Hujan Meteor Quadrantids 2014

Selamat tahun baru 2014!

Memasuki tahun baru 2014, tentunya masing-masing kita punya cerita dan harapan yang ingin dipenuhi di tahun ini. Tapi jangan lupa, langit pun punya cerita yang ingin dibagi dengan penghuni Bumi.

Hujan meteor Quadrantids. Kredit: StarWalk
Hujan meteor Quadrantids. Kredit: StarWalk

Seperti biasa rangkaian hujan meteor tahunan bisa kamu nikmati di sepanjang tahun 2014, dimulai dengan hujan meteor Quadrantids yang sudah berlangsung sejak 28 Desember dan akan berakhir sekitar 12 Januari. Puncak hujan meteor Quadrantids berlangsung pada tanggal 4 Januari jam 02.30 wib dengan laju 120 meteor per jam. Akan tetapi diperkirakan laju meteor pada saat puncak bisa berkisar antara 60 – 200 meteor per jam.

Asal Usul
Hujan meteor ini sudah diamati sejak 2 Januari 1825 January 2 oleh Antonio Brucalassi (Italia), akan tetapi penemuan tampaknya hujan meteor Quadrantids juga dilaporkan oleh Louis Francois Wartmann (Swiss) tanggal 2 Januari 1835 dan M. Reynier (Swiss) pada tanggal 2 Januari 1838. Baru pada tahun 1839, hujan meteor ini diyakini merupakan hujan meteor tahunan ketika Adolphe Quetelet (Brussels Observatory, Belgia) dan Edward C. Herrick (Connecticut) melakukan pengamatan. Dan akhirnya hujan meteor yang terjadi di awal Januari ini pun memperoleh nama Quadrantids.

Nama meteor Quadrantids berasal dari konstelasi kuni Quadrans Muralis yang ditemukan di atlas bintang awal abad ke-19 di antara rasi Draco, Hercules dan Bootes. Konstelasi ini kemudian ditiadakan dari peta bintang bersama dengan beberapa konstelasi lainnya di tahun 1922 saat International Astronomical Union (IAU) mengadopsi 88 rasi yang dikenal untuk masuk dalam peta bintang modern.  Quadrantids kemudian “direlokasi” ke konstelasi Bootes setelah Quadrans Muralis tiada, dan tetap mendapat nama Quadrantids karena hujan meteor lainnya di bulan Januari juga sudah dikenal sebagai hujan meteor Bootids.

Pada tahun 1864, Alexander Stewart Herschel dari Inggris melakukan pengamatan Hujan Meteor Quadrantids dan berhasil melihat hujan meteor tersebut dengan laju yang cukup tinggi yakni 60 meteor.

Sampai dengan tahun 2003, belum diketahui dengan pasti asal usul meteor Quadrantids. Di tahun tersebut, Peter Jenniskens dari NASA menemukan bukti kalau meteor Quadrantids ini berasal dari 2003 EH1, asteroid yang diperkirakan merupakan potongan komet yang hancur sekitar 500 tahun lalu. Orbit Bumi berpotongan tegak lurus dengan orbit 2003 EH 1, yang artinya Bumi akan bergerak cepat melewati puing-puingnya. Akibatnya hujan meteornya menjadi sangat singkat.

Pengamatan Quadrantids
Bagi para pengamat di Bumi, meskipun hujan meteor Quadrantids merupakan salah satu hujan meteor tahunan yang ditunggu, tetap saja ada kendala!

Secara umum, hujan meteor Quadrantids paling baik dilihat oleh pengamat di belahan bumi Utara, karena posisi radian atau arah datangnya hujan meteor Quadrantids di langit utara yang jauh lebih baik. Tapi, kendala terbesar bagi pengamat di langit utara adalah cuaca musim dingin yang sedang melanda belahan bumi utara. Hujan meteor Quadrantids juga bisa dinikmati oleh pengamat di area tropis di selatan ekuator meskipun tidak sebaik pengamat di Utara dan banyaknya meteor yang bisa dinikmati pun lebih sedikit.

Kendala lainnya adalah singkatnya waktu maksimum hujan meteor Quadrantids, yang menyebabkan pengamat kehilangan kesempatan melihat puncak hujan meteor tersebut karena berada pada lokasi yang tidak tepat. Bagaimana tidak puncak hujan meteornya hanya beberapa jam.

Faktor terakhir yang jadi problematika pengamatan hujan meteor yang satu ini adalah redupnya si hujan meteor Quadrantids sehingga dibutuhkan kondisi yang sangat sangat baik bagi pengamat untuk bisa menikmatinya.

Bagi pengamat di Indonesia, hujan meteor Quadrantids akan tampak dari arah timur laut dan ia akan tampak setelah tengah malam atau setelah rasi Bootes terbit jam 02.00 dini hari dan dapat dinikmati sampai fajar menyingsing.  Dalam peta bintang modern, Quadrantids akan tampak di area pertemuan rasi Bootes, Hercules dan Draco.

Dengan posisi hanya berkisar 30 derajat, pengamat di Indonesia sebaiknya mencari lokasi yang area horison langitnya tidak tertutup gedung pohon dll. Selain itu dibutuhkan lokasi yang sangat gelap dan tidak terpengaruh polusi cahaya.  Keuntungannya, Bulan masih dalam fase Bulan Baru sehingga, langit malam akan bebas dari cahaya Bulan. Dan selain hujan meteor Quadrantid, pengamat pun bisa menikmati kehadiran planet Mars di rasi Virgo yang terbit tengah malam, Saturnus di rasi Libra yang akan terbit jam 2 dini hari, juga planet raksasa Jupiter di rasi gemini yang terbit sejak Matahari tenggelam dan akan terbenam kala fajar menyingsing.  Rasi Centaurus dan Crux juga akan tampak setelah tengah malam!

Selamat berburu meteor. Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

1 thought on “Hujan Meteor Quadrantids 2014

Tinggalkan Balasan ke Kevin Adrian Batalkan balasan