fbpx
langitselatan
Beranda ยป Debu Yang Berkilau di Angkasa

Debu Yang Berkilau di Angkasa

Debu itu butiran kotor yang tidak ada gunanya dan tidak ada tujuannya! Itu kan yang ada dalam benak kita ketika melihat debu dan kemudian membersihkannya? Tapi di ruang angkasa, debu merupakan bahan penting dalam pembentukan bintang.

Debu di Nebula Carina yang membentuk bintang baru. Kredit:ESO/APEX/T. Preibisch et al. (Submillimetre); N. Smith, University of Minnesota/NOAO/AURA/NSF (Optical)

Astronom sering berbicara tentang bintang sebagai bola gas raksasa, tapi di dalamnya terdapat banyak sekali debu. Sekarang, yuk lihat foto di halaman ini. Foto ini berasal dari sebuah area di ruang angkasa dimana bintang – bintang baru dilahirkan, dan dikenal dengan nama Nebula Carina. Bagian yang berwarna oranye merupakan obyek yang mengisi bagian terbesar di area itu – dan itu semua adalah DEBU!

Tidak seperti partikel gas, debu tidak hanya digunakan sebagai bahan bakar yang memberi tenaga bagi bintang. Tapi tanpa debu, bintang tidak akan lahir. Bintang hanya bisa terbentuk keika materi di area pembentukan bintang cukup rapat. Disinilah butiran-butiran debu memberi kontribusi yang sangat penting dalam membentuk sebuah bintang baru.

Ada beberapa area di Nebula Carina yang cukup rapat untuk membentuk bintang baru dalam beberapa juta tahun ke depan. Dan bintang masif yang ditemukan di Nebula akan dapat membantu mendorong gas dan partikel gas untuk bersatu.

Angin dari bintang masif yang ditemukan itu akan meniup materi untuk berkumpul – seperti dedaunan dan sampah yang tertiup angin di hari yang berangin. Bintang masif juga mengakhir hidupnya dalam ledakan yang sangat kuat yang dikenal sebagai ledakan supernova. Saat terjadi ledakan supernova, materi akan mendapat bantuan untuk segera terkumpul dan bintang baru pun bisa segera terbentuk!

Fakta menarik : Berat gabungan gas dan debu di Nebula Carina berkisar 140000 kali Matahari!

Sumber : Space Scoop Universe Awareness

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

9 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini

  • jadi pengen lihat sendiri ke langit……………nice artikel mbak Ivie………update terus artikel yg menarik ya

  • mba’ bikin artikel tentang bulan n bahaya2 nya dong? Soalnya aku percaya banget neil armstrong gak pernah sampai di bulan dan misi Nasa yang lain. katanya si akal2an AS buat ngalahin rusia pada perang dunia. coba aja search pake key “neil armstrong ke bulan hoax” ada ratusan artikel

  • @ivie

    nah loh liat tu foto baik2 mba ivie… Jelas2 sumber cahaya di bulan cuman 1 yaitu dr matahari doang. Nah napa bayangan neil ama pesawat gak sejajar lurus?

    N bukanya di bulan hampa ya? Kok benderanya berkibar si? Please reply

    • bendera berkibar kan sudah dijelaskan bahwa itu bendera dipasang pada tiang yg menyilang dan ketika tiang dipancang, tiang itu diputer hingga bendera bergetar dan berkibar.

      dan silahkan baca seluruh jawaban yg anda cari di http://www.clavius.org/

    • para pemercaya hoax kalau Apollo ga pernah mendarat di bulan memang soal bayangan yg katanya harus paralel. kalau nggak paralel berarti maka atinya ada 2 sumber cahaya yang membuat bayangan itu tidak sejajar.

      Kenapa bayangan ga sejajar? itu karena perspektif kita yang melihatnya. Perlu diingat yang sedang dilihat itu lokasi 3 dimensi yang diproyeksikan ke dalam foto 2 dimensi. Saat Matahari msih rendah dan bayangan panjang, obyek pada jarak yang berbeda akan tampak memiliki bayangan yang tidak sejajar. di Bumi juga gitu. Kalau diliat dari atas maka bayangan di citra Apollo akan tampak sejajar.