IAU dan Regulasi Penamaan Kawah di Mars

Bayangkan jika namamu tertera sebagai nama salah satu planet atau kawah! Bangga? Tentunya! Dan untuk menempatkan namamu di salah satu kawah di Mars, kamu perlu membayar ata tepatnya memberi donasi dengan jumlah tertentu. Semakin besar kawah, semakin besar pula donasi yang harus diberikan.

Kontes Penamaan Kawah Mars. Kredit: uwingu
Kontes Penamaan Kawah Mars. Kredit: uwingu

Itulah kontes yang diadakan oleh uwingu untuk menggalang dana yang kemudian akan disalurkan untuk membantu riset dan edukasi astronomi. Kontes penamaan kawah di Mars diluncurkan di awal tahun 2014 oleh uwingu, perusahaan yang dibangun oleh Alan Stern dan rekan-rekannya. Sama seperti kontes penamaan exoplanet yang dilakukan uwingu tahun 2013, kali ini masyarakat bisa memilih kawahnya sendiri dan memberi nama sesuai dengan nama yang diinginkan. Tak pelak ada banyak nama aneh yang muncul dan mengundang reaksi IAU.

Kawah di Mars yang dijadikan obyek penamaan untuk memperoleh sumbangan masyarakat. Kredit: uwingu
Kawah di Mars yang dijadikan obyek penamaan untuk memperoleh sumbangan masyarakat. Kredit: uwingu

Penamaan kawah di Mars dengan donasi merentang antara 5 – 5000 USD bisa memberi persepsi berbeda bagi masyarakat. Obyek di luar Bumi tidak dimiliki oleh siapapun dan meskipun hanya memberi nama dengan berbayar akan dapat member indikasi bahwa obyek atau kawah tersebut dimiliki oleh seseorang atau bahkan sebuah institusi.

Dan sama seperti tahun lalu, IAU pun memberikan jawaban atas kontes yang dilakukan oleh uwingu tersebut. Dalam rilis resmi IAU, dinyatakan bahwa inisiatif kontes seperti ini bertentangan dengan prinsip kebebasan dan akses yang sama di luar angkasa, sekaligus juga melanggar aturan internasional.  Dalam resolusi PBB 2222 dinyatakan, obyek di luar angkasa tidak bisa dimiliki dan diklaim oleh sebuah perusahaan atau negara manapun untuk keperluan apapun. Dan secara keseluruhan reslusi tersebut menyebutkan bahwa eksplorasi luar angkasa dan seluruh penelitiannya harus dilakukan untuk kepentingan bersama.

Karena itu, nama yang sudah dibeli pada setiap kawah di Mars tidak akan digunakan sebagai nama resmi dari kawah di Mars. Hal yang sama seperti yang terjadi pada penamaan eksoplanet.

Apakah dengan demikian hak pemberian nama hanya ada pada IAU? Ataukah masyarakat pun bisa berkontribusi? Ide dari uwingu adalah kontribusi masyarakat yang tidak saja pada penamaan tapi juga pendanaan. Meski memang cara tersebut kurang tepat. Untuk itu, IAU mendorong juga masyarakat untuk berpartisipasi memberi nama obyek sesuai dengan aturan dan metode yang berlaku. Dan yang pasti pemberian nama tersebut gratis tanpa dipungut biaya.

Semangat pendanaan masyarakat memang sedang berkembang di semua lini. Bantuan secara bersama memang sangat signifikan untuk menjalankan sebuah kegiatan atau membuat produk tertentu. Dana yang diberikan tentu perlu dihargai pula dengan memberikan sesuatu sebagai ungkapan terimakasih. Nah, untuk kontes uwingu pemberi dana punya kesempatan menyematkan namanya di obyek atau kawah yang ia pilih sesuai besarnya pendanaan yang diberikan.

Ide pendanaan bersama memang baik dan penting mengingat tidak mudah untuk memperoleh dana baik dari pemerintah dan perusahaan apalagi untuk kegiatan edukasi di masa kini.  Tapi bagaimana melakukannya menjadi perkerjaan rumah bagi para pelaku. Sangat mudah memang menarik perhatian para donatur dengan ide penamaan planet dan kawah dengan nama mereka sendiri.

Tapi, obyek langit itu tidak dimiliki oleh seseorang atau suatu negara. Planet-planet yang ada di luar Bumi tidak dimiliki siapapun dan tidak sembarangan juga seseorang menempatkan namanya di sebuah obyek. Tapi ide menarik itu kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah si pemilik perusahaan tersebut adalah juga pemilik obyek atau fitur yang diberi nama? Ataukah obyek-obyek tersebut milik negara tertentu?

Kekuatiran akan salah persepsi di tengah masyarakat inilah yang menempatkan IAU sebagai otoritas astronomi memberikan pernyataannya.

Penamaan Obyek
Agar tidak menimbulkan kebingungan, para astronom di IAU menetapkan suatu standar untuk penamaan obyek langit, fitur di sebuah obyek maupun fenomena langit. Tujuannya untuk mempermudah mengenali suatu obyek di langit. Contohnya, fitur di sebuah planet atau satelit biasanya diberi nama berdasarkan tema tertentu. Meski demikian, masih ada ruang bagi masyarakat untuk mengusulkan penamaan bagi obyek atau fitur tertentu.

Memang sampai saat ini IAU tidak secara terbuka meminta masyarakat mengusulkan nama sebuah obyek, tapi itu dapat dilakukan lewat permintaan stasiun luar angkasa maupun lewat penemu sebuah obyek. Hal ini beberapa kali pernah dilakukan NASA ketika meminta kontribusi masyarakat dalam beberapa misinya. Di antaranya misi pemetaan Magellan di Venus yang diluncurkan tahun 1989. Atau yang terbaru adalah penamaan 2 buah satelit Pluto pada tahun 2013, yang diberi nama sesuai hasil voting masyarakat. NASA juga pernah mengadakan kontes pemberian nama asteroid yang menjadi target OSIRIS-REx yang akan diluncurkan tahun 2016 dan dimenangkan seorang anak berusia 9 tahun. Ide dari semua ini adalah pemberian nama bisa dilakukan tapi dalam konteks tidak berbayar dan bisa diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat.

Untuk kasus kawah di Mars, penamaan dan pengajuan nama secara publik hanya bisa dilakukan oleh penemu kawah dan stasiun luar angkasa bekerja sama dengan IAU. Dan semua hanya bisa dilakukan dalam konteks yang tidak melanggar regulasi internasional.

Karena itu, meskipun sebuah kontes dilakukan hanya “untuk penamaan publik atau menjadi legenda masyarakat” dan bukan menjadi nama resmi di peta dan tidak menjadi milik pun harus tetap didasarkan pada regulasi internasional yang berlaku. Ingin menempatkan nama anda di salah satu obyek di langit? Bagaimana kalau anda ikut berkontribusi dalam perkembangan astronomi atau lebih baik lagi jadi penemu obyek itu!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...