Teknologi Ruang Angkasa Membantu Mengobati Gangguan Penglihatan

Jutaan orang di penjuru dunia telah melakukan operasi laser untuk mengobati gangguan penglihatan, tapi tahukah kalian metode operasi ini bisa dilakukan berkat teknologi yang dikembangkan untuk penggunaan di ruang angkasa?

Kalau kalian melihat satu titik tetap selagi memiringkan atau menggelengkan kepala, mata kalian akan otomatis berusaha tetap melihat titik itu sehingga kalian tetap bisa melihat jelas selama bergerak. Sebagian besar makhluk di Bumi mempunyai kemampuan ini, bahkan sekelas dinosaurus sekalipun. Ini adalah trik alam yang tidak pernah kita perhatikan.

Di balik trik itu, sebetulnya otak kalian terus-menerus menerima pesan dari telinga bagian dalam. Pesan ini menginformasikan arah sehingga kalian bisa menjaga keseimbangan dan penglihatan kalian stabil. Hal ini bisa terjadi berkat gravitasi, yang memberitahu kita ke mana arah bawah.

Bagaimana dengan astronot di ruang angkasa yang tidak ada gravitasi? Bagaimana mata mereka bisa fokus ke layar komputer saat melayang-layang di Stasiun Ruang Angkasa Internasional ISS?

Astronot Thomas Reiter mengenakan Alat Penjejak Mata selama menjalani misi di ISS. Kredit: ESA/NASA.
Astronot Thomas Reiter mengenakan Alat Penjejak Mata selama menjalani misi di ISS. Kredit: ESA/NASA.

Untuk menyelidiki fenomena ini, para peneliti menciptakan alat spesial untuk mengamati pergerakan mata astronot tanpa mengganggu mereka. Alat tersebut dinamakan Alat Penjejak Mata (Eye Tracking Device). Pada prinsipnya alat ini berupa helm yang dipasangi kamera. Kamera akan memotret mata astronot dan merekam ke arah mana mata bergerak.

Di Bumi, Alat Penjejak Mata ini membantu dokter menjalankan operasi laser pada mata dan berhasil meningkatkan kehidupan jutaan orang!

Fakta Menarik: Teknologi ruang angkasa berdampak besar pada kehidupan kita sehari-hari. Sebagiannya rumit, misalnya kemampuan untuk mengirimkan informasi ke segala penjuru dunia dalam hitungan detik dan pembuatan lengan dan tungkai buatan. Sebagian lagi sederhana, misalnya kasur busa dan sol-dalam untuk sepatu.

Sumber: dipublikasi kembali dari Space Scoop Universe Awareness.

Ditulis oleh

Ratna Satyaningsih

Ratna Satyaningsih

menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister astronomi di Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung. Ia bergabung dengan sub Kelompok Keahlian Tata Surya dan menekuni bidang extrasolar planet khususnya mengenai habitable zone (zona layak-huni). Ia juga menaruh minat pada observasi transiting extrasolar planet.