Apakah Venus Bisa Menjadi Planet Laik Huni?

Apakah planet Venus masih memiliki kesempatan untuk menjadi planet laik huni? Apakah mungkin iklim ekstrem planet tersebut diubah dengan tangan manusia di masa mendatang? Terima Kasih, untuk jawabannya.

Mohamad Vikry Athari – Blitar

Singkatnya, bisa saja Venus menjadi planet laik huni di masa depan. Tapi untuk bisa dihuni oleh manusia tentunya tidak akan mudah. Sangat tidak mudah. Diperlukan perubahan yang sangat besar agar Venus bisa dihuni oleh manusia. Dan untuk mencapai semua itu, perkembangan teknologi di Bumi pun harus sudah sangat maju.

Mengapa Venus?

Venus. Kredit: NASA
Venus. Kredit: NASA

Dari Bumi, Venus selalu tampak cemerlang di langit saat fajar menjelang ataupun kala Matahari terbenam. Venus merupakan planet terdekat dari Bumi. Seperti halnya Mars, si planet merah yang menjadi incaran untuk kolonisasi, pertanyaan yang serupa juga hadir untuk Venus. Mungkinkah manusia pindah ke Venus?

Venus seringkali disebut juga “Saudara Kembar Bumi”. Keduanya memang memiliki kemiripan. Massa Venus 4.869 x 1024 kg, hampir sama dengan Bumi yang massanya 5.972×1024 kg. Bukan cuma massa, ukuran keduanya pun hampir identik. Venus memiliki diameter 12.103,6 km sedangkan diameter Bumi, 12.756,3 km. Bahkan untuk kerapatan dan gravitasi permukaan pun keduanya hampir sama. Si bintang kejora juga diketahui memiliki atmosfer tebal mirip Bumi dan terbentuk dari materi yang serupa di waktu bersamaan dengan Bumi. Karena itu, kita mengenal keduanya sebagai bagian dari planet kebumian yang komposisi utamanya adalah batuan.

Tapi, jangan sekali-kali berpikir untuk bisa tinggal di Venus saat ini. Meskipun Venus merupakan kandidat yang menjanjikan sebagai hunian baru penduduk Bumi. Tapi, Venus bukanlah Bumi.

Venus adalah planet neraka! Planet yang satu ini luar biasa panas. Temperatur permukaannya 462º Celsius. Dengan suhu sepanas ini timbal, timah, dan seng pun bisa meleleh. Kondisi yang panas di Venus bukan hal aneh mengingat lokasinya yang jauh lebih dekat ke Matahari. Selain jarak, efek rumah kaca akibat atmosfer yang sangat tebal di Venus jadi penyebab lain panas ekstrim di planet ini. Atmosfernya yang tebal didominasi oleh karbondioksida dengan tekanan di permukaan 92 bar, mirip tekanan di kedalaman 1 km di bawah permukaan laut. Selain karbondioksida, atmosfer Venus juga mengandung nitrogen dan awan yang mengandung asam sulfat yang sangat korosif.

Atmosfer yang didominasi karbondioksida tentunya beracun bagi kehidupan yang kita kenal di Bumi. Planet ini tidak memiliki oksigen dan hanya ada sangat sedikit air.

Tak hanya itu. Satu hari di Venus sangat lama. Venus berotasi sangat lambat. Ia membutuhkan 243 hari Bumi untuk menyelesaikan satu putarannya. Bahkan sebelum satu hari di venus berakhir, satu tahun sudah berlalu, karena Venus mengitari Matahari hanya selama 224,7 hari di Bumi.

Jelas Venus sama sekali tidak laik huni untuk kehidupan yang kita kenal di Bumi. Planet ini tidak akan bisa menjadi planet laik huni dari proses alami.

Tapi, planet Venus masih menjadi salah satu kandidat sebagai planet yang bisa mendukung kehidupan seperti di Bumi suatu hari kelak.

Rekayasa Planet Venus

Agar planet Venus, si kembaran Bumi bisa mendukung kehidupan di Bumi, perlu dilakukan rekayasa planet atau terraforming. Tujuannya mentransformasi atau mengubah sebuah planet agar mirip Bumi dan bisa mendukung kehidupan yang kita kenal di Bumi. Dalam hal ini manusia.

Rekayasa yang perlu dilakukan tidak banyak. Tapi jelas tidak mudah. Ada beberapa perubahan penting yang harus dilakukan atau Venus tidak akan pernah jadi planet tujuan.

  1. Mendinginkan Venus dari 462º C jadi 14º – 16º C.
  2. Menurunkan tekanan atmosfer menjadi 1 bar. Meniadakan ekses karbondioksida dan senyawa beracun lainnya dari atmosfer
  3. Menyediakan air.
  4. Mempercepat rotasi Venus agar 1 hari hanya 24 jam

Tampaknya sederhana tapi tidak mudah dilakukan. Tapi sesungguhnya, butuh waktu yang panjang untuk bisa merekayasa Venus jadi mirip Bumi. Dan tentunya biaya yang tidak sedikit.

Ada dua ide besar tentang kolonisasi di Venus. Yang pertama membangun kolonisasi di permukaan Venus sebagaimana halnya di Bumi, dan yang kedua kolonisasi berupa kota melayang, 50 km di atas permukaan Venus.

Konsep kota melayang ini muncul karena pada ketinggian 50 km di atas permukaan Venus, tekanan sama dengan di Bumi yakni 1 bar. Di atas awan, terdapat kelimpahan energi surya dengan temperatur yang hangat antara 0 – 50º C. Atmosfer juga mengandung unsur utama bagi kehidupan seperti karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan belerang. Gravitasi juga memungkinkan manusia untuk bertahan.

Konsep yang menarik bukan? Tapi tetap saja ada persoalan yang harus dipecahkan untuk membuat Venus laik huni.

Proses Pendinginan Venus

Ilustrasi kota melayang. Kredit: Advanced Concepts Lab/NASA Langley Research Center
Ilustrasi kota melayang di Venus. Kredit: Advanced Concepts Lab/NASA Langley Research Center

Temperatur Venus saat ini sangat ekstrim. Untuk mendinginkan Venus, ada beberapa kosep yang diajukan oleh beberapa ilmuwan yang memang tertarik untuk rekayasa Venus. Di antaranya adalah konsep Layar Surya. Konsep ini menggunakan layar yang memiliki sifat cermin untuk mereduksi radiasi yang diterima permukaan Venus. Layar Surya akan bertugas untuk memantulkan cahaya Matahari dari Venus sehingga proses pendinginan bisa berlangsung. Selain itu juga dapat menghalangi angin Matahari.

Layar Surya akan ditempatkan di titik Lagrangian L1. Selain sebagai pengalih cahaya Matahari, layar Surya juga bisa berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga surya bagi Venus. Layar penghalang Matahari ini bisa juga dari bahan layar surya yang biasa digunakan pada wahana luar angkasa. Tipis dan bisa memantulkan cahaya. Untuk mereduksi biaya, layar Surya bisa diproduksi di luar angkasa menggunakan material dari bulan atau asteroid.

Alternatif lain yang dikemukakan untuk mengalihkan cahaya Matahari adalah penggunaan serangkaian wahana antariksa kecil yang ditempatkan di sekitar Venus.

Selain layar surya yang ditempatkan di luar angkasa, konsep pemantul surya di atmosfer atau permukaan Venus bisa jadi jawaban. Balon yang dapat memantulkan cahaya maupun materi yang dapat memantulkan cahaya bisa ditempatkan di atas awan. Atmosfer Venus yang tebal memberi keuntungan tersendiri sehingga materi tersebut bisa melayang di atas awan.

Nah, untuk mempercepat proses kolonisasi yang berlangsung bersamaan dengan pendinginan di Venus, kota melayang bisa menjadi jawaban. Kota melayang bisa berfungsi sebagai koloni awal di venus sekaligus layar surya yang menghalangi sinar Matahari mencapai permukaan Venus. Dengan demikian proses pendinginan bisa dimulai. Proses ini diperkirakan bisa berlangsung selama 200 tahun.

Eliminasi Karbondioksida dari atmosfer

Pada tahun 1961, Carl Sagan mengajukan metode penggunaan bakteri hasil rekayasa genetik untuk mengubah karbon di atmosfer jadi molekul organik. Akan tetapi metode tidak dapat dilaksanakan karena untuk mengubah karbon jadi molekul organik dibutuhkan hidrogen. Di Bumi, hidrogen bisa ditemukan melimpah dalam kandungan air. Di Venus, hidrogen masih sangat langka. Interaksi langsung dengan angin Matahari menyebabkan kehilangan hidrogen pada atmosfer teratas Venus. Kehadiran asam sulfat di awan Venus juga memberi pengaruh untuk teori ini.

Dalam metode yang dikemukakan Paul Birch, proses pendinginan Venus juga sekaligus mengeliminasi karbondioksida dari atmosfer. Saat Venus jadi dingin, karbondioksida di atmosfer akan jadi hujan yang membasahi permukaan planet neraka tersebut saat temperatur mencapai 30ºC. Hujan karbondioksida masih akan terus berlangsung seiring proses pendinginan dan membentuk lautan CO2 di permukaan planet. Saat temperatur mencapai -56ºC dan tekanan sudah turun jadi 5 bar, lautan CO2 akan membeku. Pendinginan masih terus berlangsung dan terbentuklah endapan salju karbondioksida di permukaan Venus saat suhu mencapai -81ºC. Endapan beku CO2 akan terkubur di permukaan atau diserap batuan lewat proses kimia. Karbondioksida akan diubah menjadi oksigen dan karbonmonoksida harus dieliminasi. Setelah proses panjang eliminasi CO2, Venus perlu dihangatkan kembali. Cermin surya yang diberi nama Soletta akan bertugas dari titik Lagrangian L1 untuk mereduksi 50% cahaya Matahari yang sampai ke permukaan.

Cara lain untuk mengeliminasi karbondioksida dan sekaligus menyediakan air adalah dengan bombardir hidrogen besar-besaran ke Venus. Hasilnya akan terbentuk grafit dan air. Konsep lainnya adalah memborbardir Venus dengan magnesium dan kalsium yang akan menyerap karbon dan membentuk magnesium karbonat dan kalsium karbonat. Meskipun Venus langka dengan hidrogen, unsur yang satu ini bisa diimport dari Jupiter sedangkan magnesium dan kalsium bisa diperoleh dari simpanan yang ada di Venus dan bila memerlukan tambahan bisa ditambang dari asteroid.

Metoda lain yang lebih cepat untuk menyingkirkan atmosfer tebal di Venus adalah lewat tabrakan asteroid yang memiliki diameter setidaknya 700 km dengan kecepatan lebih dari 20 km/detik. Dan setidaknya bombardir asteroid itu tidak hanya satu tabrakan melainkan lebih dari 2000 tabrakan asteroid.

Air di Venus

Manusia hidup butuh air. Dan air inilah yang jadi komponen utama bagi sebuah planet laik huni. Venus yang panasnya 462 ºC, jelas tidak akan membuat air bertahan di permukaannya. Titik didih air 100ºC.

Permukaan Venus yang panas. Hasil komputasi daerah Eistla Regio. Kredit: NASA
Permukaan Venus yang panas. Hasil komputasi daerah Eistla Regio. Kredit: NASA

Tapi air di Venus bisa dihasilkan dari beberapa cara. Yang pertama dari kandungan yang ada di atmosfer Venus, yakni dengan mengubah asam sulfat di awan jadi air dengan reaksi H2SO4 + MgSiO3 —> MgSO4 + SiO2 + H2O. Tapi, air yang ada di asam sulfat hanya 1 mm dan reaksi kimia serupa dengan senyawa asam lain seperti HF dan HCl sangat dibutuhkan. Pelepasan gas dari kerak bisa meningkatkan ketersediaan air.

Alternatif kedua untuk memperoleh hidrogen adalah menambang hidrogen dari planet-planet yang memiliki kelimpahan hidrogen. Dalam hal ini planet gas dan planet es raksasa. Tapi, bagaimana membawa hidrogen dari planet-planet luar tersebut? Teknologi yang diajukan oleh Paul Birch dari Inggris dan Anatoly E. Yunitsky dari Rusia adalah cincin orbit atau serupa lift antariksa.

Yang ketiga, air dari satelit es dan komet. DI area terluar Tata Surya, ada kelimpahan air es. Dengan menabrakan salah satu satelit es atau tabrakan komet-komet maka rekayasa planet dan kolonisasi bisa dilakukan. Ada persediaan air untuk kehidupan. Salah satu target adalah menabrakkan Enceladus, salah satu satelit Saturnus ke Venus dengan mengubah lintasannya. Caranya dengan bantuan gravitasi satelit di sekitarnya. Akan tetapi tabrakan satelit maupun komet es juga harus tepat. Jika terjadi sebelum proses pendinginan selesai, maka air yang dibawa bisa menguap.

Mempercepat Rotasi Venus

Satu hari di Venus saat ini sama dengan 243 hari Bumi. Bahkan lebih lambat dari satu tahun Venus. Proses adaptasi yang tentunya tidak mudah bagi makhluk hidup dari Bumi. Akan ada siang dan malam yang sangat panjang di planet ini. Lambatnya rotasi juga berpengaruh pada absennya medan magnet yang diproduksi oleh Venus. Meskipun tidak ada magnetosfer, si pelindung yang dihasilkan sendiri oleh Venus, planet ini masih dilindungi oleh medan magnet induksi.

Untuk mendukung kehidupan dari Bumi, satu hari Venus bisa dibuat menjadi 24 jam dengan cermin surya yang mengorbit Venus. Cermin surya yang diberi nama soletta, akan berotasi selama 24 jam di orbit polar dan menghasilkan siklus satu hari seperti di Bumi. Setelah masa pendinginan, soletta digunakan untuk menghangatkan kembali Venus. Layar Surya tetap dipertahankan sedangkan Soletta bertugas untuk mereduksi cahaya Matahari yang diterima permukaan.

Soletta berfungsi untuk menyediakan cahaya Matahari bagi sisi malam Venus dan berfungsi sebagai layar surya di area siang. Soletta ditempatkan di titik L1 antara Venus dan Matahari.
Selain merekayasa siklus siang dan malam dengan memanfaatkan Soletta, Paul Birch juga mengajukan ide yang melibatkan transfer energi dan momentum lewat aliran massa berkecepatan tinggi pada area sekitar ekuator Venus.

Metode lain untuk membuat siklus siang – malam di Venus sama seperti di Bumi adalah dengan mengubah atau meningkatkan kecepatan rotasi Venus. Caranya bisa lewat papasan dekat dengan asteroid atau komet berukuran lebih besar dari 100 km yang sedang terbang lintas.

Ilustrasi kota melayang di Venus. Kolonisasi yang dibangun di masa depan. Kredit: Adrian Mann
Ilustrasi kota melayang di Venus. Kolonisasi yang dibangun di masa depan. Kredit: Adrian Mann

Rekayasa mungkin atau tidak…

Secara teori, rekayasa planet memang dimungkinkan. Tapi catatan yang harus diperhatikan adalah ketersediaan teknologi yang menunjang seluruh pembangunan tersebut. Untuk mencapai titik dimana kita memulai rekayasa planet akan ada waktu yang sangat panjang untuk pengembangan dan pengujian teknologi. Setelah teknologi siap, pelaksanaan pun akan menghabiskan waktu yang panjang, dalam rentang puluhan sampai ratusan tahun.

Tidak ada yang instan.

Untuk mewujudkan mimpi atau mungkin cita-cita hijrah ke Venus butuh dana yang tidak sedikit dalam rentang waktu yang sangat panjang.

Pertanyaannya, apakah seluruh negara memiliki visi yang sama dan siap memberikan dana yang luar biasa besar dalam waktu yang juga sangat panjang? Ataukah ini hanya akan menjadi proyek beberapa negara?

Venus memang bisa menjadi rumah kedua bagi penduduk Bumi sekaligus batu loncatan untuk kolonisasi di planet lain atau satelit yang ada di Tata Surya. Apalagi jika Matahari suatu hari nanti menjadi raksasa merah dan melahap Venus ataupun Bumi. Pada saat itu, penghuni Bumi jelas membutuhkan rumah baru. Bahkan Mars pun tidak akan laik huni kala Matahari jadi raksasa merah.

Pada saat itu… Titan, satelit dari Saturnus akan menjadi target berikutnya untuk dihuni…

[divider_line]

Punya pertanyaan tentang astronomi? Silahkan Tanya LS!

Ditulis oleh

Pengembara Angkasa

Pengembara Angkasa

Pengelana yang telah banyak menjelajahi angkasa raya dan ingin membagi kisahnya dengan banyak orang. Senang pula mengamen, nebeng kapal orang, dan menumpang tidur di rumah singgah antar bintang.