Semburan Dahsyat di Angkasa

Reputasi lubang hitam itu buruk: terkenal karena menghisap apa saja dan apa yang dihisap itu tidak akan pernah terlihat lagi. Fakta yang kurang terkenal mengenai lubang hitam adalah mereka kadang-kadang menciptakan semburan dahsyat yang melontarkan materi. Para astronom baru saja menemukan dua semburan dahsyat semacam ini, dan keduanya memecahkan rekor!

Semburan dasyat yang ditemukan astronom. Kredit : ESO

Sebagian besar galaksi mempunyai lubang hitam di pusatnya. Begitu juga dengan Galaksi kita, Bimasakti. Lubang-lubang hitam ini bisa mencapai jutaan bahkan milyaran kali lebih berat daripada Matahari, tetapi ukurannya hanya sebesar bola keciiiiiil. Materinya dipak sepadat mungkin sehingga gaya gravitasinya sangaaaaaaat kuat — cukup kuat untuk bisa menelan cahaya dan mencegahnya lolos!

Lubang hitam dikenal karena kemampuannya menarik materi, dan seperti halnya air yang terhisap masuk ke saluran pembuangan, materi tersebut membentuk piringan di sekeliling lubang hitam saat ia menjadi santapan si lubang hitam. Karena piringan tersebut berputar semakin cepat dan bertambah cepat, piringan menjadi panas dan kemudian menyemburkan cahaya dan materi yang banyak sekali. Semburan yang menyilaukan ini seringkali dijumpai menyembur dari pusat-galaksi yang paling terang dan disebut quasar.

Salah satu dari semburan dahsyat yang baru ditemukan ini berada di tepi alam semesta yang telah kita kenal. Semburan yang satunya lagi melontarkan materi yang cukup untuk membuat 400 matahari setiap tahun dan sekitar 100 kali energi seluruh bintang di Galaksi Bimasakti digabungkan — benar-benar monster!

Fakta menarik: Lubang hitam bukan lubang sungguhan, dan merupakan lawan dari kosong. Dibandingkan obyek lain di alam semesta, lubang hitam mempunyai materi paling banyak dalam ruang terkecil. Yuk, kita buat model lubang hitang dengan UNAWE activity berikut dan cari tahu tentang monster misterius ini!

Sumber: Space Scoop Universe Awareness

Ditulis oleh

Ratna Satyaningsih

Ratna Satyaningsih

menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister astronomi di Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung. Ia bergabung dengan sub Kelompok Keahlian Tata Surya dan menekuni bidang extrasolar planet khususnya mengenai habitable zone (zona layak-huni). Ia juga menaruh minat pada observasi transiting extrasolar planet.