Planet Yang Kehilangan Lautan

Miliaran tahun yang lalu, permukaan Mars jauh berbeda dengan sekarang. Lokasi yang sekarang hanya padang pasir merah nan kering, dulunya merupakan lautan luas yang menyelimuti 20% permukaan Mars. Itu artinya, dulu lautan di Mars melingkupi area yang lebih besar dibanding area yang dilingkupi oleh lautan Atlantik di Bumi!

Ilustrasi Mars miliaran tahun lalu ketika masih memiliki lautan. kredit: ESO/M. Kornmesser
Ilustrasi Mars miliaran tahun lalu ketika masih memiliki lautan. kredit: ESO/M. Kornmesser

Air dari lautan luas ini ternyata cukup untuk menutupi seluruh permukaan Mars dengan lapisan air bisa mencapai kedalaman 100 meter!

Informasi tentang laut tersebut diperoleh dari penelitian atmosfer Mars. Para ilmuwan melakukan penelitian dengan mempelajari dua tipe air. Yang pertama, air normal seperti yang kita minum dan mandi.

Air lainnya merupakan jenis air yang di mengandung hidrogen tipe khusus, yang disebut deutrium. Air yang terbentuk dari deutrium memiliki kandungan hidrogen lebih banyak sehingga air jadi lebih berat dibanding air yang normal.

Hal ini penting karena itu berarti cahaya matahari megubah air normal yang lebih ringan menguap (menjadi uap) dan melayang ke luar angkasa lebih cepat dibanding tipe air lainnya.

Jadi, dengan mempelajari dan membandingkan air yang lebih berat dan air yang normal di atmosfer Mars, kita bisa mengetahui jumlah air normal di Mars yang sudah menghilang ke luar angkasa.

Hasil penelitian terbaru juga mengungkapkan kalau Mars dulunya merupakan planet basah dalam waktu yang lebih lama dari yang diduga para ahli. Artinya, pada suatu waktu di masa lalu, Mars cocok untuk kehidupan dalam waktu yang lebih lama dari yang diduga.

Fakta menarik: Dulu Mars memiliki lebih banyak air di bawah permukaannya. Dan sebagian air itu mungkin masih ada saat ini!

[divider_line]

Sumber: Dipublikasi kembali dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.