Gerhana Bulan Total Pertama di 2014

Beberapa hari ini tiba-tiba di lini masa media sosial dan juga berita muncul kata Blood Moon atau Bulan Berdarah yang akan muncul tanggal 15 April 2014. Bahkan tampaknya ada isu-isu yang mengaitkan Bulan Berdarah tersebut dengan akhir dunia.

Gerhana Bulan Total yang tampak kemerahan. Kredit: Fred Espenak
Gerhana Bulan Total yang tampak kemerahan. Kredit: Fred Espenak

Lantas apa itu bulan berdarah yang akan muncul tanggal 15 April 2014? Tampaknya itu istilah yang diberikan pada Gerhana Bulan Total yang akan terjadi pada tanggal 15 April 2014. Apa istimewanya, kalau ditanyakan ke astronom pasti jawabannya tidak ada karena Gerhana Bulan Total bukanlah peristiwa langka. Dalam setahun setidaknya terjadi rangkaian gerhana yang terdiri dari gerhana Bulan dan gerhana Matahari. Di musim gerhana 2014, setidaknya akan ada 2 Gerhana Bulan Total dan 2 Gerhana Matahari yang terdiri dari Gerhana Matahari Cincin dan Gerhana Matahari Sebagian.

Gerhana Bulan Tetrad
Gerhana Bulan Total 15 April 2014 akan menjadi gerhana pertama yang membuka musim gerhana 2014 sekaligus gerhana bulan total pertama dari 4 gerhana bulan total yang akan terjadi berurutan. Seri gerhana bulan total yang diisi oleh 4 gerhana bulan total ini dikenal juga dengan sebutan seri tetrad. Dalam 5000 tahun semenjak tahun -1999 sampai dengan 3000, terjadi 4378 gerhana penumbral (36,3%), 4207 gerhana bulan sebagian (34,9%) dan 3479 gerhana bulan total (28,8%). Dari keseluruhan gerhana bulan total yang terjadi dalam selang tersebut, 16,3% atau 563 gerhana dari gerhana bulan total merupakan bagian dari 142 seri tetrad yang terjadi dalam periode tersebut. Seri gerhana tetrad sebelum periode 2014-15 terjadi pada tahun 2003-04 dan seri berikutnya baru akan terjadi 20 tahun lagi yakni tahun 2032-33.

Perlu diingat, seri tetrad merupakan 4 gerhana bulan total yang terjadi berurutan, dan tidak berarti setelah itu tidak ada gerhana bulan total yang terjadi sampai seri tetrad berikutnya. Gerhana Bulan Total masih akan terjadi tapi tidak berurutan 4 gerhana seperti dalam seri tetrad melainkan diselingi gerhana bulan sebagian dan gerhana bulan penumbral.

Tapi mengapa disebut bulan berdarah? Pada saat Gerhana Bulan Total, Bulan akan memasuki bayangan Bumi dan seharusnya menghilang dari pandangan pengamat karena Bulan tidak lagi memperoleh sinar Matahari yang terhalang oleh Bumi. Tapi bukan itu yang terjadi. Bulan justru tampak berwarna merah karena saat Bulan berada dalam bayangan umbra Bumi, cahaya Matahari secara tidak langsung masih bisa lolos dan mencapai Bulan. Tapi, cahaya Matahari ini harus terlebih dahulu melewati atmosfer Bumi yang menyaring / menyebarkan hampir semua cahaya biru/hijaunya. Sehingga hanya cahaya merah yang bisa lolos melewati atmosfer dan menyinari Bulan meskipun sebagian cahaya merah tersebut ada yang dibiaskan atau dibelokkan.

Dalam teori “Cocoklogi” atau “utak atik gathuk” yang dibangun oleh orang-orang tertentu, seri tetrad tahun 2014-15 yang terjadi jelang Paskah ( 15 April 2014 dan 4 April 2015) dan jelang hari raya Pondok Daun atau perayaan Tabernakel dari bangsa Yahudi ( 8 Oktober 2014 dan 28 September 2015) dianggap merupakan penggenapan untuk terjadinya akhir dunia atau penghukuman. Tapi sayangnya itu hanya sekedar teori cocoklogi yang dibangun dengan interpretasi iman.

Seri Saros 122
Gerhana Bulan Sebagian 15 April 2014 merupakan gerhana ke-56 dalam bagian dari Seri Saros 122, yang terdiri dari rangkaian 74 gerhana yakni :

22 gerhana penumbral
8   gerhana sebagian
28 gerhana total
7   gerhana sebagian
9    gerhana penumbral

Siklus Saros merupakan periode terjadinya gerhana Bulan ataupun gerhana Matahari yang memiliki geometri yang sama dalam dan terjadi dalam rentang waktu 18 tahun 11 hari 8 jam. Ketika dua gerhana terjadi dalam satu periode Saros, mereka akan terjadi pada titik yang sama dengan Bulan berada pada jarak yang hampir sama dari Bumi dan di waktu yang sama di tahun tersebut. Kesamaan inilah yang kemudian digunakan untuk mengklasifikasikan gerhana dalam satu keluarga atau satu rangkaian. Dalam satu seri saros terdapat lebih dari 70 gerhana bulan dimana satu seri Saros akan berakhir dalam rentang 12 – 15 abad.

Gerhana Bulan yang ada di seri Saros 122 terjadi saat Bulan berada pada titik naik dan bergerak ke arah selatan dalam setiap gerhana. Seri Saros 122, dimulai oleh Gerhana Bulan Penumbral dekat tepian penumbra pada tanggal 4 Agustus 1022 dan berakhir dengan gerhana penumbral 29 Oktober 2338 di tepi selatan penumbra.

Total durasi seri Saros 112 adalah 1316.20 tahun

Tahapan Gerhana Bulan Total
Mengawali seri gerhana tahun 2014, Gerhana Bulan Total akan dapat diamati oleh sebagian masyarakat di Bumi. Gerhana Bulan terjadi saat Matahari – Bumi – Bulan sejajar dan Bumi menghalangi datangnya cahaya Matahari ke Bulan. Gerhana Bulan biasanya terjadi ketika Bulan Purnama ketika Matahari – Bumi – Bulan berada pada posisi sejajar.  Tapi, tidak setiap Bulan Purnama gerhana Bulan akan terjadi. Ini dikarenakan orbit Bulan yang memiliki kemiringan 5º terhadap orbit Bumi.

Gerhana Bulan Total terjadi saat Bulan memasuki umbra Bumi, area dimana Bumi menghalangi seluruh cahaya Matahari untuk mencapai Bulan.\

Skema proses Gerhana Bulan. Kredit: Fred Espenak
Skema proses Gerhana Bulan. Kredit: Fred Espenak

Untuk Gerhana Bulan Total 15 April 2014, fase gerhana total akan berlangsung selama 78 menit dari keseluruhan proses gerhana yang akan berlangsung selama 3,5 jam dimulai saat Bulan memasuki Umbra sampai keluar dari Umbra. Proses keseluruhan gerhana mulai dari gerhana penumbra sampai Bulan meninggalkan penumbra Bumi mencapai 5 jam 44 menit.

Waktu Indonesia Bagian Barat
Awal Gerhana Penumbral : 11:53:37 wib
Awal Gerhana Sebagian : 12:58:19 wib
Awal Gerhana Total :14:06:47 wib
Puncak Gerhana :  14:45:40  wib
Akhir Gerhana Total : 15:24:35 wib
Akhir Gerhana Sebagian : 16:33:04 wib
Akhir Gerhana Penumbral: 17:37:37 wib

Waktu Indonesia Bagian Tengah
Awal Gerhana Penumbral : 12:53:37 wita
Awal Gerhana Sebagian : 13:58:19 wita
Awal Gerhana Total :15:06:47 wita
Puncak Gerhana :  15:45:40  wita
Akhir Gerhana Total : 16:24:35 wita
Akhir Gerhana Sebagian : 17:33:04 wita
Akhir Gerhana Penumbral: 18:37:37 wita

Waktu Indonesia Bagian Timur
Awal Gerhana Penumbral : 13:53:37 wit
Awal Gerhana Sebagian : 14:58:19 wit
Awal Gerhana Total :16:06:47 wit
Puncak Gerhana :  16:45:40  wit
Akhir Gerhana Total : 17:24:35 wit
Akhir Gerhana Sebagian : 18:33:04 wit
Akhir Gerhana Penumbral: 19:37:37 wit

Gerhana Bulan Total akan terjadi saat Bulan berada di konstelasi Virgo dan dapat dinikmati keseluruhan fase gerhananya oleh penduduk di Amerika Utara dan Selatan. Pengamat di bagian barat Pasifik akan kehilangan bagian pertama gerhana karena gerhana sudah terjadi sebelum bulan terbit. Sebagian besar Eropa dan Afrika juga tidak akan menikmati gerhana, karena Bulan terbenam saat gerhana dimulai, Untuk penduduk Eropa Utara dan Timur, Afrika Timur, Timur Tengah dan Asia Tengah, gerhana bulan total tidak akan dapat dinikmati.

Di Indonesia, gerhana akan berlangsung kala siang hari dan penduduk Indonesia bagian barat tidak akan dapat melihat gerhana bulan total 15 April 2014 dan area Indonesia timur juga hanya dapat menikmati proses akhir gerhana sebagian saat Bulan terbit. Penduduk Indonesia baru akan dapat menikmati indahnya Gerhana Bulan pada tanggal 8 Oktober 2014.  Tapi, tidak berarti para pengamat langit tidak akan bisa mengamati apapun. Tanggal 15 April 2014, Bulan Purnama akan tampak sangat cerlang di malam hari ditemani titik merh lain di angkasa yakni Planet Mars yang sedang berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi dalam perjalanan menuju perihelionnya.

Peta Gerhana Bulan Total 15 April 2014. Kredit: Fred Espenak / NASA
Peta Gerhana Bulan Total 15 April 2014. Kredit: Fred Espenak / NASA

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.