100 Hours of Astronomy di Gereja St. Stephanus Jakarta

Salah satu proyek global dari International Year of Astronomy 2009 (IYA 2009) adalah 100 Hours of Astronomy. Kegiatan yang diselenggarakan serentak di seluruh dunia pada tanggal 2 – 5 April 2009 ini adalah untuk memperingati 400 tahun Galileo melakukan pengamatan astronomi dan mengajak sebanyak-banyaknya publik untuk mengamati langit serta mengenal astronomi lebih dekat.

Pengamatan langit malam. kredit : Nee~ dan Geboy
Pengamatan langit malam. kredit : Nee~ dan Geboy

Bagi para pencinta astronomi, ini adalah momentum yang tepat untuk berbagi antusiasme dan kesenangan kita dengan publik. Dalam rangka turut berpartisipasi, kami menggelar ‘sidewalk’ astronomi ‘dadakan’ di lapangan parkir Gereja St. Stephanus, Cilandak, Jakarta Selatan. Kegiatan yang merupakan inisiatif pribadi ini benar-benar dadakan, diputuskan di saat-saat terakhir. Pasrah pada kondisi langit dan sambutan dari segelintir kaum muda aktivis gereja yang tertarik, maka walau dengan berbekal sebuah teleskop, Celestron Power Seeker 127, kami menikmati awal dari 100 Hours of Astronomy bersama-sama. Dimulai dari sekitar pukul 20.30 malam, pada awalnya kami mengalami keraguan karena kondisi alat yang tidak lengkap, ada beberapa sekrup pemegang badan teleskop yang hilang di saat terakhir melakukan pengamatan. Untungnya badan teleskop masiih bisa terkunci kencang walau dengan seadanya.

Malam itu,sebenarnya kondisi langit termasuk cukup cerah. Bulan setengah (half-moon) yang bersinar terang, 4 bintang paling terang di langit malam, yakni Sirius, Canopus, Alpha Centauri, dan terakhir Arcturus – yang sempat kami kira Jupiter-terlihat jelas. Termasuk juga 3 bintang paling terang dari rasi Salib Selatan (Crux) dapat dikenali. Sayangnya kondisi lapangan di lokasi pengamatan tidak cukup gelap. Selain lampu jalan dan lampu taman, pencahayaan dari bangunan di sekitarnya cukup menyumbangkan polusi cahaya yang mempersulit menentukan area yang cukup gelap untuk memasang teleskop dan mengganggu pengamatan.

Obyek langit pertama yang kami bidik untuk menarik perhatian publik sekitar tentu saja sang bulan, selain merupakan benda langit yang paling terang di langit dan paling mudah dilihat dengan mata telanjang. Akhirnya kami memasang tripod di area berbayang di balik pohon yang kerimbunannya berhasil menutupi bias cahaya dari lampu jalanan yang bersaing dengan cahaya sang bulan. Lokasi pengamatan yang tak lazim ternyata tak cukup menarik perhatian beberapa pengunjung gereja yang lewat di area parkir. Pendekatan aktif untuk mengajak publik melihat bulan baru berhasil menggugah rasa ingin tahu mereka. Dari obrolan dengan publik, ternyata hampir 100% nya bercerita bahwa ini pengalaman pertama mereka mengamati langit dengan teleskop. Bahkan tak sedikit yang baru kali ini benar-benar memperhatikan langit, bulan dan bintang yang indah karya agungNya. Ini fenomena menarik. Kami jadi bersemangat untuk mengilik rasa ingin tahu mereka terhadap astronomi yang pastinya barang baru.

ngamat.. ngamat. kredit : ~nee dan geboy
100 HA di Jakarta. ngamat.. ngamat. kredit : ~nee dan geboy

Setelah puas melihat bulan disertai obrolan-obrolan penuh rasa ingin tahu, giliran inisiatif publik yang meminta mencoba mengamati bintang. Sirius biru yang cantik sempat diintip sebentar. Namun tak lama kami berhasil mengenali Saturnus yang nyaris tepat berada di atas kepala sebagai obyek yang lebih menarik. Sebagian besar publik yang berkerumun menjadi sangat bergairah untuk bisa melihat si planet unik ini. “Geber aja Mas…!!!”, kata mereka. Bergantian mengintip di balik lensa disambung dengan pertanyaan-pertanyaan serta penjelasan dasar bagaimana membedakan planet dari bintang dan planet apa saja yang bisa kita amati dengan mata telanjang.

Obrolan tanya-jawab serta penjelasan semi-kuliah umum pun merambah makin luas. Bagaimana pemanfaatan ilmu astronomi yang disebut sebagai ‘The Queen of Science’ pada kebudayaan-kebudayaan kuno dan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, membuat mereka lega bahwa astronomi bukan ‘ilmu berat bagi yang pandai’ seperti yang umum dikira awam.

Malam kian larut tidak berhasil mengusir rasa ingin pulang mereka. Antusiasme dari beberapa para kaum muda akhirnya melahirkan ide untuk membuat klub astronomi setempat. Wow, siapa sangka idenya jadi bergulir dengan spontan dan cepat, klub astronomi tingkat paroki? Siapa takut?

Akhirnya, kami mencoba mengamati sebuah titik (bintang) kuning yang dikira sebagai Big Jupe . Walhasil, kami tidak berhasil membuktikan keraguan kami apakah bintang kuning tersebut Jupiter atau bukan (pada akhirnya kami tahu bahwa itu adalah Arcturus – setelah esoknya dicek pada software peta langit), karena lensa menjadi sulit terfokus dengan baik setelah kami menggeser tripod ke arah bangunan untuk mendapatkan bidang tangkap langit yang lebih baik. Cahaya lampu-lampu dari bangunan terbukti sangat mengganggu pengamatan. Silaunya bias lampu akhirnya menghentikan acara pengamatan. Di sini, kami berbagi isu terntang kampanye langit gelap (dark sky awareness campaign) yang sudah marak di seluruh negara maju. Bahwa, langit gelap harus dilindungi dan dipreservasi bersama, bagian dari benda cagar budaya dan alam (cultural and natural heritage). Kita semua bertanggung jawab atas polusi cahaya di kota terhadap kekayaan dan keindahan langit malam yang bisa terlihat maupun efek lingkungan hidup secara global. Dari situlah nenek moyang kita maupun generasi mendatang kita mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebudayaannya, serta untuk kemanusiaan itu sendiri.

Tengah malam sudah, kami berbenah, disertai antusiasme penantian untuk pengamatan berikutnya. Planetarium Jakarta dan HAAJnya, serta acara star party dari komunitas IndoSkygazer (ISG) di akhir bulan April ini menjadi tawaran alternatif bagi mereka yang ingin mengenal komunitas astronom amatir lain di Jakarta.

Antusiasme belum surut. 100 HA baru saja dimulai dan acara kita belum berakhir.

Puaskan jam astronomi kita semua dan Selamat menikmati !

Ditulis oleh

Priscilla Epifania

Dosen arsitektur yang dari kecil sudah ngidam sama langit dan segala keindahannya. Walaupun bidang keahliannya pada urbanisme dan sejarah arsitektur, tetapi tidaklah berarti meninggalkan kecintaan pada astronomi. Sejak 2008, is juga melakukan studi mengenai Observatorium Bosscha terkait sebagai scientific heritage yang disampaikan pada simposium IAUS260 setelah Pembukaan IYA 2009 di Unesco HQ, Paris.

Gabriel Iwan

Lulusan magister astronomi ITB yang kini aktif di dunia pendidikan ini, aktif pula menulis artikel-artikel mengenai astronomi di wikipedia Indonesia, dalam upaya menyumbangkan pengetahuannya. Gabriel atau yang biasa dipanggil Iwan atau Gaby ini memiliki keahlian dalam hal instrumentasi dan pengamatan.

5 thoughts on “100 Hours of Astronomy di Gereja St. Stephanus Jakarta

  1. enaknya punya teleskop adalah kita bisa menarik minat dan perhatian masyarakat yang lewat di dekat tempat pengamatan dan kebetulan melihat.

    selamat buat pengamatannya 🙂

  2. Hmmm, wah jadi pingin ikutan ngeliat pemandangan di luar sana. Pastinya akan sangat bagus tuh, hanya saja banyak manusia yang terlalu sibuk dengan kehidupannya sehingga mereka melupakan keindahan yang ada di langit.
    Lanjutkan pengamatan dan artikelnya yah, semoga dengan semakin banyaknya orang yang tahu dan ingin mengetahui keindahan alam di luar sana akan menjadikan manusia (pada umumnya) menjadi semakin peka terhadap kondisi lingkungan dimana ia berada.

    Salam Astronomi (^-^)V

Tulis komentar dan diskusi...