Lebih Jauh dengan Hilal

Shaum Ramadhan 1434 H telah dimulai dengan penetapan oleh pemerintah. Akan tetapi ada beberapa pertanyaan yang masih bergulir yang ditanyakan kepada tim langitselatan via Twitter. Untuk itu tulisan ini akan membahas beberapa pertanyaan tersebut.

Konjungsi dan data astronomi lainnya ( dalam hal ini terkait Bulan, misalnya: tinggi Hilal, elongasi, umur bulan, lag, fraksi illuminasi Bulan, dan lebar sabit Hilal), akan memiliki hasil yang sama berdasarkan perhitungan yang akurat,  siapapun yang mengitungnya. Jika pun ada perbedaan, biasanya dalam batas yang masih bisa ditoleransi.  Akan tetapi, terkait kriteria Hilal (dalam hal ini terkait dengan adalah kriteria awal bulan Hijriah). Dasar kriteria itu ada dua: sains dan/atau penafsiran atas dalil-dalil agama. Untuk penafsiran atas dalil-dalil agama, silahkan ditanyakan kepada yang lebih kompeten.

Adapun untuk dasar sains, maka penafsiran/penggunaan atas data astronomis seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya dapat dihitung dan akan memiliki hasil yang sama. Dengan demikian, jika kriteria ditetapkan berbeda maka awal bulan Hijriahnya  pun akan berbeda bukan hanya Ramadhan atau Syawwal saja, tetapi seluruh bulan Hijriah.

Sebenarnya selain awal Ramadhan dan Syawwal, awal bulan hijriah lainnya dimungkinkan untuk berbeda. Lagi-lagi penyebabnya bisa karena kriterianya. Akan tetapi memang masyarakat  lebih awas akan perbedaan awal Ramadhan dan awal Syawwal dibanding awal bulan lainnya. Buktinya, awal bulan Shafar dan Rajab lalu NU dan Muhammadiyah berbeda awal bulannya. Namun kita sepertinya tidak menyadari itu, karena kurang merasakan efeknya (tidak seperti awal Ramadhan atau awal Syawwal yang berefek pada ibadah shaum Ramadhan). Silahkan gunakan mesin pencari mengenai perbedaan tersebut atau silahkan baca tulisan terkait masalah tersebut di sini.

Bagaimana dengan awal Dzulhijjah? Sama saja, terkadang sama dan bisa juga berbeda. Silahkan dipelajari dengan mennggunakan perangkat lunak Stellarium atau Accurate Times bahwa Awal Dzulhijjah tahun depan (Dzulhijjah 1435 H) akan berbeda. Jadi, awal bulan Hijriah (apapun dan bukan hanya awal Ramadhan dan Syawwal) bisa sama atau berbeda bergantung pada kriteria yang digunakan. Jika ingin sama, ya samakan kriterianya 🙂

Untuk mengakomodasi penetapan awal bulan Hijriah tersebut, pemerintah menyelenggarakan sidang istbat tiga kali dalam setahun, yaitu untuk menentukan awal Ramadhan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijjah. Untuk bulan-bulan lainnya tidak diselenggarakan. Mengenai alasannya, pemerintah yang berhak menjawab ini. Kita hanya menduga, mungkin karena di ketiga bulan itu ada ibadah umat Islam yang cukup terkait dengan sosial kemasyarakatan, seperti Shaum Ramadhan, Idul Fitri (mudik dll) dan Idul Adha. Sementara di bulan-bulan lain, tidak terlalu menyita/terkait sosial kemasyarakatan.

Keterlambatan kemunculan Bulan atau pergeseran kemunculan Bulan per harinya bisa diketahui dari periode sinodis Bulan (dari saat konjungsi ke konjungsi berikutnya) yang terjadi dalam rentang 29,53 hari. Periode synodis ini terkait dnegan kembalinya Bulan pada siklus yang sama. Misalnya dari Bulan Baru ke Bulan Baru berikutnya atau dari Purnama ke Purnama berikutnya.  Jika kita anggap satu periode sinodis itu 360 derajat (yang berarti ditempuh selama 29,53 hari), maka dengan mudah kita peroleh Bulan akan terlambat sekitar 12.2 derajat/hari. Tentu saja ini perhitungan kasar karena periode sinodis Bulan tidak tepat 29,53 hari tetapi bisa kurang bisa lebih. Karena itu, Bulan akan terlambat muncul/terbit bisa lebih kecil atau lebih besar dari 12 derajat per hari. Jika kita konversikan ke satuan menit, maka akan kita peroleh bahwa Bulan setiap hari akan terlambat sekitar 48-50 menit.

Dalam perhitungan, 1 derajat = 4 menit. Nilai ini diperoleh dari rotasi Bumi yang memerlukan waktu 24 jam. Karena satu rotasi = 360 derajat, maka akan diperoleh 24 jam = 360 derajat. Karena itu, 1 jam = 15 derajat atau 60 menit = 15 derajat atau 4 menit = 1 derajat

Terkait ketinggian Hilal antara tanggal 8 dan 9 Juli, silahkan ditambahkan saja tinggi Hilal pada hari Senin, 8 Juli dengan 12 derajat, maka nanti akan diperoleh tinggi Hilal di Indonesia saat hari Selasa petang sekitar 10-11 derajat. Dengan perhitungan yang presisi akan diperoleh tinggi Hilal di Indonesia pada hari Selasa, 9 Juli 2013 adalah 9,01 s.d. 10,97 derajat.

Untuk menghitung tinggi Hilal, metodenya sama saja dengan menghitung tinggi Bulan, dalam fase apapun. Tingginya dihitung dari horizon semu (yang sudah memperhitungkan efek refraksi atmosfer dan ketinggian lokasi pengamat dari permukaan laut).  Horizon semu ini berbeda dengan horizon hakiki yang digunakan dalam tata koordinat astronomi, karena dalam tata koordinat astronomi, tinggi benda langit tidak mengikutsertakan efek refraksi atmosfer dan elevasi pengamat.

Ditulis oleh

Rukman Nugraha

Rukman Nugraha

Alumnus Astronomi ITB yang sekarang bekerja di BMKG. Selain Kosmologi, saat ini Rukman tertarik dengan kajian Efek Variabilitas Matahari pada Iklim di Bumi dan Cuaca Antariksa. Ia juga tertarik dengan kajian sains Hilal.

1 thought on “Lebih Jauh dengan Hilal

Tulis komentar dan diskusi...