiap tahun. Sayangnya, sampai tahun 2099 Bumi tidak akan berpapasan dengan awan padat sisa materi komet. Karena itu, saat komet 55P/Tempel-Tuttle kembali ke perihelion pada tahun 2031 dan 2064, kita tidak akan menyaksikan badai meteor. Pertunjukan menarik hujan meteor dengan laju 100 meteor per jam masih mungkin disaksikan. Tapi tidak akan ada badai ribuan meteor seperti yang pernah terjadi di masa lalu.

Untuk saat ini, kita harus puas dengan kehadiran 15 meteor setiap jam saat puncak Hujan Meteor Leonid. Setiap tahun, Leonid akan tampak mulai beraktivitas saat Bumi melintas area debu komet 55P/Tempel-Tuttle dari tanggal 5 – 30 November. Dan puncak aktvitias hujan meteor Leonid bisa disaksikan setiap tanggal 17/18 November saat meteor Leonid melintas di langit dengan kecepatan 71 km/detik.

Bagi pengamat di Bumi, khususnya di Indonesia, hujan meteor Leonid bisa disaksikan mulai lewat tengah malam saat rasi Leo terbit di timur sampai jelang fajar saat rasi Leo bergerak menuju zenit. Bulan yang baru saja melalui fase purnama masih sangat terang di langit malam, sekaligus menjadi polusi cahaya alami bagi pengamat. Selain Bulan, faktor cuaca juga bisa menjadi kendala dalam berburu Leonid.

Saat berburu Leonid, pastikan meteor yang kamu lihat memang datang dari rasi Leo. Selain Leonid, sejak pukul 19:00 WIB, para pengamat bisa menikmati kehadiran hujan meteor Taurid Utara dan Taurid Selatan sambil menanti terbitnya rasi Leo saat tengah malam. Hujan meteor Leonid bisa dinikmati dengan lebih mudah setelah radian Leonid berada di atas ufuk. Mulailah pengamatan setelah lewat tengah malam atau mulai jam 02:00 WIB dini hari saat radian Leonid dan rasi Leo berada 30º di atas horison. Jika kamu berburu meteor Leonid dari pantai. kamu bisa mulai pengamatan saat rasi Leo terbit selama tidak ada kabut yang menghalangi pandangan ke timur cakrawala.

Selain hujan meteor, pengamat juga bisa menikmati kehadiran planet Merkurius, Venus, Mars dan Saturnus setelah Matahari terbenam. Secara berurutan, Merkurius, Saturnus dan Venus bisa diamati di ufuk barat sampai ketiganya terbenam pada pukul 18:35 WIB, 19:13 WIB dan 20:43 WIB. Mars masih bisa diamati sampai planet merah itu terbenam pada pukul 22:47 WIB. Jelang fajar, ada planet terbesar di Tata Surya yang bisa diamati sembari berburu Leonid. Planet Jupiter akan terbit pada pukul 02:56 WIB dini hari.

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...