Langit Malam yang Membara

Matahari yang senantiasa menerangi langit di kala siang, juga titik-titik cahaya yang berkelap-kelip di langit malam, semuanya merupakan bintang, bola-bola gas raksasa yang berpijar. Bintang-bintang dilahirkan jauh di dalam awan gas yang tebal. Begitulah menurut para astronom, tapi guna mencari tahu lebih banyak lagi mereka harus membangun teleskop-teleskop khusus yang bisa menangkap cahaya yang tidak bisa kita lihat dengan mata kepala kita. Teleskop-teleskop ini memungkinkan mereka melihat awan gelap tempat pembentukan bintang sehingga bisa mengintip apa yang ada di baliknya.

Awan debu kosmik di Orion. Kredit : ESO/APEX (MPIfR/ESO/OSO)/T. Stanke et al./Digitized Sky Survey 2
Awan debu kosmik di Orion. Kredit : ESO/APEX (MPIfR/ESO/OSO)/T. Stanke et al./Digitized Sky Survey 2

Foto ini diambil dengan menggunakan salah dari teleskop-teleskop tersebut, yaitu teleskop yang dinamai APEX. Teleskop canggih ini dirancang untuk menangkap pijaran panas dari debu semacam ini, untuk menyingkap lokasi-lokasi tersembunyi tempat bintang-bintang baru dilahirkan. Meskipun kita tidak bisa melihat para bintang itu, saking panasnya si bintang awan-awan di sekelilingnya pun memanas. Petak-petak awan yang lebih panas ini dipotret oleh APEX. Dalam foto ini, petak-petak awan semacam itu ditunjukkan dengan warna oranye terang. Bintang-bintang muda tampak seolah-olah telah membakar awan ‘kan ya?

Fakta menarik: Mengumpulkan cahaya tak-kasat-mata (cahaya yang tidak bisa dilihat dengan mata kepala kita) dari ruang angkasa itu urusan yang rumit. Jika teleskop kalian berada di bumi, data dari ruang angkasa bisa bercampur aduk dengan data dari atmosfer bumi. Untuk mengatasi hal ini, para astronom biasanya menerbangkan balon ke atmsofer berikut peralatan untuk menyelidiki ruang angkasa. Ada balon yang mencapai ketinggian lebih dari 50 km lho!

Sumber: Universe Awareness Space Scoop

Ditulis oleh

Ratna Satyaningsih

Ratna Satyaningsih

menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister astronomi di Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung. Ia bergabung dengan sub Kelompok Keahlian Tata Surya dan menekuni bidang extrasolar planet khususnya mengenai habitable zone (zona layak-huni). Ia juga menaruh minat pada observasi transiting extrasolar planet.