Malam-malam Tanpa Awan di Bumi-Super

Kalau kalian mempunyai sesuatu yang berguna sepanjang hidup kalian, mungkin kalian akan meremehkannya, terutama jika benda itu tak kasat mata. Tapi, sekarang kita perlu sejenak menyadari betapa beruntungnya kita karena Bumi mempunyai atmosfer!

 Ilustrasi Bumi-super GJ3470b, yang mengorbit sebuah bintang nun jauh di ruang angkasa. Ukuran planet dan bintang pada ilustrasi ini menunjukkan perbedaan ukuran yang sebenarnya antara kedua objek. Kredit: NAOJ.

Ilustrasi Bumi-super GJ3470b, yang mengorbit sebuah bintang nun jauh di ruang angkasa. Ukuran planet dan bintang pada ilustrasi ini menunjukkan perbedaan ukuran yang sebenarnya antara kedua objek. Kredit: NAOJ.

Atmosfer Bumi terdiri atas gas yang membungkus planet ini seperti selimut, dan tetap berada di sana berkat gravitasi Bumi. Atmosfer menjaga supaya temperatur di muka Bumi tetap nyaman; menjaga supaya di malam hari kita tidak merasakan dingin yang membekukan dari ruang angkasa dan di siang hari tidak panas terpanggang oleh matahari. Selain itu, atmosfer juga menjadi penghalang dengan cara menyerap sinar-sinar berbahaya dari Matahari dan benda-benda kosmis lainnya sebelum mengenai kita yang tinggal di permukaan Bumi! Jadi, berkat atmosfer lah kita bisa hidup di Bumi!

Rupanya beberapa planet di luar Tata Surya juga memiliki atmosfer! Astronom-astronom di Jepang baru saja mendeteksi atmosfer suatu planet yang mengorbit sebuah bintang. Planet tersebut kira-kira 4 kali lebih besar daripada Bumi. Kita menyebut planet yang seperti itu sebagai ‘Bumi-super’. Observasi menunjukkan bahwa meskipun planet tersebut bisa saja mempunyai atmosfer yang tebaaaaaaal sekali, yaitu hingga 200.000 kali lebih tebal daripada atmosfer Bumi, di sana tidak terlalu berawan. Saya yakin banyak dari kalian yang iri dengan fakta itu.

Fakta Menarik: Tidak ada batas yang tegas antara atmosfer dan ruang angkasa karena semakin ke atas atmosfer menipis dan semakin tipis. Tapi, kita sudah menyepakati suatu garis khayal di ketinggian 100 km, yang kita anggap sebagai awal ruang angkasa. Kita menyebutnya dengan nama garis Kármán. Namun demikian, sebagai manusia kita hanya bisa bernafas hingga ketinggian sekitar 8 km.

Sumber: Universe Awareness Space Scoop

Ditulis oleh

Ratna Satyaningsih

Ratna Satyaningsih

menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister astronomi di Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung. Ia bergabung dengan sub Kelompok Keahlian Tata Surya dan menekuni bidang extrasolar planet khususnya mengenai habitable zone (zona layak-huni). Ia juga menaruh minat pada observasi transiting extrasolar planet.